Friday, 6 February 2015

LUPAKAN HUJAN

LUPAKAN HUJAN



Akan aku lupakan hujan yang
Tetesannya meninggalkan noda pada bunga-bunga
Juga hatimu, hingga mengabut dalam jendela
Dan mengembun entah di mana

Akan aku lupakan hujan yang
Menggenangi hari-hari kita
Yang tersisa hanya tanggul
Tempat Nuh mendaratkan bahtera
Namun meluap juga

MASIH TERASA GOYANGAN TEMPEMU DLL

MASIH TERASA GOYANGAN TEMPEMU DLL

     Tak ada hujan tak ada angin, isu kudeta merebak. Sejauh mana tingkat kebenaranya, belum jelas. Pers tidak mem-blow up berita ini, rakyat juga santai saja, malah bertanya-tanya kudeta yang mana lagi ? Itu bukti bahwa isunya lemah, tidak menarik. Kudeta itu pelu syarat, misalyna negara sudah dalam bahaya, rakyat cemas karena pemerintah tidak bisa dipercaya lagi, atau ada perseteruan antara kepala negara dan tentara. Pasalnya, kudeta itu biasanya dilakukan tentara, seperti Portugal, Cile, Liberia, dan Thailand. Pernah pula Pakistan ketika Jenderal Zia Ul Haq menggulingkan Presiden Ali Bhutto. Juga saat Kolonel Moammar Khadaffi menggulingkan Raja Idrus di Lybia pada usia sangat belia.
     Di Indonesia tidak ada tanda seperti itu. Hanya berita pepesan kosong. Indonesia tidak punya tradisi kudeta. "Yang mau kudeta juga apa, wong tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bisa saja itu digerakkan pemerintah sendiri." Lagi pula mana ada jenderal TNI yang menampakkan gelagat kudeta. Semuanya baik, mereka orang-orang yang taat pada sumpah prajurit, bukan tentara yang haus kekuasaan atau kekayaan. Mereka taat untuk tinggal di barak. Kalau ada yang berkelahi mungkin kasuistis, itu pun tentu bukan jenderalnya, tapi bawahanya. Seperti kemarin sabtu (24-3-2013) terjadi penyerangan di lapas Cebongan Sleman Yogyakarta, hanya gesekan antar aparat bawahan. TNI AD justru sibuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat seperti operasi katarak gratis yang bisa menolong banyak orang.
     Di Indonesia tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bahwa antara pemerintah dan rakyat seperti air dan minyak, tidak menyatu, itu benar kita rasakan. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat spektakuler untuk ukuran sekarang. lebih 6 persen. Tapi rakyat tidak merasa apa-apa, malah harga-harga naik. Lantas siapa yang menikmati ?. Sampai saat ini harga daging sapi belum kembali normal, harga bawang putih naik gila-gilaan, harga cabe juga merambat naik lagi meski tidak sampai Rp 100.000 kilogram seperti dulu. Tempe juga baru saja mengguncang pasar karena kelangkaan kedele.
     Menurut catatan, kebutuhan bawang putih Indonesia sebanyak 400.000 ton setahun, dan hanya 5 persen produk sendiri, selebihnya impor. Masih banyak komoditas yang rawan dari kongkalingkong karena kita tidak bisa mencukupi sendiri, misal gandum, susu, gula bahkan beras. Rakyat tidak mengerti istilah kartel, tidak tahu monopoli. Rakyat juga tidak habis mengerti logika seorang presiden partai politik terlibat korupsi daging impor. Itu membingungkan rakyat tapi bisa terjadi di Indonesia. Pemikiran rakyat itu sederhana, sandang pangan cukup, pendidikan, kesehatan, keamanan terjamin, petani tidak kesulitan pupuk, lahan pertanian aman dari jarahan dan semacamnya......

STATUS PALSU

STATUS PALSU

     PADA awal 1950-an, uang kertas Indonesia pernah dipotong nialainya separuh. sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta tentu mengetahui rencana kebijakan ini. Tetapi ketika kebijakan itu terapkan, istetinya mengeluh, kenapa Bung Hatta tidak memberitahunya terlebih dahulu. Hatta lalu menjelaskan bahwa rahasia negara wjib dijaga, dan kepentingan negara harus di atas kepentingan keluarga.
     Demikianlah kisah yang ditulis Rosihan Anwar dalam In Memoriam (2002: 78-79). Bagi kita, kisah Bung Hatta di atas mungkin terkesan terlalu idealis, karena sulit dicari padnananya di zaman sekarang. Kini banyak orang menjadi pejabat, bersumpah atas nama tuhan, akan mendaahulukan kepentingan negara diatas kepetingan pribadi dan golongan, tetapi yang dia lakukan justru sebaliknya.
     Mengapa ? karena banyak orang sekarang, memburu jabatan hanya untuk mendapatkan kekayaan dan kehormatan. Mereka ini tidak sepenuhnya salah, karena sejak awal, mereka memang membeli jabatan itu. entah dengan membagi-bagikan uang kepada calon pemilih, entah membayar sekian ratus juta atau miliar kepada orang calo jabatan, atau memberi setoran rutin kepada atasan yang mengangkatnya.
     Akibatnya, jabatan ibarat barang daganganm yang dieli dengan perhitungan untung rugi. semakin tinggi jabatan itu, semakin mahal pula harganya. Konon, seperti halnya membeli barang, membeli jabatan juga tidak harus bayar tunai. Kredit alias berhutang juga bisa. Misalnya, ada pengusaha yang mau memodali. Nanti kalau duah menjabat, tinggal menyicil, dengan memuluskan proyek-proyek untuk si pengusaha.
     adapun orang yang sudah menjabat, dan ingin memerpanjang jabatanya, ia bisa saja memainkan uang negara. anggaran negara diatur sedemikian rupa untuk biaya foto dirinya di baiho dan iklan di media cetak dan elektronik. Uang negara juga disumbangkan ke lembaga ini dan itu. "Saya sudah bantu kalian tolong mengerti saat pemilu nanti," katanya. Seolah uang itu miliknya,bukan milik rakyat.
     Tidak hanya itu. Untuk mendapatkan jabatan, konon orang juga perlu bantuan dukun atau penasehat spiritual, yang sudah tentu perlu dibayar. Kadang kala si penasehat spiritual itu mengajurkan agar si calon sembahyang, puasa, membaca doa-doa atau bahkan bertapa. Tujuannya jelas bukan untuk pahala di akhirat atau berkenan Tuhan, melainkan untuk pahala ekonomi dan politik alias jabatan.
     Demikianlah jabatan akhirnya tidak lebih dari komoditas yang dijual belikan di pasar politik. Ia bukan lagi amanah yang diberikan masyarakat kepada seseorang, melainkan hasil transaksi ekonomis belaka. Karena itu, naif kiranya mengharapkan pelayanan dan pengabdian dari seorang pejabat semacam ini. Disisi lain, kita juga tidak bolehmmarah padanya, jika kita sendiri menerima uang jual-beli yang ia berikan.
     Dalam suasana yang demikian, banyaklah manusia yang kemaruk jabatan, sebab yang tampak bukan lagi tanggung jawab yang berat, melainkan kenikmatan dan kehormatan. Untuk menjadi terhormat dan bermartabat , duduklah di jabatan tertentu, meskipun harus membeli. Padahal, seharusnya logika ini dibalik. Jadilah orang yang terhormat dan bermartabat, sehingga kau layak diangkat jadi pejabat.
     Karena logika jabatan sudah terbalik, maka tidak sedikit orang di zaman sekarang yang menggantungkan kehormatan dirinya pada jabatan. Karena itu, dia berburu jabatan ini dan itu, rangkap sana, rangkap sini, meskipun tugas-tugasnya tidak bisa dilaksanakan dengan baik. Yang penting disebut sebagai ketua ini, sekertaris itu, dan bila tiba saat yang tepat, bolehlah fotonya tampil di media, baliho dan spanduk.
     Biasanya orang seperti itu suatu saat ketika tidak lagi menjabat apa-apa, cenderung akan dilupakan orang. Apalagi jika ketika menjabat, dia sombong, menindas dan menyakiti orang lain. Ia ibarat bunga plastik. Semula orang terpesona melihat keindahannya, tetapi setelah mengetahui kepalsuannya, orang akan merendahkannya. Begitulah martabat pejabat bunga plastik indah tetapi palsu !

OBROLAN ANGKRINGAN

OBROLAN ANGKRINGAN

     OBROLAN anak laki-laki bungsu musisi ahmad Dhani, abdul Qodir Jaelani alias Dul, mengantarkan pacarnya ke Bogor, Jawa Barat, pulang pada sabtu (7/9), dan berakhir dengan cerita tragis, tak hanya menjadi obrolan ibu-ibu di warung sayur. Tapi, sehari setelah kejadian itu, cerita itu juga mampir ke angringan kami nongrong bersama tetangga komplek perumahan . obrolan tambah panjang, Tema kecelakaan yang menimpa Dul di kilometer 8 Tol Jagorawi, arah ke Jakarta, saat mengendarai mobil Mitsubisi Lancer Evo X dengan kecepatan tinggi, lalu oleng dan menabrak pembatas jalan hingga menyebrang ke jalanan itu mengakibatkan enam orang meninggal dan sembilan orang dirawat di rumah sakit.
     Mereka tak cukup mengerti mengapa anak baru berusia 13 tahun dengan leluasa keluar rumah membawa mobil dan bebas kencan dengan kekasihnya. Usia yang setara dengan pelajar sMP kelas satu. Bagi kebanyakan orangtua, anak usia itu sangat tidak lazim untuk melakukan kencan. Meskipun memang ada banyak surve yang menyebutkan banyak anak remaja telah terjebak pada pergaulan seks bebas.
     Keherananan itu terjawab dengan adanya konfirmasi keluarga Dhani yang menyebutkan pihak keluarga tidak pernah mengizinkan Dul keluar rumah membawa mobil sendiri. Tapi, pada malam naas itu, sang sopir yang biasa mengantarkan Dul sedang libur. Tapi, Diskusi itu tetap saja tidak membenarkan alasan tersebut. "Ah bisa saja itu alibi keluarga," komentar teman sebelah. "Itu alasan agar Dul atau Dhani bebas dari jeratan hukum."
     Seperti diketahui, belakangan Dul dijerat dengan Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Statusnya pun menjadi tersangka. Saat teman memberi prespektif lain soal bagaimana Dhani memperlakukan anaknya setelah bercerai dengan Maia Setianti, ibu kandung Dul. Menurutnya, Setiap orang tua yang hidup dengan gelimang harta, sangat mudah terjebak untuk memberi banyak fasilitas kepada anak-anak. Terlebih waktu yang disediakan orangtua, ayah dan ibu, untuk anak-anak sangat sedikit. Bahkan untuk sekedar bertanya sudah salat atau belum, sudah makan atau belum, PR sudah dikerjakan atau belum pun tak ada.
     Orangtua dengan aktivitas padat di luar rumah lebih banyak menjanjikan hadiah ketimbang mengajarkan salat atau besedekah. "Barangkali itu bentuk kasih sayang, atau kompensasi karena tidak bisa bersama dengan anak-anak. Sang teman tidak sedang membela Dhani, tapi melihat kenyataan bahwa manusia lebih mencintai dunia, harta, istri, anak-anak, jabatan, ketimbang mencintai Allah SWT. Buktinya, banyak anak bupati, walikota, gubernur, dan bahkan menteri, berprilaku sama seperti anak Dhani. Artinya, orang miskin tak perlu heran dengan yang demikian, karena fitrah orang memiliki jabatan dan belimpah harta akan cenderung demikian.
     Mengapa banyak orang melakukan korupsi ? Satu dari sekian banyak alasan, bisa jadi karena anak. Mereka ingin membahagiakan anak dnegan dengan banyak harta. Atau ketakutan anak akan hidup sengsara kelak kalau tak punya banyak harta. Mereka yang istikomah menempatkan cinta dunia setelah cinta kepada yang pemilik jiwa, hanyalah sebagian kecil. Tidak banyak jumlahnya.
     Soal cinta yang berlebihan pada anak-anak, Allah telah mengingatkan kita dalam peristiwa Nabi Ibrahim dan anak Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail. Padahal, Ibrahim sedang sangat bergembira setelah beratus tahun menunggu kelahiran sang anak. Allah kemudian menggantikannya dengan seekor domba, karena ketaatan keduannya atas perintah Allah. Peristiwa itu bisa dimaknai bahwa Allah tak menginginkan manusia terlena dengan yang dimilikinya dan melupakan Tuhan, karena yang demikian akan membawa dalam kesesatan.

TOILET SAKSI BISU

TOILET SAKSI BISU

     TOILET fungsinya macam-macam. yang utama tentu untuk buang hajat, tapi bisa juga untuk berdandan atau ganti pakaian, malah bisa untuk bercinta seperti sepaang artis yang vidionya pernah beredar. Yang tidak kalah unik bisa untuk transaksi. Yang terakhir ini sekarang lagi ramai, banyak tanggapan tapi ada pula sanggahan.
     Kisah bgini. Rabu 18/9/2013lalu Komisi III DPR mengadakan uji kepatutan dan kelayakan calon hakim agung. Salah seorang peserta, Sudrajat Dimyati, selesai mendapatkan pertanyaan bergegas ke toilet. Tidak lama kemudian anggota Komisi III Bachrudin Nasori dari FPKB menyusul dan bertemu di toilet. Keduanya berbisik-bisik, lantas Sudrajat menyerahkan sesuatu kepada Bachrudin. Keduanya lantas keluar toilet beriringan.
     Ketika wartawan menanyakan kepada Sudrajat, hakim tinggi di Pontianak ini berlagak pilon, mengaku tidak melobi siapapun. Sebaliknya Bachrudin mengelak dengan mengatakan ia baru saja datang dan sejak pagi tidak ikut rapat dengan Komisi III. Dia lupa bahwa pertemuannya dengan Sudrajat 'diintip' seorang wartawan. Komisi III pun ribut, uji kelayakan dan kepatutan berikutnya ditunda dan pimpinan minta klarifikasi pada Sudrajat dan Bachrudin.
     Dari Komisi Yudisial (yang menyeleksi pertama calon hakim agung) didapat informasi bahwa salah satu anggota Komisi III yang menyeleksi calon hakim agung pernah menjadi pialang calon hakim agung dengan menawarkan uang miliaran rupiah (Kompas 19/9/2013). Rupanya Sudrajat dan Bachrudin tidak teliti, sekarang media masa semakin banyak bahkan tak terbilang lagi apakah yang cetak, elektronik maupun maya. Belum termasuk jejaringan sosial seperti twiter dan semacamnya.
     CCTV juga ada dimana-mana. Mereka pasang mata, sanggota dewan membuka file gambar porno saat rapat saja bisa dicolong gambarnya. Untungnya para para kuli disket ini punya naluri sama, membela rakyat dan melawan yang batil. Tentu pengusaha medianya juga dibela meski terpaksa.
     Tapi itu urusan Komisi III apakah bisa mengungkapkan kejanggalan ini atau tidak, entahlah. Sudah sering Komisi III melakukan uji kepatutan dan kelayakan, apakah ini peristiwa yang pertama kita juga tidak tahu. Kalau saja toilet itu bisa berbicara mungkin juga akan banyak cerita terungkap.

VIRUS VICKYNISASI

VIRUS VICKYNISASI

     KESEDERHANAAN adalah pumcak kecanggihan ini adalah terjemahan dari simplicity is the ultimate sophistication. Dengan kata lain, 'yang sederhana itulah yang paling canggih'. Mohon maaf menggunakan ungkapan bahasa Inggris, bukan karena ingin sok-sokan agar terkesan intelek seperti Vicky Prasetyo (VP).tapi frase tersebut memang sangat indah dan sarat makna. Ungkapan itu disampaikan oleh Leornardo da Vinci (1452-1519), seorang genius Italia yang dikenal dunia sebagai pelukis, pematung, dan arsitek. Salah satu lukisannya yang masyur adalah Mona Lisa. Ia juga dikenal dunia sebagai anatomi dan astronomi.
     Baiklah saya tidak ingin berpanjang lebar tentang da Vinci, tapi tentang frase diatas berkaitan dengan fenomena berbahasa VP yang membuat ngakak banyak orang didunia maya. Harus diakui fenomena itu sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan kita dengan intensitas bervariasi, dari yang ringan sampai tingkat paling parah seperti kasus VP. Kita mengamati gejala orang yang ingin dinilai cerdas, intelek dan berpendidikan tinggi dengan memilih kata-kata yang tinggi.
     Mari kita cermati pilihan kata VP : kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi. Kata-kata tersebut menjelaskan konsep yang tidak sederhana. Misalnya, kata kontroversi adalah konsep yang menjelaskan suatu perkara yang menimbulkan perdebatan serta pro dan kontra. Konspirasi adalah istilah yang menjelaskan tentang persekongkolan jahat untuk mencelakaan seseorang atau kelompok orang.
     Meluhat konteks wawancara VP dengan sebuah stasiunTV yang sekarang ramai diperbincangkan, jelas istilah kontroversi dan konspirasi tidak tepat digunakan. Kata-kata tersebut muncul secara sadar atau tidak sadar untuk mengesankan pendengar bagwa dia berpendidikan. Nah fenomena seperti ini sering kita temukan, bahkan dalam forum resmi seperti seminar, konferensi, dan diskusi ilmiah.
     Kita seringkali merasa geli dalam suatu seminar pada sesi tanya jawab, peserta berebut ingin bertanya.Saat diberikan kesempatan bertanya, seorang penanya berbicara panjang lebar, kesana kemari dan nyerempet sana sini. Ketika pada akhirnya moderator meminta mempersingkat dan langsung pada petanyaan, eh tenyata penanya tadi juga tidak tahu apa yang mau ditanyakan.
     Peristiwa seperti itu adalah contoh seseorang yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang sesuatu hal di kepalanya, tapi langsung bebicara mengumbar kata-kata. Akibatnya, sementara ia berbicara, pikirannya mencoba merangkai kata untuk membuat kalimat yang bermakna. Kalimat yang dihasilkan justru keluar dari konteks pembicaraan, bahkan sering kali absurd. Celakanya, apa yang keluar dari mulut sudah tidak bisa di-delete. Penanya yang cerdas justru adalah yang bisa menyampaikan gagasan dengan kalimat sederhana dan difahami khalayak. Singkatnya, jelas dan bernas. Simplicity is the ultimate sophistication.
      Yang paling parah adalah orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Berbahaya sekali kalau praktik pendidikan kita dipenuhi oleh kelompok manusia seperti ini. Produk dari pendidikan seperti ini adalah VP. Menjadi orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Buktinya, selain kata-kata yang di luar konteks, VP juga menyebutkan kata yang tidak jelas maksudnya seperti 'mempertakut', statusisasi', dan istilah Inggris dangan tata bahasa ngawur seperti 29 my age, open mine, I am birthday in Krawang Asih city. hehehe ! Supaya idak pusing mari kita 'ngakakisasi'. Semakin lucu aja negeri ini.

Sunday, 1 February 2015

APEL DAN WANITA

APEL DAN WANITA

      Awal pekan lalu, pemerintah mengumumkan larangan memperdagangkan apel Amerika jenis Granny Smith dan Gala (Big B) produksi Bidart Bros karena mengandung bakteri Listeria monocytogenes yang berbahaya. Bakteri ini dapat mengakibatkan infeksi serius, demam tinggi, mual, sakit kepala, sakit perut, diare dan keguguran bagi wanita hamil. Dalam kasus tertentu, ia bisa mengakibatkan kematian.
       Buah apel memang indah, memancing selera siapa pun yang melihatnya. Kandungan gizi dan seratnya juga sangat bermanfaat untuk kesehatan. Ada yang bilang, makan satu apel sehari, akan membuat jantung sehat. Begitu pula, pria mana yang tak terpesona dengan wanita jelita? Tiap manusia normal, pasti menyukai paras yang elok dan indah. Tuhan pun Maha indah, dan menyukai keindahan. Namun keindahan itu tidak selalu asli dan sejati. Ada yang indah kulitnya, tetapi busuk isinya, seperti apel yang terkontaminasi bakteri. Ada pula yang indah tetapi palsu, seperti bunga plastik. Yang baik tentu adalah yang asli, yang luar-dalam cantik, seperti buah apel yang tampak segar, dimakan terasa lezat dan mengandung banyak gizi, atau seperti wanita yang cantik tubuhnya dan mulia akhlaknya. Sayang, di dunia ini, yang tampak kasat mata tidak selalu sama dengan isi yang tersembunyi, lebih-lebih terkait perilaku manusia yang memang pandai bersandiwara.
      Padahal, yang dapat kita lihat adalah yang tampak, sementara untuk mengetahui isi yang tersembunyi perlu perhatian yang lebih mendalam. Akibatnya, orang gampang tergoda dengan yang tampak, hingga terjerumus ke jurang kepalsuan. Termasuk dalam kerumitan ini adalah perkara hukum. Salah satu buktinya, di Indonesia muncul istilah ‘kriminalisasi’, yakni orang baik dituduh pihak tertentu sebagai kriminal. Akibatnya, muncul kesan, hukum seolah tak bisa menetapkan dengan tegas dan lugas, mana yang benar dan mana yang palsu. Bahkan hukum seolah hanyalah permainan catur di tangan orang-orang kuat dan berkuasa.
      Padahal, kata ‘hukum’ adalah serapan dari bahasa Arab, yang sarat makna. Hukum bisa berarti aturan, bisa pula kekuasaan. Dalam bahasa Arab, penguasa adalah al-hâkim, orang yang menegakkan hukum. Kata hukum juga seakar dengan kata hikmah, artinya kebijaksanaan (wisdom). Orang bijak disebut al-hakîm. Karena itu, jika hukum tidak lagi mengandung hikmah, maka ia kehilangan isi yang sejati. Dengan demikian, perjuangan moral manusia adalah usaha memelihara dan mewujudkan kebaikan kulit dan isi. Ketika hanya kulit yang dipercantik, sementara isinya rusak, maka manusia telah menipu dirinya sendiri dan orang lain.
     Untungnya, manusia diberi hati nurani oleh Tuhan, yang dapat mendeteksi kebenaran laksana intuisi sang isteri, yang dapat menangkap sinyal walau hanya dari satu kata. Alhasil, silahkan mendeteksi sendiri dengan hati nurani, apakah apel di depan gedung KPK itu sama hakikatnya dengan apel Amerika yang kini dilarang beredar di tanah air, atau sebaliknya? Lalu, mengapa sampai hari ini belum ada tindakan tegas dari presiden sebagai al-hâkim, sang penguasa?