Sunday, 8 February 2015

RINDUKU

RINDUKU

Semburat senyum membuka mata
Pagi menyapa dengan cinta
Cinta pada seorang gadis rentan usia

Bunda
Kau lukis kerinduan yang tak terkira
Dengan warna sempurna yaitu merah menyala

Bunda
Andai jarak dapat kulipat
Maka takkan ada batasan untuk kita merapat
Andai waktu dapat kujeda
Kan ku putar lagi semuanya

Pagi berlalu begitu saja
Menyusakan kerinduan yang kian meyiksa
Kini senja menggayut manja melepaskan senyuman menggoda
Wahai senja aku merindukannya

Gadis renta usia bercahaya senja
Selalu menari dipelupuk mata
Masih terbayang hangat pelukanya
Bunda biarlah rindu kita menyatu lewat hembusan senja

BULAN PEMBOROSAN

BULAN PEMBOROSAN

     SELAMAT datang duhai bulan penuh berkah. Bulan Ramadhan telah datang. Kaum muslimin dan muslimat bersuka cita menyambut kedatangannya. Bahkan beberapa hari sebelum Ramadhan, para ibu sudah direpotkan oleh urusan menu sahur hari pertama. Lihat saja mal, terutama sehari sebelum Ramadhan, penuh sesak oleh mereka yang ingin berbelanja untuk persiapan selam berpuasa. Sebagian besar dari kita menginginkanmenu istemewa tersaji di meja makan di saat sahur yang pertama itu.
     Begitu banyak yang gembira karena kedatangan Ramadhan, sampai-sampai lupa makna yang terkandung dalam bulan penuh berkah ini. Mari kita hitung biaya sehari-hari di luar dan selama ramadhan. Katakanlah biaya makan per hari di sebuah keluarga adalah Rp 100 ribu. Seharusnya pada Ramadhan, biayanya berkurang karena hanya makan dua kali sehari. Pengeluaran menjadi lebih kecil lagi, karena di siang hari tidak ada uang untuk membeli cemilan.
     Tapi kenyataanya, banyak yang justru mengalami kenaikan biaya hidup dua bahkan tiga kali lipat. Ketakutan terhadap rasa lapar saat puasa, membuat kita menyajikan banyak hidangan di waktu sahur. Dan rasa lapar di saat berpuasa, membuat kita menyiapkan banyak makanan untuk berbuka. Luhat ini beli, lihat itu juga di beli. Sering juga kita menjadi korban iklan. Seolah berbuka tidak sah tanpa kolak, tidak sempurna tanpa berbagai menu ws, dan tidak seru jika tak ada cemilan penggugah selera. Belum lagi menu utama yang berupa nasi dan lauk pauk. Padahal perut kita tidak bisa menampung makanan sebanyak itu. Tanpa disadari, kita sudah melakukan perbuatan mubazir.
     Ya, kita dibuat lupa akan hakikat berpuasa. Bukankah berpuasa itu artinya menahan diri ? Termasuk menahan diri dari nafsi yang membuat kita berlebihan dalam berbelanja selama Eamadhan. Seharusnya, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk berhemat dan menjauh dari budaya konsumerisme. Tapi yang terjadi, tanpa kita sadari, kita justru menjadi lebih konsumtif di bulan Ramadhan. Padahal Allah sudah menegaskan dalam surat Al A'raaf ayat 31 : Wahai anak cucu Adam ! Pakailah pakaianmu yang bagus ketika memasuki masjid. Makan, dan munumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
     Seandainya saja kita bisa memanfaatkan Ramadhan sebagai waktu yang pas untuk berhemat, dan menggunakan sisa uang belanja untuk memperbanyak sedekah, tentu sajha akan jauh lebih baik. Inilah saat dimana nilai segala amal menjadi berkali-kali lipat. Kata mubazir berasal dari bahasa Arab, yang berarti tidak berguna, sia-sia, dan boros. Maka perbuatan mubazir bisa diartikan sebagai sebuah perilaku yang melebihi batas, tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya, dan tidak terkontrol dengan baik.
     Allah berfirman dalam surah al-Isra': 26-27 : Berikanlah kerabat dekatmu, orangmiskin, dan ibnu sabil hak mereka. Dan janganlah sekali-kali berbuat mubazir. Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah temannya setan. Pernahkah kita melihat, bahwa makanan yang begitu banyak dirumah, ternyata tidak semuanya dimakan ? Apakah yang kita beli, rupanyajauh melebihi apa yang sebenarnya kita butuhkan.
     Yang kita butuhkan hanyasatu, tapi kita membeli dua atau tiga. Yang kita butuhkan adalah A dan B, tapi C dan D tak lupa juga tuk dibeli. Betapapun sering kita membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi hanya karena ingin. Mulai sekarang, mari kita pelajari kembali makna Ramadhan yang sesungguhnya. Jangan buat Ramadhan menjadi bulan pemborosan. Ramadhan adalah momen untuk membersihkan diri dari pengeluaran yang tidak perlu.

TES TES SATU DUA TIGA

TES TES SATU DUA TIGA

     "SETIAP kali mendengar dering ponselmu, jadi mau niat puasa terus padahal sudah buka dari tadi,(nada dering suara UFA waktu baru pertama belajar puasa jaman TK dulu) dan  apa lagi saya jadi ingin sholat terus, " kata seorang anak muda kepada saya yang menggunakan nada dering niat puasa dan adzan. ia sebenarnya mengkritik, tetapi dengan bercanda. Minggu lalu, MUI (Majelis Ulama Indonesia) melarang penggunaan nada dering ayat-ayat Alquran dan adzan karena dapat merendahkan kesucian kalimat-kalimat sakral itu.
     Ponsel biasanya dibawa kemana saja,  sehingga sangat mungkin berdering ketika berada di toilet. Begitu pula, orang bisa bergegas menerima panggilan ponselnya, sehingga memutus nada dering ayat atau azan yang belum sempurna. Masalah ini tentu tak terbayangkan ketika masyarakat belum mengenal ponsel. Nenek moyang kita bahkan tak mengenal pengeras suara. Untuk memberitahu tibanya waktu sholat, mereka menabuh bedug dan kentongan. Bedug dan kentongan dipukul dengan cara tertentu sehingga melahirkan irama khas yang indah bertalu-talu, dan gelombang suaranya merambah jauh melintas pepohonan rindang di negeri tropis ini.
     Tetapi perlu diingat, bahwa dulu bedug dan kentongan pernah dipermasalahkan  pula. Memasuki dasawarsa kedua abad ke-20, muncul kelompok pemurnian Islam, yang mengatakanbedug dan kentongan itu bid'ah, yakni sesuatu yang tidak pernah dipakai di zaman Nabi. Kalau mau memanggil orang untuk sholat, langsung azan saja, tak perlu pakai  bedug dan kentongan dulu. Anehnya, kelompok ini mau memakai bid'ah lain, yaitu alat pengeras suara modern.
     Lama-lama, kontroversi bedug dan kentongan itu lenyap, karena semua masjid, mushola dan langgar memakai pengeras suara. Bedug dan kentongan yang dulunya ditabuh tiap menjelang azan, sekarang terlantar. ada pula yang ditabuh, hanya untuk sholat Jumat. sebagian besar masjid mushola dan langgar yang baru dibangun bahkan tidak memiliki bedug dan kentongan lagi. Belakangan, bedug dan kentongan kadang-kadang dipakai, untuk ditabuh pejabat, menandai suatu peresmian.
     Ketika pengeras suara mulai berjaya menyingkirkan bedug dan kentongan, muncul lagi kontroversi sirine. Ada gagasan ingin mempersatukan awal waktu sholat dari masjid raya. Untuk itu, pertanda yang dibunukan adalah sirene, baru kemudian azan dikumandangkan. Sebagian ulama tidak setuju dengan serene ini, karnea dianggap berlebihan. Karena itu, hingga kini, ada masjid Raya yang pakai sirene, ada pula yang tidak.
     Seiring perubahan zaman, masyarakat Indonesia mengalami mobilitas makin tinggi. Kota-kota makin padat, dan mulai dihuni beragam orang, dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Kepadatan kota menuntut tempat ibadah yang makin banyak. Masjid, mushola dan langgar terus dibangun, untuk menampung jemaah yang makin melimpah. Maka muncullah masalah baru. Semua masjid mushola dan langgar memakai pengeras suara, sehingga kadang terkesan bersaing. Yang terdengar lantang dari corong pengeras suara bukan hanya suara azan, tetapi juga ceramah agama, pembacaan ayat-ayat Al-quran, alunan selawat dan lagu kasidah, baik yang langsung atau rkaman. Kadang terdengar pula pengumuman, atau sekedar orang berkata, "Tes, satu dua, satu dua ".
     Untuk menyikapi masalah ini, pada 17 juli1978, Dirjen Bimbingan MasyarakatIslam Departemen Agama RI mengeluatkan Instruksi tentang tuntutan penggunan pengeras suara di masjid mushola dan langgar. Menurut tuntutan ini, pengeras suara jelas membantu meningkatkan daya jangkau seruan dan syiar agama di masyarakat. Di sisi lain, ia juga bisa mengganggu orang yang sedang istirahat, atau orang yang beribadah di rumah. Apalagi, rumah-rumah di sekitar masjid kadang dihuni oleh penganut agama lain.
     Karena itu, tuntutan tersebut menyarankan agar dibuat dua jenis corong ; ke dalam dan ke luar. Corong keluar digunakan untuk adzan dan takbiran, dan dapat digunakan untuk bacaan Alquran, maksimal 15 menit menjelang Sholat Subuh dan 5 menit untuk sholat lainnya. Sedangkan untuk pelaksanaan sholat, zikir, doa dan ceramah, cukup menggunakan corong dalam, kecuali jika kemaah melimpah hingga keluar masjid.
     Meskipun tuntutan tersebut dibuat 35 tahun silam, dan terutama ditujukan kepada kaum Muslim di kota-kota besar yang heterogen, bukankah di mas sekarang ia justru terasa makin relevan ? Jika dering ponsel dapat merendahkan kesucian ayat-ayat Tuhan, bukankah penggunaan pengeras suara yang tidak tepat, juga bisa merendahkan seruan dan syiar agama itu sendiri ?.

DI ANTARA

DI ANTARA

Aku selalu mengenggam rapat anyaman rasaku
Jemariku selalu mampu mengikat apa yang telah merapat
Menjunjung tinggi harap pada apa yang di dekap
Semua itu sebelum ini

Hingga tiba gulungan topan rasa yang memaksa bernaung
dan berlindung di bawah dua buah pohon besar sekaligus
Mungkinkah itu ?Inilah fakta nyata
Aku berada di bawah keduanya
Yang satu menyuburkan daun kenangan
Sedang yang lain membesarkan bakal buah masa depan

Terbuai oleh hembus semilir buai dedauan dari keduanya
Tanpa sadar semua terlalu jauh

Dan ketika topan reda
Salah satu dari pohon yang menaungiku mau tak mau
harus kutumbangkan
Bukanku tak tau diri
Tapi tak bisa terus berada di keduanya
Entah itu pohon kenangan
atau pohon yang kini masih menyuguhkan kerindangan

ENAKAN ZAMANKU TO ?

ENAKAN ZAMANKU TO ?

     KALAUmau jujur sebenarnya rakyat Indonesia sangat merana melihat perkenbangan negeriini yang sejak reformasi 15 tahun lalu hanya melahirkan kekerasan demikekerasan. Seperti  negeru tanpapemerintah, kekerasan mengusai berbagai bidah kehidupan.
     Hampir tidak ada pemilu kepala daerah yangtidak melahirkan keributan. Pendaftaran tidak memnuhi syarat, dinyatakan tidakmemnuhi syarat bikin rusuh, kalah bikin rusak. Yang menang bikin bobrok negarakarena harus bayar utang kampanye lewat korupsi.
     Rasa persaudaraan antar tetangga jugahilang, dimana-mana ada perang antar kampung. Kalau perang suku di Papua ituadat tapi kalau di daerah lain itu kriminal. Acara musik berakhir tawuran,suporter sepak bola saling gebuk, antar mahasiswa saling serang.
     Bukan itu saja, kini yang namanya premandan premanisme sudah malang melintang di tengah kehidupan kita. Contoh PasarTanah Abang Jakarta. Kawasan itu sejak lama menjadi pusat ‘bisnisnya’ parapreman, mulai dari beking terhadap PKL sampai parkir liar. Penerbitan olehJokowi (Gubernur DKI Jakarta) menghadapi tantangan. Preman-preman yangakankehilangan setoran PKL, marah. Biasanya mereka dapat Rp 2-3juta/bulan/lapak. Salah seorang DPRD DKI juga ‘Penguasa’ Tanah Abang dan kinimeradang.
     Kalau hanya mengandalkan Satpol PP sampaikapan pun preman tak akan tunduk, Polri pun sering dilawan. Jadi kenapaditurunkan tentara ? Rakyat butuh tenang dan hidup nyaman.
     Penembakan misterius (Petrus) terhadappreman di zaman Soeharto didukung rakyat. Penembakan preman oleh anggotaKopassus di Lembaga Pemasyarakatan Sleman juga dipuji rakyat. Mungkin tidakharus begitu tapi rakyat ingin pemerintah tegash. Tahun 2014 tinggal sebentar,berikan kenangan indah buat rakyat.
     Kita sering melihat di jalan-jalanmobil-mobil truk dihiasi gambar dan tulisan yang mencerminkan hati dan perasaansang sopir. Misalnya gambar perempuan cantik dengan ungkapan kesepian seseoranglelaki. Kini gambar-gambar itu ada yang diganti dengan wajah mantan PresidenSoeharto dengan tulisan Enakan Zamanku to? itulah suara hati nurani rakyat yang sebenarnya.


Friday, 6 February 2015

CAMBUK NEGERIKU

CAMBUK NEGERIKU

Genap 68 tahun Indonesia Merdeka
Merahnya bendera
Gelombang semangat yang membara
Putihnya begitu bersih
Bersinar melambai diangkasa

Merah adalah hangatnya jiwa
Putih gambaran sucinya perjuangan bangsa
Di awal kemerdekaan
Tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima

Hari kemarin
Kota dan desa bermandikan warna
Merah putih yang berjaya
Berkibar di mana-mana

Panitia sibuk bekerja
Menyusun jadwal acara
Lomba ini lomba itu
Pidato, resepsi, dan ceramah
Meluncurkan kumpulan dana

Ada musik ada tarian
Ada gamelan ada nyanyian, kuda lumping, panjat pinang dll
Semua bersuka cita
Tapi
Itukah sebenarnya tujuan peringatan Kemerdekaan Indonesia ?

Padahal
17 Agustus datang
Ibarat cambuk lomnceng yang bergema
Yang membangunkan tidur nyenyak kita

Padahal
17 Agustus tiba
Ibarat terlena keknyangan menikmati hasil kemerdekaan

LEBARAN KETUPAT

LEBARAN KETUPAT

     IDULFITRI  1434 Hijriah telah berlalu. Kemarin rabu (14/8) bertepatan 7 Syawal, sebagaian kita kembali merayakan Lebaran yang disebut dengan Lebaran Ketupat. Lebaran tersebut, dilaksanakan setelah menunaikan enam hari puasa Syawal atau puasa enam. Diyakini, dengan menggelar riutal puasa sunat itu, umat Islam yang melaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT yang besarnya seperti orang berpuasa orang berpuasa setahun penuh. Itu berdasarkan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW.
     Lebaran Ketupat, diantaranya dilakukan oleh masyarakat pada umumnya . Tidak terkecuali mereka yang bermukim dan keturunan yang ada di Kotabaru Kalimantan Selatan. Pelaksanaan Lebaran Ketupat itu lebih kepada sebuah eksperesi penyempurnaan berpuasa setahun penuh itu. Kalau melaksanakan puasa enam, kita dapat ganjaran pahala seperti orang berpuasa setahun penuh. Dengan melaksanakan Lebaran Ketupat ini, ibaratnya seperti merayakan kemenangan kita selama berpuasa enam itu.
     Pada perayaan itu. Mereka menggelar selamatan dan menunya pun khusus, yaitu ketupat. "Sesuai dengan namanya, Lebaran Ketupat. Biasanya , Lebaran Ketupat ini lebih ramai dari lebaran Idulfitri".Ketupatnya berbeda dengan ketupat pada saat Lebaran Idulfitri. walau secara bentuk dan rasa tak ada bedanya, tapi dari segi filosofinya, ketupat tersebut jelas berbeda. Filosofi lebaran Ketupat diibaratkan sebagai penyempurnaan puasa setahun penuh, "Lebih pentingnya lagi adalah semangat kebersamaannya.Berkumpul dan besilaturahmi. Makanannya selain ketupat, juga ada opor ayam dan sayur lodeh.