MASIH TERASA GOYANGAN TEMPEMU DLL
Tak ada hujan tak ada angin, isu kudeta merebak. Sejauh mana tingkat kebenaranya, belum jelas. Pers tidak mem-blow up
berita ini, rakyat juga santai saja, malah bertanya-tanya kudeta yang
mana lagi ? Itu bukti bahwa isunya lemah, tidak menarik. Kudeta itu pelu
syarat, misalyna negara sudah dalam bahaya, rakyat cemas karena
pemerintah tidak bisa dipercaya lagi, atau ada perseteruan antara kepala
negara dan tentara. Pasalnya, kudeta itu biasanya dilakukan tentara,
seperti Portugal, Cile, Liberia, dan Thailand. Pernah pula Pakistan
ketika Jenderal Zia Ul Haq menggulingkan Presiden Ali Bhutto. Juga saat
Kolonel Moammar Khadaffi menggulingkan Raja Idrus di Lybia pada usia
sangat belia.
Di Indonesia tidak ada tanda seperti itu. Hanya berita pepesan kosong. Indonesia tidak punya tradisi kudeta. "Yang mau kudeta juga apa, wong tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bisa saja itu digerakkan pemerintah sendiri." Lagi pula mana ada jenderal TNI yang menampakkan gelagat kudeta. Semuanya baik, mereka orang-orang yang taat pada sumpah prajurit, bukan tentara yang haus kekuasaan atau kekayaan. Mereka taat untuk tinggal di barak. Kalau ada yang berkelahi mungkin kasuistis, itu pun tentu bukan jenderalnya, tapi bawahanya. Seperti kemarin sabtu (24-3-2013) terjadi penyerangan di lapas Cebongan Sleman Yogyakarta, hanya gesekan antar aparat bawahan. TNI AD justru sibuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat seperti operasi katarak gratis yang bisa menolong banyak orang.
Di Indonesia tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bahwa antara pemerintah dan rakyat seperti air dan minyak, tidak menyatu, itu benar kita rasakan. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat spektakuler untuk ukuran sekarang. lebih 6 persen. Tapi rakyat tidak merasa apa-apa, malah harga-harga naik. Lantas siapa yang menikmati ?. Sampai saat ini harga daging sapi belum kembali normal, harga bawang putih naik gila-gilaan, harga cabe juga merambat naik lagi meski tidak sampai Rp 100.000 kilogram seperti dulu. Tempe juga baru saja mengguncang pasar karena kelangkaan kedele.
Menurut catatan, kebutuhan bawang putih Indonesia sebanyak 400.000 ton setahun, dan hanya 5 persen produk sendiri, selebihnya impor. Masih banyak komoditas yang rawan dari kongkalingkong karena kita tidak bisa mencukupi sendiri, misal gandum, susu, gula bahkan beras. Rakyat tidak mengerti istilah kartel, tidak tahu monopoli. Rakyat juga tidak habis mengerti logika seorang presiden partai politik terlibat korupsi daging impor. Itu membingungkan rakyat tapi bisa terjadi di Indonesia. Pemikiran rakyat itu sederhana, sandang pangan cukup, pendidikan, kesehatan, keamanan terjamin, petani tidak kesulitan pupuk, lahan pertanian aman dari jarahan dan semacamnya......

Di Indonesia tidak ada tanda seperti itu. Hanya berita pepesan kosong. Indonesia tidak punya tradisi kudeta. "Yang mau kudeta juga apa, wong tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bisa saja itu digerakkan pemerintah sendiri." Lagi pula mana ada jenderal TNI yang menampakkan gelagat kudeta. Semuanya baik, mereka orang-orang yang taat pada sumpah prajurit, bukan tentara yang haus kekuasaan atau kekayaan. Mereka taat untuk tinggal di barak. Kalau ada yang berkelahi mungkin kasuistis, itu pun tentu bukan jenderalnya, tapi bawahanya. Seperti kemarin sabtu (24-3-2013) terjadi penyerangan di lapas Cebongan Sleman Yogyakarta, hanya gesekan antar aparat bawahan. TNI AD justru sibuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat seperti operasi katarak gratis yang bisa menolong banyak orang.
Di Indonesia tidak ada keadaan yang membuat posisi pemerintah terancam. Bahwa antara pemerintah dan rakyat seperti air dan minyak, tidak menyatu, itu benar kita rasakan. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat spektakuler untuk ukuran sekarang. lebih 6 persen. Tapi rakyat tidak merasa apa-apa, malah harga-harga naik. Lantas siapa yang menikmati ?. Sampai saat ini harga daging sapi belum kembali normal, harga bawang putih naik gila-gilaan, harga cabe juga merambat naik lagi meski tidak sampai Rp 100.000 kilogram seperti dulu. Tempe juga baru saja mengguncang pasar karena kelangkaan kedele.
Menurut catatan, kebutuhan bawang putih Indonesia sebanyak 400.000 ton setahun, dan hanya 5 persen produk sendiri, selebihnya impor. Masih banyak komoditas yang rawan dari kongkalingkong karena kita tidak bisa mencukupi sendiri, misal gandum, susu, gula bahkan beras. Rakyat tidak mengerti istilah kartel, tidak tahu monopoli. Rakyat juga tidak habis mengerti logika seorang presiden partai politik terlibat korupsi daging impor. Itu membingungkan rakyat tapi bisa terjadi di Indonesia. Pemikiran rakyat itu sederhana, sandang pangan cukup, pendidikan, kesehatan, keamanan terjamin, petani tidak kesulitan pupuk, lahan pertanian aman dari jarahan dan semacamnya......

No comments:
Post a Comment