Tuesday, 27 January 2015

GUDEG ASU

GUDEG ASU

     Di kawasan Jalan Wirobrajan,deket perempatan Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ada warung lesehan yg menjual Gudeg. Warung ini tidak pakai nama, tapi pengunjungnya banyak yang menamakan warung Gudeg Asu.
     Asu adalah bahasa Jawa yg berarti anjing. Bukan berarti memakai daging anjing, tapi orang yg keluar warung selalu mengumpat "Asu" karena harganya mahal, diluar rata-rata haga gudeg. Warung ini sudah tutup, pemiliknya sudah meninggal tanpa ada penerusnya.
     Itulah kenangan sisalah satu sudut Kota Yogya. di setiap lorong jalan di Yogya ada penjual gudeg. Pusatnya Malaiboro, warung lesehan menjamur dg berbagai jenis makanan. tapi bagi pendatang sebaiknya memang tanya dulu harganya agar tidak digebuk.
     Malioboro adalah maskotnya Yogya,dari pagi hingga malam tak pernah sepi. becak, andong, mobil, motor harus merayap jika melewatinya.Trotoarnya penuh pedagang kaki lima yg buka dari pagi sampai malam. setelah itu ganti warung lesehan sampai pagi.
     Berbagai kultur ada di Malioboro karena yg datang kesitu orang dari berbagai daerah bahkan manca negar. seniman sampai pengamen ada. dagangan PKL nya sebenarnya juga itu-itu saja,berbagai kerajinan, pakaian dan semacamnya. Tapi orang merasa tidak lengkap kalau datang ke Yogya tidak mampir ke Malioboro.
     Malioboro sebenarnya nama jalan, tapi karena saking bekenya sebagai pusat perbelanjaan rakyat, fungsi sebagai jalan malah hampir tak kelihatan. Fungsi sosial budayanya yang mempertemukan  berbagai etnis justru lebih menonjol.
     Banyak lagi keistimewaan Yogya. Keraton dg segala atributnya jelas mrpkan pusat kebudayaan.Pohon beringin kembar, dan alun-alun begitu akrab dg rakyat dan mnjd tempat kumpul2 kaum tua dan muda.
     'Aksesoris' Yogya seperti gunung merapi dan Laut selatan oleh sebagian masyarakat juga diyakini melengkapi keistimewaan keraton dari sudut yang lain. imbasnya, melahirkan suasana yang nyaman, adem dan ayem. konon orang Yogya itu senang tidur siang, ini indikasi adanya ketentraman hidup.
     Sebagi kota Pelajar, Yogya memiliki pusat2 pendidikan. Berbagai macam sekolah sampai perguruaan tinggi terkemuka ada di Yogya. mahasiswa/pelajar datang dari berbagai daerah bahkan manca negara. Suasana pendidikan amat terasa kental. Yogya buka saja kota pelajar tapi juga kota terpelajar. Banyak orang yg sdh pernah hidup di Yogya tdk mau meninggalkannya. Yogya seperti memiliki magnet.
     Dulu Yogya pernah mnjd kota Sepeda, krn ribuan sepeda setiap hari memadati jalan. byk pejabat dari berbagai daerah pernah merasakan bersepeda di Yogya saat masih kuliah. satu2nya lampu pengatur lalu lintas di tugu mjd saksi.
     Saat ini nyala lampu masih diatur oleh polisi, belum otomatis. begitu sabar pak polisi menunggu para pengayuh sepeda dan becak dari satu sisi melintas, baru setelah itu nyala lampu berganti. Byur...ratusan sepeda dari sisi yg lain bergerak bersama seperti laron.
     Tapi masyarakat Yogya jg manusia biasa, mereka tdk bisa menahan laju modernisasi. sepeda motor kini ganti memacetkan jalan setiap hari.Bangunan tua-bangunan tua telah berganti dg bangunan modern bertingkat tinggi. Modernisasi Yogya telah menyentuh seluruh segi kehidupan.
     Namun demikian kecintaan masyarakat thdp Keraton dan Sultan berikut budayanya tetap tdk berubah sampai sekarang. Karena itu lah mereka mati-matian mendambakan Sultan Hamengku Buwono X tetep mjd Gubernur tanpa dipilih karena menganggap apa yang ada di Yogya itu sesunggguhnya milik Sultan. Rakyat tidak rela jk rajanya dilucuti, hanya dijadikan simbol.
     Tapi tidak ada yg bisa menjamin Yogya akan terus mnjd magnit yg menjanjikan ketenangan dan kenyamanan jiwa.Juga tdk bisa dijamin masih memiliki daya tarik untuk dikunjungi sekedar bernostalgia. Tidak ada lagi hubungan batin antara rakyat dan pemerintah. Yogya akan kehilangan pamornya.
     Itu jika usulan pemerintah untuk melaksankan pemilukada di setujui DPR. Dampaknya Indonesia bisa bercabik2 krn jika rakyat Yogya memilih Referendum, kerajaan-kerajaan nusantara jg akan tertantang untuk mint merdeka. Pendukung Yogya itu dari sabang sampai merauke,buka sekedar sekretariat gabunga parpol.
    Dulu Pangeran Mangkubumi mbalelo (membangkang) dari kerajaan Kasunanan Surakarta juga karena kecewa pd pemerintahan. Dia keluar dari keraton dan mendirikan keraton sendiri drngan gelar Sultan Hamengku Buwono I. sejak itu Kasultanan Yogyakarta menjadi negar merdeka.

No comments:

Post a Comment