Sunday, 8 February 2015

BULAN PEMBOROSAN

BULAN PEMBOROSAN

     SELAMAT datang duhai bulan penuh berkah. Bulan Ramadhan telah datang. Kaum muslimin dan muslimat bersuka cita menyambut kedatangannya. Bahkan beberapa hari sebelum Ramadhan, para ibu sudah direpotkan oleh urusan menu sahur hari pertama. Lihat saja mal, terutama sehari sebelum Ramadhan, penuh sesak oleh mereka yang ingin berbelanja untuk persiapan selam berpuasa. Sebagian besar dari kita menginginkanmenu istemewa tersaji di meja makan di saat sahur yang pertama itu.
     Begitu banyak yang gembira karena kedatangan Ramadhan, sampai-sampai lupa makna yang terkandung dalam bulan penuh berkah ini. Mari kita hitung biaya sehari-hari di luar dan selama ramadhan. Katakanlah biaya makan per hari di sebuah keluarga adalah Rp 100 ribu. Seharusnya pada Ramadhan, biayanya berkurang karena hanya makan dua kali sehari. Pengeluaran menjadi lebih kecil lagi, karena di siang hari tidak ada uang untuk membeli cemilan.
     Tapi kenyataanya, banyak yang justru mengalami kenaikan biaya hidup dua bahkan tiga kali lipat. Ketakutan terhadap rasa lapar saat puasa, membuat kita menyajikan banyak hidangan di waktu sahur. Dan rasa lapar di saat berpuasa, membuat kita menyiapkan banyak makanan untuk berbuka. Luhat ini beli, lihat itu juga di beli. Sering juga kita menjadi korban iklan. Seolah berbuka tidak sah tanpa kolak, tidak sempurna tanpa berbagai menu ws, dan tidak seru jika tak ada cemilan penggugah selera. Belum lagi menu utama yang berupa nasi dan lauk pauk. Padahal perut kita tidak bisa menampung makanan sebanyak itu. Tanpa disadari, kita sudah melakukan perbuatan mubazir.
     Ya, kita dibuat lupa akan hakikat berpuasa. Bukankah berpuasa itu artinya menahan diri ? Termasuk menahan diri dari nafsi yang membuat kita berlebihan dalam berbelanja selama Eamadhan. Seharusnya, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk berhemat dan menjauh dari budaya konsumerisme. Tapi yang terjadi, tanpa kita sadari, kita justru menjadi lebih konsumtif di bulan Ramadhan. Padahal Allah sudah menegaskan dalam surat Al A'raaf ayat 31 : Wahai anak cucu Adam ! Pakailah pakaianmu yang bagus ketika memasuki masjid. Makan, dan munumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
     Seandainya saja kita bisa memanfaatkan Ramadhan sebagai waktu yang pas untuk berhemat, dan menggunakan sisa uang belanja untuk memperbanyak sedekah, tentu sajha akan jauh lebih baik. Inilah saat dimana nilai segala amal menjadi berkali-kali lipat. Kata mubazir berasal dari bahasa Arab, yang berarti tidak berguna, sia-sia, dan boros. Maka perbuatan mubazir bisa diartikan sebagai sebuah perilaku yang melebihi batas, tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya, dan tidak terkontrol dengan baik.
     Allah berfirman dalam surah al-Isra': 26-27 : Berikanlah kerabat dekatmu, orangmiskin, dan ibnu sabil hak mereka. Dan janganlah sekali-kali berbuat mubazir. Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah temannya setan. Pernahkah kita melihat, bahwa makanan yang begitu banyak dirumah, ternyata tidak semuanya dimakan ? Apakah yang kita beli, rupanyajauh melebihi apa yang sebenarnya kita butuhkan.
     Yang kita butuhkan hanyasatu, tapi kita membeli dua atau tiga. Yang kita butuhkan adalah A dan B, tapi C dan D tak lupa juga tuk dibeli. Betapapun sering kita membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi hanya karena ingin. Mulai sekarang, mari kita pelajari kembali makna Ramadhan yang sesungguhnya. Jangan buat Ramadhan menjadi bulan pemborosan. Ramadhan adalah momen untuk membersihkan diri dari pengeluaran yang tidak perlu.

No comments:

Post a Comment