Sunday, 1 February 2015

APEL DAN WANITA

APEL DAN WANITA

      Awal pekan lalu, pemerintah mengumumkan larangan memperdagangkan apel Amerika jenis Granny Smith dan Gala (Big B) produksi Bidart Bros karena mengandung bakteri Listeria monocytogenes yang berbahaya. Bakteri ini dapat mengakibatkan infeksi serius, demam tinggi, mual, sakit kepala, sakit perut, diare dan keguguran bagi wanita hamil. Dalam kasus tertentu, ia bisa mengakibatkan kematian.
       Buah apel memang indah, memancing selera siapa pun yang melihatnya. Kandungan gizi dan seratnya juga sangat bermanfaat untuk kesehatan. Ada yang bilang, makan satu apel sehari, akan membuat jantung sehat. Begitu pula, pria mana yang tak terpesona dengan wanita jelita? Tiap manusia normal, pasti menyukai paras yang elok dan indah. Tuhan pun Maha indah, dan menyukai keindahan. Namun keindahan itu tidak selalu asli dan sejati. Ada yang indah kulitnya, tetapi busuk isinya, seperti apel yang terkontaminasi bakteri. Ada pula yang indah tetapi palsu, seperti bunga plastik. Yang baik tentu adalah yang asli, yang luar-dalam cantik, seperti buah apel yang tampak segar, dimakan terasa lezat dan mengandung banyak gizi, atau seperti wanita yang cantik tubuhnya dan mulia akhlaknya. Sayang, di dunia ini, yang tampak kasat mata tidak selalu sama dengan isi yang tersembunyi, lebih-lebih terkait perilaku manusia yang memang pandai bersandiwara.
      Padahal, yang dapat kita lihat adalah yang tampak, sementara untuk mengetahui isi yang tersembunyi perlu perhatian yang lebih mendalam. Akibatnya, orang gampang tergoda dengan yang tampak, hingga terjerumus ke jurang kepalsuan. Termasuk dalam kerumitan ini adalah perkara hukum. Salah satu buktinya, di Indonesia muncul istilah ‘kriminalisasi’, yakni orang baik dituduh pihak tertentu sebagai kriminal. Akibatnya, muncul kesan, hukum seolah tak bisa menetapkan dengan tegas dan lugas, mana yang benar dan mana yang palsu. Bahkan hukum seolah hanyalah permainan catur di tangan orang-orang kuat dan berkuasa.
      Padahal, kata ‘hukum’ adalah serapan dari bahasa Arab, yang sarat makna. Hukum bisa berarti aturan, bisa pula kekuasaan. Dalam bahasa Arab, penguasa adalah al-hâkim, orang yang menegakkan hukum. Kata hukum juga seakar dengan kata hikmah, artinya kebijaksanaan (wisdom). Orang bijak disebut al-hakîm. Karena itu, jika hukum tidak lagi mengandung hikmah, maka ia kehilangan isi yang sejati. Dengan demikian, perjuangan moral manusia adalah usaha memelihara dan mewujudkan kebaikan kulit dan isi. Ketika hanya kulit yang dipercantik, sementara isinya rusak, maka manusia telah menipu dirinya sendiri dan orang lain.
     Untungnya, manusia diberi hati nurani oleh Tuhan, yang dapat mendeteksi kebenaran laksana intuisi sang isteri, yang dapat menangkap sinyal walau hanya dari satu kata. Alhasil, silahkan mendeteksi sendiri dengan hati nurani, apakah apel di depan gedung KPK itu sama hakikatnya dengan apel Amerika yang kini dilarang beredar di tanah air, atau sebaliknya? Lalu, mengapa sampai hari ini belum ada tindakan tegas dari presiden sebagai al-hâkim, sang penguasa?

No comments:

Post a Comment