VIRUS VICKYNISASI
KESEDERHANAAN adalah pumcak kecanggihan ini adalah terjemahan dari simplicity is the ultimate sophistication.
Dengan kata lain, 'yang sederhana itulah yang paling canggih'. Mohon
maaf menggunakan ungkapan bahasa Inggris, bukan karena ingin sok-sokan
agar terkesan intelek seperti Vicky Prasetyo (VP).tapi frase tersebut
memang sangat indah dan sarat makna. Ungkapan itu disampaikan oleh
Leornardo da Vinci (1452-1519), seorang genius Italia yang dikenal dunia
sebagai pelukis, pematung, dan arsitek. Salah satu lukisannya yang
masyur adalah Mona Lisa. Ia juga dikenal dunia sebagai anatomi dan
astronomi.
Baiklah saya tidak ingin berpanjang lebar tentang da Vinci, tapi tentang frase diatas berkaitan dengan fenomena berbahasa VP yang membuat ngakak banyak orang didunia maya. Harus diakui fenomena itu sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan kita dengan intensitas bervariasi, dari yang ringan sampai tingkat paling parah seperti kasus VP. Kita mengamati gejala orang yang ingin dinilai cerdas, intelek dan berpendidikan tinggi dengan memilih kata-kata yang tinggi.
Mari kita cermati pilihan kata VP : kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi. Kata-kata tersebut menjelaskan konsep yang tidak sederhana. Misalnya, kata kontroversi adalah konsep yang menjelaskan suatu perkara yang menimbulkan perdebatan serta pro dan kontra. Konspirasi adalah istilah yang menjelaskan tentang persekongkolan jahat untuk mencelakaan seseorang atau kelompok orang.
Meluhat konteks wawancara VP dengan sebuah stasiunTV yang sekarang ramai diperbincangkan, jelas istilah kontroversi dan konspirasi tidak tepat digunakan. Kata-kata tersebut muncul secara sadar atau tidak sadar untuk mengesankan pendengar bagwa dia berpendidikan. Nah fenomena seperti ini sering kita temukan, bahkan dalam forum resmi seperti seminar, konferensi, dan diskusi ilmiah.
Kita seringkali merasa geli dalam suatu seminar pada sesi tanya jawab, peserta berebut ingin bertanya.Saat diberikan kesempatan bertanya, seorang penanya berbicara panjang lebar, kesana kemari dan nyerempet sana sini. Ketika pada akhirnya moderator meminta mempersingkat dan langsung pada petanyaan, eh tenyata penanya tadi juga tidak tahu apa yang mau ditanyakan.
Peristiwa seperti itu adalah contoh seseorang yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang sesuatu hal di kepalanya, tapi langsung bebicara mengumbar kata-kata. Akibatnya, sementara ia berbicara, pikirannya mencoba merangkai kata untuk membuat kalimat yang bermakna. Kalimat yang dihasilkan justru keluar dari konteks pembicaraan, bahkan sering kali absurd. Celakanya, apa yang keluar dari mulut sudah tidak bisa di-delete. Penanya yang cerdas justru adalah yang bisa menyampaikan gagasan dengan kalimat sederhana dan difahami khalayak. Singkatnya, jelas dan bernas. Simplicity is the ultimate sophistication.
Yang paling parah adalah orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Berbahaya sekali kalau praktik pendidikan kita dipenuhi oleh kelompok manusia seperti ini. Produk dari pendidikan seperti ini adalah VP. Menjadi orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Buktinya, selain kata-kata yang di luar konteks, VP juga menyebutkan kata yang tidak jelas maksudnya seperti 'mempertakut', statusisasi', dan istilah Inggris dangan tata bahasa ngawur seperti 29 my age, open mine, I am birthday in Krawang Asih city. hehehe ! Supaya idak pusing mari kita 'ngakakisasi'. Semakin lucu aja negeri ini.

Baiklah saya tidak ingin berpanjang lebar tentang da Vinci, tapi tentang frase diatas berkaitan dengan fenomena berbahasa VP yang membuat ngakak banyak orang didunia maya. Harus diakui fenomena itu sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan kita dengan intensitas bervariasi, dari yang ringan sampai tingkat paling parah seperti kasus VP. Kita mengamati gejala orang yang ingin dinilai cerdas, intelek dan berpendidikan tinggi dengan memilih kata-kata yang tinggi.
Mari kita cermati pilihan kata VP : kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi. Kata-kata tersebut menjelaskan konsep yang tidak sederhana. Misalnya, kata kontroversi adalah konsep yang menjelaskan suatu perkara yang menimbulkan perdebatan serta pro dan kontra. Konspirasi adalah istilah yang menjelaskan tentang persekongkolan jahat untuk mencelakaan seseorang atau kelompok orang.
Meluhat konteks wawancara VP dengan sebuah stasiunTV yang sekarang ramai diperbincangkan, jelas istilah kontroversi dan konspirasi tidak tepat digunakan. Kata-kata tersebut muncul secara sadar atau tidak sadar untuk mengesankan pendengar bagwa dia berpendidikan. Nah fenomena seperti ini sering kita temukan, bahkan dalam forum resmi seperti seminar, konferensi, dan diskusi ilmiah.
Kita seringkali merasa geli dalam suatu seminar pada sesi tanya jawab, peserta berebut ingin bertanya.Saat diberikan kesempatan bertanya, seorang penanya berbicara panjang lebar, kesana kemari dan nyerempet sana sini. Ketika pada akhirnya moderator meminta mempersingkat dan langsung pada petanyaan, eh tenyata penanya tadi juga tidak tahu apa yang mau ditanyakan.
Peristiwa seperti itu adalah contoh seseorang yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang sesuatu hal di kepalanya, tapi langsung bebicara mengumbar kata-kata. Akibatnya, sementara ia berbicara, pikirannya mencoba merangkai kata untuk membuat kalimat yang bermakna. Kalimat yang dihasilkan justru keluar dari konteks pembicaraan, bahkan sering kali absurd. Celakanya, apa yang keluar dari mulut sudah tidak bisa di-delete. Penanya yang cerdas justru adalah yang bisa menyampaikan gagasan dengan kalimat sederhana dan difahami khalayak. Singkatnya, jelas dan bernas. Simplicity is the ultimate sophistication.
Yang paling parah adalah orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Berbahaya sekali kalau praktik pendidikan kita dipenuhi oleh kelompok manusia seperti ini. Produk dari pendidikan seperti ini adalah VP. Menjadi orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Buktinya, selain kata-kata yang di luar konteks, VP juga menyebutkan kata yang tidak jelas maksudnya seperti 'mempertakut', statusisasi', dan istilah Inggris dangan tata bahasa ngawur seperti 29 my age, open mine, I am birthday in Krawang Asih city. hehehe ! Supaya idak pusing mari kita 'ngakakisasi'. Semakin lucu aja negeri ini.

No comments:
Post a Comment