OBROLAN ANGKRINGAN
OBROLAN
anak laki-laki bungsu musisi ahmad Dhani, abdul Qodir Jaelani alias
Dul, mengantarkan pacarnya ke Bogor, Jawa Barat, pulang pada sabtu
(7/9), dan berakhir dengan cerita tragis, tak hanya menjadi obrolan
ibu-ibu di warung sayur. Tapi, sehari setelah kejadian itu, cerita itu
juga mampir ke angringan kami nongrong bersama tetangga komplek
perumahan . obrolan tambah panjang, Tema kecelakaan yang menimpa Dul di
kilometer 8 Tol Jagorawi, arah ke Jakarta, saat mengendarai mobil
Mitsubisi Lancer Evo X dengan kecepatan tinggi, lalu oleng dan menabrak
pembatas jalan hingga menyebrang ke jalanan itu mengakibatkan enam orang
meninggal dan sembilan orang dirawat di rumah sakit.
Mereka tak cukup mengerti mengapa anak baru berusia 13 tahun dengan leluasa keluar rumah membawa mobil dan bebas kencan dengan kekasihnya. Usia yang setara dengan pelajar sMP kelas satu. Bagi kebanyakan orangtua, anak usia itu sangat tidak lazim untuk melakukan kencan. Meskipun memang ada banyak surve yang menyebutkan banyak anak remaja telah terjebak pada pergaulan seks bebas.
Keherananan itu terjawab dengan adanya konfirmasi keluarga Dhani yang menyebutkan pihak keluarga tidak pernah mengizinkan Dul keluar rumah membawa mobil sendiri. Tapi, pada malam naas itu, sang sopir yang biasa mengantarkan Dul sedang libur. Tapi, Diskusi itu tetap saja tidak membenarkan alasan tersebut. "Ah bisa saja itu alibi keluarga," komentar teman sebelah. "Itu alasan agar Dul atau Dhani bebas dari jeratan hukum."
Seperti diketahui, belakangan Dul dijerat dengan Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Statusnya pun menjadi tersangka. Saat teman memberi prespektif lain soal bagaimana Dhani memperlakukan anaknya setelah bercerai dengan Maia Setianti, ibu kandung Dul. Menurutnya, Setiap orang tua yang hidup dengan gelimang harta, sangat mudah terjebak untuk memberi banyak fasilitas kepada anak-anak. Terlebih waktu yang disediakan orangtua, ayah dan ibu, untuk anak-anak sangat sedikit. Bahkan untuk sekedar bertanya sudah salat atau belum, sudah makan atau belum, PR sudah dikerjakan atau belum pun tak ada.
Orangtua dengan aktivitas padat di luar rumah lebih banyak menjanjikan hadiah ketimbang mengajarkan salat atau besedekah. "Barangkali itu bentuk kasih sayang, atau kompensasi karena tidak bisa bersama dengan anak-anak. Sang teman tidak sedang membela Dhani, tapi melihat kenyataan bahwa manusia lebih mencintai dunia, harta, istri, anak-anak, jabatan, ketimbang mencintai Allah SWT. Buktinya, banyak anak bupati, walikota, gubernur, dan bahkan menteri, berprilaku sama seperti anak Dhani. Artinya, orang miskin tak perlu heran dengan yang demikian, karena fitrah orang memiliki jabatan dan belimpah harta akan cenderung demikian.
Mengapa banyak orang melakukan korupsi ? Satu dari sekian banyak alasan, bisa jadi karena anak. Mereka ingin membahagiakan anak dnegan dengan banyak harta. Atau ketakutan anak akan hidup sengsara kelak kalau tak punya banyak harta. Mereka yang istikomah menempatkan cinta dunia setelah cinta kepada yang pemilik jiwa, hanyalah sebagian kecil. Tidak banyak jumlahnya.
Soal cinta yang berlebihan pada anak-anak, Allah telah mengingatkan kita dalam peristiwa Nabi Ibrahim dan anak Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail. Padahal, Ibrahim sedang sangat bergembira setelah beratus tahun menunggu kelahiran sang anak. Allah kemudian menggantikannya dengan seekor domba, karena ketaatan keduannya atas perintah Allah. Peristiwa itu bisa dimaknai bahwa Allah tak menginginkan manusia terlena dengan yang dimilikinya dan melupakan Tuhan, karena yang demikian akan membawa dalam kesesatan.

Mereka tak cukup mengerti mengapa anak baru berusia 13 tahun dengan leluasa keluar rumah membawa mobil dan bebas kencan dengan kekasihnya. Usia yang setara dengan pelajar sMP kelas satu. Bagi kebanyakan orangtua, anak usia itu sangat tidak lazim untuk melakukan kencan. Meskipun memang ada banyak surve yang menyebutkan banyak anak remaja telah terjebak pada pergaulan seks bebas.
Keherananan itu terjawab dengan adanya konfirmasi keluarga Dhani yang menyebutkan pihak keluarga tidak pernah mengizinkan Dul keluar rumah membawa mobil sendiri. Tapi, pada malam naas itu, sang sopir yang biasa mengantarkan Dul sedang libur. Tapi, Diskusi itu tetap saja tidak membenarkan alasan tersebut. "Ah bisa saja itu alibi keluarga," komentar teman sebelah. "Itu alasan agar Dul atau Dhani bebas dari jeratan hukum."
Seperti diketahui, belakangan Dul dijerat dengan Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Statusnya pun menjadi tersangka. Saat teman memberi prespektif lain soal bagaimana Dhani memperlakukan anaknya setelah bercerai dengan Maia Setianti, ibu kandung Dul. Menurutnya, Setiap orang tua yang hidup dengan gelimang harta, sangat mudah terjebak untuk memberi banyak fasilitas kepada anak-anak. Terlebih waktu yang disediakan orangtua, ayah dan ibu, untuk anak-anak sangat sedikit. Bahkan untuk sekedar bertanya sudah salat atau belum, sudah makan atau belum, PR sudah dikerjakan atau belum pun tak ada.
Orangtua dengan aktivitas padat di luar rumah lebih banyak menjanjikan hadiah ketimbang mengajarkan salat atau besedekah. "Barangkali itu bentuk kasih sayang, atau kompensasi karena tidak bisa bersama dengan anak-anak. Sang teman tidak sedang membela Dhani, tapi melihat kenyataan bahwa manusia lebih mencintai dunia, harta, istri, anak-anak, jabatan, ketimbang mencintai Allah SWT. Buktinya, banyak anak bupati, walikota, gubernur, dan bahkan menteri, berprilaku sama seperti anak Dhani. Artinya, orang miskin tak perlu heran dengan yang demikian, karena fitrah orang memiliki jabatan dan belimpah harta akan cenderung demikian.
Mengapa banyak orang melakukan korupsi ? Satu dari sekian banyak alasan, bisa jadi karena anak. Mereka ingin membahagiakan anak dnegan dengan banyak harta. Atau ketakutan anak akan hidup sengsara kelak kalau tak punya banyak harta. Mereka yang istikomah menempatkan cinta dunia setelah cinta kepada yang pemilik jiwa, hanyalah sebagian kecil. Tidak banyak jumlahnya.
Soal cinta yang berlebihan pada anak-anak, Allah telah mengingatkan kita dalam peristiwa Nabi Ibrahim dan anak Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail. Padahal, Ibrahim sedang sangat bergembira setelah beratus tahun menunggu kelahiran sang anak. Allah kemudian menggantikannya dengan seekor domba, karena ketaatan keduannya atas perintah Allah. Peristiwa itu bisa dimaknai bahwa Allah tak menginginkan manusia terlena dengan yang dimilikinya dan melupakan Tuhan, karena yang demikian akan membawa dalam kesesatan.

No comments:
Post a Comment