Tuesday, 27 January 2015

KETIKA HIDUP DIMULAI

KETIKA HIDUP DIMULAI

     KINI kita berada di musim hujan. Hujan itu bermacam-macam. Ada hujan lebat, hujan gerimis, hujan buatan, hingga hujan lokal.
Yang tidak disukai para santri adalah ‘hujan lokal’, yaitu diguyur air di tempat tidur oleh pengasuh asrama akibat tidur kesiangan. saya dapat cerita dari temen yang pernah di asrama pesantren.
Air hujan lokal itu memang tidak membahayakan. Paling-paling membuat yang tidur terperanjat dan terjaga, lalu menggigil kedinginan.
     Yang lebih tidak enak adalah rasa malu pada pengasuh, dan juga kawan-kawan seasrama. Apalagi akibat siraman itu, dia harus menjemur kasurnya yang basah, yang sudah tentu menjadi bahan tontonan dan tertawaan pula.
     Begitulah pendidikan di Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, ketika teman saya nyantri di sana pada pertengahan 2000-an. Mungkin bagi sebagian kita, cara seperti itu terkesan berlebihan.
Namun yang jelas, tujuannya sangat baik, yaitu melatih dan membiasakan para santri untuk bangun pagi setiap hari. Agar terbiasa, mula-mula harus dipaksa. Bagi yang tetap tak peduli, akan diberi sanksi berupa hujan lokal tadi.
     Semua kita kiranya pernah mengalami beratnya bangun pagi. Apalagi anak-anak dan remaja, yang masih memerlukan jam tidur lebih lama daripada orang dewasa.
Orang dewasa pun bisa mengalami sulitnya bangun pagi, jika ia terlambat tidur hingga larut malam, atau bekerja terlalu lelah di siang hari. Pendek kata, beratnya kepala untuk bangun pagi, bisa menimpa siapa saja, tua ataupun muda.
     Bagi kaum Muslim, bangun pagi adalah keharusan, karena adanya kewajiban melaksanakan Salat Subuh. Sekitar setengah jam sebelum tiba waktu salat, biasanya pengeras suara di langgar dan masjid sudah berbunyi.
Itupun belum tentu membuat orang bangun untuk salat. Apalagi ketika cuaca hujan dan dingin. Saat terbangun, tahu-tahu matahari sudah bersinar, sehingga ‘keringlah’ qunut salat Subuhnya.
     Kalau direnungkan, tampaknya sulit menentukan, apakah tidur atau jaga yang ada terlebih dahulu. Mungkin tidur adalah awal dan bangun adalah akhir.
Kita tidur di rahim ibu, lalu jaga ketika lahir, tidur lagi ketika mati, terus jaga lagi di alam kubur, dan tidur lagi hingga jaga di hari kebangkitan. Tapi mungkin pula, jaga adalah awal, karena konon ruh sudah ada dan jaga sebelum tubuh diciptakan.
     Keterkaitan tidur dan jaga itu amat terasa dalam soal bangun pagi di atas. Kondisi kita ketika bangun sangat ditentukan oleh kondisi tidur kita. Kalau tidurnya nyenyak dan tenang, bangunnya akan segar dan bergairah.
Sementara itu, untuk bisa tidur nyenyak dan tenang, kondisi jaga sebelum tidur juga harus baik dan tenang. Kalau pikiran kacau, tidur akan gelisah, sehingga bangun pun akan berat.
     Dengan demikian, tidur dan jaga memiliki satu titik yang sangat penting dan menentukan, yaitu ketika memulai prosesnya. Setiap memulai itu sulit. All starts is difficult, kata ungkapan dalam Bahasa Inggris.
Mengapa sulit? Karena memulai berarti mengambil keputusan, menentukan arah dan pilihan. Memulai adalah wujud dari kebebasan dan tanggung jawab manusia terhadap hidupnya.
     Mungkin karena itulah, agama mengajarkan doa-doa menjelang tidur dan bangun. Doa-doa itu adalah suatu permohonan kepada-Nya yang menguasai hidup dan mati, agar berkenan memberikan kepada kita awal yang baik, dan akhir yang baik pula.
     Yang baik itu adalah yang bermanfaat, dan yang bermanfaat itu adalah yang membahagiakan. Bukankah kita ingin bahagia dalam tidur maupun jaga?
Alhasil, bangun pagi itu penting. Bukan sekadar udara pagi itu sejuk dan segar. Bukan sekadar matahari pagi itu indah dan hangat. Bukan sekadar kicau burung pagi itu merdu. Bukan pula karena sekarang sudah di tahun 2014.
Bangun pagi adalah perjuangan melawan godaan jangka pendek, untuk meraih kebaikan jangka panjang. Ia adalah momen penting, ketika kita memulai hidup setiap hari.

DASAR SINGKEK

DASAR SINGKEK

     “...sering yang mayoritas tidak mau merangkul yang minoritas, baik karena curiga, maupun karena merasa kuat”  “ORANG Cina itu tidak sombong, bahkan sangat rendah hati, karena ia tak pernah memandang orang lain dengan sebelah mata. Soalnya, dengan dua belah mata saja susah!” kata Ernest Prakasa, seorang warga keturunan Cina yang kini dikenal luas sebagai comic alias pelawak <a>Stand Up Comedy</a>.

Sejak pintu kebebasan berpendapat dan berserikat terbuka lebar di negeri ini, kita tampaknya makin belajar lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan tidak lagi dianggap mengancam, melainkan memperkaya persatuan. Warga Cina, sebagaimana warga lainnya, bebas menampilkan berbagai wujud kebudayaan mereka yang khas, sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia.

     Yang lebih menarik lagi, keragaman itu dapat disatukan melalui komedi. Jika slogan negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, maka Pandji Pragiwaksono menerjemahkannya dalam komedi menjadi Bhinneka Tunggal Tawa. Perbedaan akan larut dalam tawa. Ketika dipicu oleh sesuatu yang lucu, secara alamiah, orang akan tertawa. Dalam tawa, kita temukan kesamaan diri kita sebagai manusia.

     Dalam Ngenest, Ngetawain Hidup ala Ernest (2013), Ernest Prakasa mengulas banyak hal tentang orang-orang Cina di Indonesia dan berbagai stereotip tentang mereka. Ia uraikan bahwa tidak benar semua orang Cina itu kaya, karena banyak pula yang miskin. Orang Cina itu bukannya pelit, tapi hanya tak mau rugi dan banyak akal dalam berbisnis. Orang Cina juga tidak semuanya pandai bikin makanan enak.

     Memang sudah lazim, kata Ernest, kaum minoritas ditindas oleh mayoritas, bahkan di  negeri Cina sendiri. Sekitar 91 persen penduduk Cina adalah orang Han, sehingga mereka yang bukan Han sering didiskriminasi.

Contoh lain, dulu Ernest sekolah di SMA yang mayoritas siswanya anak keturunan Cina. Di kelasnya, hanya ada dua siswa bukan Cina yang sering jadi korban, dikerjai teman-temannya.

Karena itu, bagi Ernest, kaum minoritas harus sabar. Ia membuat contoh lain. Hampir semua televisi di Indonesia menyiarkan sinetron, dan ratingnya tinggi. Jika Anda tidak suka sinetron, berarti Anda minoritas. Anda harus sabar. Begitu pula, sepeda motor itu mayoritas, dan mobil minoritas. Jika Anda naik mobil lalu disalip seenaknya atau ditabrak para pengendara sepeda motor, Anda harus sabar.

     Suara Ernest tersebut barangkali merupakan upaya memahami diri sekaligus anjuran untuk dipahami. Ungkapan ‘harus bersabar’ adalah peringatan ke dalam, sekaligus memberi pengertian kepada pihak luar. Bagi pihak luar yang tergolong mayoritas, kewajibannya tentu bukan bersabar, melainkan melindungi dan menghormati minoritas agar diperlakukan setara dengan warga negara lainnya.

     Di sisi lain, ada satu hal penting yang tampaknya kurang diperhatikan Ernest, yaitu sikap kaum minoritas dalam berhubungan dengan mayoritas, dan sebaliknya. Tak jarang, kelompok minoritas cenderung suka mengasingkan diri alias eksklusif, baik karena takut atau sebaliknya, karena sombong. Begitu pula, sering yang mayoritas tidak mau merangkul yang minoritas, baik karena curiga, maupun karena merasa kuat.

      Chang-Yau Hoon (2011) dalam studinya menemukan, tiga dari empat sekolah Kristen paling bergengsi di Jakarta, yang pemiliknya dan siswanya mayoritas warga keturunan Cina kelas atas, ternyata cenderung mempertebal garis perbedaan etnis, agama dan kelas sosial. Kecenderungan ini, kata Hoon, seperti menguatkan kembali kebijakan pemisahan dan pengistimewaan etnis Cina di zaman kolonial Belanda.

Empat sekolah yang diteliti Hoon di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk menyamaratakan semua sekolah serupa yang tersebar di negeri ini. Tetapi ia adalah suatu peringatan, bahwa peran lembaga pendidikan amat penting untuk menciptakan sikap dan pola hubungan antar warga negara. Karena itu, patut pula dikaji sebaliknya: seberapa terbuka sekolah-sekolah lain menerima warga Cina?

     Selebihnya, kita berterima kasih kepada comic seperti Ernest. Ia menyadarkan kita akan kesatuan dalam perbedaan melalui lelucon yang ia lontarkan. Kita dapat tertawa bersama, meskipun kita berbeda.

NYEPI MENGHALAU SEPI

NYEPI MENGHALAU SEPI

     SAYA belum pernah mengalami Nyepi di Bali,hanya dapat cerita temen-temen yang pernah mengalami nyepi di Bali. katanya Sejak pukul 6 pagi, suasana hening, senyap dan sunyi. Jalan-jalan lengang. Suara radio dan televisi juga tak terdengar. Toko, kantor, sekolah dan universitas tutup.  Orang-orang mendekam di rumah masing-masing.

     Di malam hari, sepi sunyi itu makin bertambah, ketika lampu-lampu dimatikan dan orang-orang terbenam dalam kegelapan. Bagi para turis, Bali adalah tempat yang eksotis, bukan sekadar karena alamnya yang indah, tetapi juga karena seni budayanya yang unik.

     Seorang pengajar asal Australia bercanda mengatakan, Bali adalah singkatan dari ‘banyak libur’. Ini bukan hanya karena orang suka pergi berlibur ke Bali, tetapi juga karena banyaknya hari-hari besar keagamaan yang ditetapkan sebagai hari libur oleh pemerintah setempat.

     Tetapi Nyepi bukanlah hari libur lokal, melainkan nasional. Bagi para penganut Hindu di negeri ini, di manapun mereka berada, mereka akan merayakan Nyepi, sebagai langkah awal memasuki Tahun Baru Saka.

Pada hari ini, mereka melaksanakan Catur Brata, yaitu tidak menggunakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak menikmati hiburan. Sebagian orang juga berpuasa dan bermeditasi.

     Hari Nyepi barangkali khas Hindu, tetapi bahwa manusia sewaktu-waktu perlu menyepi agar dapat menemukan makna hidup yang sejati, mungkin bersifat universal.

     Sidharta Gautama, sebelum menjadi Buddha, juga menyepi di bawah pohon besar. Bahkan, Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul, juga menyepi, beribadah di Gua Hira di Jabal al-Nur, gunung batu setinggi 281 meter di kota Makkah. Padahal, di zaman itu belum ada koran, radio, televisi dan internet. Belum ada media yang tiap saat menyediakan serbaneka informasi dan hiburan. Belum ada ponsel dan tablet yang membuat kita sibuk terhubung ke mana-mana dengan mudah dan murah. Belum ada iklan-iklan penuh rayuan di media cetak dan elektronik ataupun di baliho dan billboard. Belum ada pula pemilu yang hingar bingar.

     Di era informasi dan globalisasi ini, jelas tidak mudah bagi kita untuk benar-benar menyepi. Anehnya, tak sedikit pula orang di zaman sekarang yang merasa kesepian. Penduduk makin banyak, jalan-jalan makin dipenuhi kendaraan, pasar dan mal terus diserbu pengunjung. Namun, manusia justru merasa sepi di tengah keramaian, merasa terasing dan teralienasi. Inilah paradoks zaman modern.

     Paradoks itu terjadi antara lain karena untuk mengisi hidupnya, manusia modern mengejar sesuatu yang berada di luar dirinya. Dia meletakkan nilai dirinya pada apa yang dia miliki dan bagaimana sikap orang lain terhadapnya. Karena itulah, ia berusaha menumpuk harta, kuasa dan membangun citra. Tetapi karena semua ini berada di luar dirinya dan tidak melekat pada jati dirinya, ia akhirnya kesepian.

     Berbeda dengan kesepian yang tak diharapkan, menyepi adalah suatu pilihan. Menyepi berarti memilih untuk menyendiri, menghindardari berbagai hubungan dengan dunia luar. Menyepi adalah upaya menemukan diri yang sejati atau suatu percakapan intim dengan diri sendiri. Diri menjadi subjek sekaligus objek. Adapun dunia luar, ia hanya ditatap dari jarak jauh, untuk memahami diri yang di sini.

     Pada kisah Mahabarata, Pandawa dan Kurawa berperang, dengan menggunakan senjata dan kesaktian masing-masing. Ribuan prajurit mati dalam perang itu hingga akhirnya Pandawa menang. Namun, Yudhistira, sang pemimpin Pandawa, malah sedih. Ia telah berusaha sekuat tenaga agar pertumpahan darah itu bisa dihindari, tetapi gagal. Perang seolah suatu keniscayaan, ketika kekuasaan dipertaruhkan.

Saat itulah, Kresna menasihatinya. “Sebagaimana engkau harus berperang melawan Durna dan Bisma, sekaranglah saatnya kau berperang melawan dirimu sendiri.”

     Itu pula yang diyakini pemimpin gerakan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi. Bagi Gandhi, penjajahan terjadi karena kita membiarkan diri kita dijajah oleh hawa nafsu. Percuma kita mengusir penjajah asing, jika hawa nafsu tetap menjajah diri kita.

Sayangnya, kita sering abai terhadap pertarungan di dalam diri itu, yang oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai jihad yang paling besar. Mengapa? Antara lain karena kita selalu sibuk dengan dunia, dan enggan menyepi, untuk merenungi diri, hidup dan kehidupan ini



WANI PIRO

WANI PIRO

     Kampanye yang hingar bingar, ditingkahi musik dan goyang aduhai
artis-artis ganteng dan cantik sudah berakhir. Sejak kemarin, kita sudah
memasuki masa tenang. Selama rentang waktu tiga minggu kampanye,
suasana persaingan antarpartai dan tokoh-tokohnya amatlah terasa, baik
yang diucapkan langsung oleh juru kampanye, atau berupa sindirian dalam
paket iklan. Warna-warni atribut partai, foto caleg hingga calon
presiden dari partai tertentu, yang tumpah ruah di ruang publik, seolah
menjadi karikatur dari pertarungan politik yang tengah berlangsung. Namun,
betapa pun panasnya persaingan, masa kampanye tahun ini relatif
berjalan aman. Memang ada sedikit kasus kekerasan di Aceh, tetapi di
daerah-daerah lain di Indonesia, umumnya berjalan aman dan damai. Ini
satu prestasi yang patut kita syukuri.
     Jelas tidaklah mudah
mengatur negeri yang amat luas dengan penduduk 240 juta ini, dengan
keragaman yang luar biasa dari segi etnis, budaya dan agama. Kalau
kita bandingkan dengan pemilu Orde Baru, maka keadaan sekarang  jauh
lebih baik. Ketika itu, pemilu hanyalah formalitas, dengan hasil yang
sudah jelas: Golkar menang di atas 60 persen, dan Soeharto tetap sebagai
presiden.
     Demi tercapainya hasil itu, seluruh aparat pemerintah,
sipil dan militer turut campur, dengan berbagai cara, termasuk melalui
ancaman, manipulasi dan kekerasan. Kita juga patut bersyukur jika
menengok keluar, ke negara-negara lain. Malaysia dan Singapura misalnya,
adalah dua negara yang tampaknya secara ekonomi lebih makmur dari kita,
tetapi dari segi kebebasan politik dalam berdemokrasi, saya kira
Indonesia lebih baik. Apalagi kalau kita melihat lebih jauh ke
Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Mesir, Suriah, Libya, Irak dan
Palestina. Indonesia masih jauh lebih baik. Namun, tentu saja kita
tidak boleh puas dengan semua ini. Masih banyak masalah yang harus
diatasi. Selama masa kampanye, masalah-masalah itu bisa kita temukan
dalam iklan-iklan politik atau pidato-pidato para juru kampanye.
     Semuanya
mengaku akan menjadi pemecah masalah, bukan sumber masalah. Mereka
berjanji anti-korupsi, pro-rakyat, dan tidak menggadaikan negara ke
pihak asing. Namanya juga kampanye, masa merayu pemilih agar mau
memilih. Berbagai cara pun dilakukan agar rakyat percaya. Segala
kesalahan dan janji-janji palsu di masa lalu sekuat tenaga dihapus dari
ingatan rakyat. Triliunan rupiah digelontorkan untuk iklan-iklan
serba indah menggugah di televisi, koran, baliho dan bilboard. Pada
akhirnya, kampanye hampir sama dengan iklan: membujuk, meski kadang
palsu.
     Mungkin keadaan ini akan mendorong kita kepada berbagai
pertanyaan serius. Apakah arti kebebasan berdemokrasi jika dalam
kenyataan pemilih disuguhi citra-citra dan kesan-kesan indah belaka?
Apakah makna kebebasan jika akhirnya uang jualah yang menang, bukan
nilai-nilai moral seperti kemanusiaan, keadilan dankejujuran? Apakah
demokrasi akhirnya tidak lebih dari kemunafikan yang santun? Saya
kira semua pertanyaan ini jawabnya gampang sekaligus susah. Gampang
karena pada akhirnya yang menentukan kualitas demokrasi adalah kita
semua yang terlibat dalam berdemokrasi. Jika pemilih cerdas dan kritis,
sadar akan tipu daya iklan dan kampanye, mungkin dia tidak mudah
terbujuk. Begitu pula politisi yang baik, tidak akan menggunakan
cara-cara yang tak bermoral dalam mendulang suara. Di sisi lain,
membuat demokrasi kita makin sehat dan dewasa jelas tidak gampang. Kita
tidak hanya perlu politisi yang baik, tetapi juga rakyat pemilih yang
baik.
     Kita tidak hanya perlu aturan pemilu yang jujur dan adil,
tapi para pelaksana yang jujur dan adil pula. Sementara kejujuran dan
keadilan adalah nilai-nilai moral yang ditanamkan dalam waktu yang lama,
melalui pendidikan dan kehidupan nyata sehari-hari.
     Meminjam
Erich Fromm, kita telah berhasil berjuang demi kebebasan (for freedom)
dari penindasan politik, dan kini tiba saatnya kita berjuang dengan
kebebasan itu (with freedom) demi kesejahteraan bersama. Dalam situasi
serbagalau, kata Fromm, kadang manusia justru takut dan lari dari
kebebasan (escape from freedom), lalu menyerahkan semua keputusan kepada
seorang pemimpin otoriter.
Semoga yang terakhir ini takkan pernah terjadi. Mari kita buktikan pada 9 April 2014!

SUARA RAKYAT

SUARA RAKYAT

      Suara rakyat akan menentukan masa depan bangsa ini. Pemilu
legislatif 9 April 2014 kemarin sedang dihitung. Setelah itu ada lagi
pemilu untuk memilih presiden dan wapres. Pemilu legislatif
paling bergairah terjadi pada 1999 saat PDIP menang dengan suara 30
persen lebih. Sementara pemilu presiden paling bergairah pada 2009
ketika Susilo Bambang Yudhoyono mengalahkan lawan-lawannya dalam sekali
putaran saat pemilihan presiden. Tapi keduanya tidak menghasilkan
pemerintahan yang kuat.
     Pemilu 1999 dimenangi PDIP tapi yang
menjadi presiden adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena permainan
politik. Meski akhirnya Gus Dur digusur dan Ketua Umum PDIP Megawati
Soekarnoputri naik dari wapres menjadi presiden, parlemen yang berisi
banyak partai tetap menampilkan banyak keinginan.
Bahkan ketika
Yudhoyono menjadi presiden pada 2004, kondisi pemerintahan tetap sama.
Kepentingan partai di parlemen sangat dominan, apalagi Partai Demokrat
(PD) yang memerintah saat itu hanya ‘partai gurem’.
Tapi pada 
2009 Yudhoyono memenangi lagi kursi presiden dengan lebih 60 persen
suara, partainya juga memenangi pemilu legislatif. Tapi pemerintahannya
malah tidak jelas, presidensial tapi koalisi. Ujung-ujungnya Yudhoyono
ditelikung oleh partai-partai kecil yang ‘numpang hidup’ dalam
koalisinya. Waktunya pun sebagian disita untuk partai, begitu pula
menteri-menterinya. Apalagi setelah Yudhoyono mengambil alih jabatan
ketua umum PD.
     Kata orang, Pemilu kali ini milik PDIP. Nah, dari
mana hitungan mereka? Rupanya mereka melihat faktor Joko Widodo
(Jokowi), Gubernur DKI yang kini menjadi calon presiden (Capres) dari
PDIP. Itulah sebabnya Megawati mengumumkan pencalonan Jokowi
sebelum pemilu legislatif agar bisa mendongkrak suara. Memang
macam-macamlah cara yang ditempuh untuk meraup suara.
     Dibanding
negara maju seperti Amerika Serikat (AS) memang beda. Di sana menarik
suara lewat program, seperti pajak, hak asasi manusia atau perekonomian.
Di sini pernah dicanangkan seperti itu tapi tidak laku karena
kebanyakan program hanya bohong. Yang sungguhan saja tidak jalan apalagi
yang hanya tipu-tipu.
Rakyat justru terbiasa dengan perilaku para
pemimpinnya, menjaring suara pakai uang. Jadilah pemilu di Indonesia
selalu diwarnai dengan politik uang atau sembako. Jokowi saja ketika di
Lampung dimintai duit, padahal dia menawari traktir makan malam pada
orang-orang yang mengurubungi. “Mentahan saja, Pak,” kata mereka yang
langsung ditolak Jokowi.
     Yang celaka adalah kampanye dengan
mengusung kejayaan mantan Presiden Soeharto. Padahal reformasi itu
justru untuk mengoreksi Orde Baru (Orba) yang otoriter dan bermandi
darah.
     Kalau melihat berbagai komentar di jagad maya,
Pemilu 2014 initampaknya lebih bergairah. Rakyat mememendam harapan
besar setelah 15 tahun reformasi hanya menyaksikan ketidakberdayaan
pemimpin. DPR menjadi gudang koruptor, pemerintah melawan preman pun tak
berdaya.
     Tahun 2014 ini ada suasana baru, ada calon presiden
alternatif yang ditunggu-tunggu, Jokowi, yang diharapkan membawa angin
segar. Megawati pernah bilang, Jokowi itu kerempeng tapi banteng.
Artinya biar dia kecil tenaganya luar biasa. Dalam setahun memimpin
Jakarta dia bisa menertibkan kawasan Tanah Abang, waduk Pluit dan Ria
Rio, dan memindahkan penduduk kampung-kampung kumuh. Dia juga bisa
membungkam DPRD, yang biasanya panen duit menjadi ‘paceklik’ berat.
     Jokowi
seperti Barack Obama, kemunculannya langsung disambut hangat rakyat AS,
padahal dia berkulit hitam. Orang AS hanya ingin yang lain, bosan
dengan jago-jago politik yang sudah gaek. Persamaan lainnya, jika Jokowi
terpilih waktunya juga tidak akan terbagi untuk partai seperti
presiden-presiden sebelumnya.
Tahun 1998 pun kita pernah punya tekad, yang penting bukan Soeharto. Ternyata yang muncul Gus Dur.
Perjalanan
sejarah telah mengantarkan kepada kita tokoh-tokoh muda yang menjadi
dambaan rakyat. Selain Jokowi ada Wagub DKI Basuki Tjahaya Purnama
(Ahok), ada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wali Kota Surabaya, Risma
Triharini (bersama Jokowi menjadi nominator walikota terbaik dunia).
Jokowi bahkan merupakan salah satu dari 50 pemimpin terbaik dunia versi
majalah Fortune.
      Kalau Jokowi menang harus didukung DPR yang kuat. Syaratnya PDIP harus menang besar. Ini
menuntut partai bekerja keras. Apalagi saat ini pun Jokowi sudah banyak
mendapat serangan, dari sindiran sampai hujatan, dari caci maki sampai
puisi.

CALEG VS CALENG

CALEG VS CALENG


      “KITA
ini adalah bangsa yang luar biasa. Demi memperjuangkan kepentingan
rakyat, orang rela berkorban habis-habisan. Orang mau menjual rumah,
tanah, mobil dan lain-lain, bahkan mau berutang ratusan juta rupiah,
demi memerjuangkan kepentingan rakyat. Dan ketika gagal terpilih jadi
wakil rakyat, dia sangat sedih, bahkan gila, karena tak bisa
memperjuangkan kepentingan rakyat!”. Seorang caleg perempuan,“Jujur, saya
tidak hanya galau, tapi ngeri mendengar komentar tadi, karena
dicontohkan kasus-kasus yang tidak-tidak. Saya ini jadi caleg, tidak
ingin jadi gila, Pak. Apalagi saya ini tak punya modal, sementara tadi
dikatakan, modal jadi caleg itu harus besar,” katanya, yang disambut
tepuk tangan hadirin.
      Kurang dari tiga bulan kemudian, pemilu
legislatif digelar, 9 April 2014 lalu. Ternyata, media memang ramai
memberitakan kasus-kasus pilu caleg yang gagal. Ada yang mengamuk,
meminta kembali uang sogokannya.
Ada pula yang marah-marah, bukan
calegnya, tapi suaminya atau ayahnya. Tak sedikit pula yang mengobati
diri ke pesantren, kiai hingga rumah sakit jiwa. Bahkan ada yang gantung
diri.
      Kita mungkin tersenyum sinis menyaksikan caleg-caleg gagal
yang memelas itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya ironi dan
derita yang menimpa mereka, adalah cermin dari perilaku politik kita
juga.
Kita tidak bisa hanya menyalahkan caleg, tanpa mengkritik
para pemilih. Bukankah politik uang takkan jalan, jika pemilih menolak?
Faktanya, banyak pemilih bukannya menolak, malah meminta uang itu.
Di
sisi lain, derita yang ditanggung caleg gagal itu, menunjukkan bahwa
masih banyak caleg yang terjun ke dunia politik tanpa kesiapan mental
dan biaya. Sebagaimana bidang-bidang keahlian lain, politik
menuntut suatu keahlian dan kematangan tertentu, yang tidak cukup hanya
dipelajari melalui buku atau pidato, tetapi yang lebih penting lagi,
diasah melalui pengalaman terjun langsung ke dunia politik.
      Dalam
satu kuliah yang disampaikan di Munich University pada 1918 berjudul
Politics as Vocation, sosiolog Jerman, Max Weber antara lain menyatakan,
bahwa politisi adalah orang yang hidup demi politik, dan dari politik.
Seorang
politisi harus memiliki ambisi untuk berkuasa, entahdemi satu
cita-cita, atau demi prestise kekuasaan saja. Dengan berkuasa, ia juga
mendapatkan penghasilan untuk hidup.
Politisi yang berhasil,
menurut Weber, paling tidak memiliki tiga kualitas, yaitu gairah
(passion), rasa tanggung jawab (responsibility) dan keseimbangan (sense
of proportion).
      Gairah politisi muncul dari cita-cita yang ingin
diperjuangkannya. Dari gairah itu akan muncul rasa tanggung jawab. Namun
gairah harus terkendali oleh keseimbangan, yaitu kemampuan melihat
kenyataan secara objektif, lalu bertindak.
Kelemahan politisi,
kata Weber, umumnya adalah karena kurangnya kemampuan melihat kenyataan
secara apa adanya. Politik adalah seni kemungkinan berdasarkan
kenyataan.
Penilaian atas dasar emosi pribadi, sombong atau
terlalu percaya diri, seringkali akan menjatuhkan si politisi. Karena
itu, politisi yang baik adalah orang yang mampu menjaga jarak antara
dirinya dan realitas sehingga ia lebih objektif.
Kesadaran akan
kenyataan objektif inilah kiranya yang kini makin kita perlukan, bukan
hanya untuk caleg yang gagal, tapi juga untuk pemilu presiden nanti.
Melihat
hasil hitung cepat, ternyata tak ada satu pun partai yang mencapai 20
persen suara. Ini berarti koalisi antar partai tak dapat dihindari.
Koaliasi adalah tuntutan kenyataan. Partai yang tak mau berkoalisi
dengan partai lain, bisa jadi akan tersingkir.
Politisi harus
realistis, seperti kata Muawiyah bin Abi Sufyan, “Aku takkan memukul
jika lidahku sudah memadai, dan takkan menggunakan pedang jika cambuk
sudah cukup. Jika ada sehelai rambut yang mengikat diriku dengan
teman-temanku, aku akan berusaha mempertahankannya supaya tidak putus.
Jika mereka menarik, aku akan mengendorkan, dan jika mereka
mengendorkan, aku akan menarik.”
Lantas, apa beda antara
realistis, idealis dan oportunis? Mungkin, realistis berarti
mempertimbangkan kenyataan secara objektif. Pertimbangan akan kenyataan
itu kemudian menjadi dasar untuk bertindak.
Jika kita bertindak
dalam rangka mencapai cita-cita mulia, maka kita adalah politisi idealis
(idealis-realis). Jika tindakan itu hanya untuk kepentingan pribadi
yang sempit, maka kita adalah politisi oportunis.
Alhasil, tidak mudah menjadi seorang politisi. Lebih sulit lagi menjadi politisi yang baik dan sukses.

FENOMENA 'CABE-CABEAN' (CABE=Cewek Alay Bisa Ehem)

FENOMENA 'CABE-CABEAN' (CABE=Cewek Alay Bisa Ehem)

      FENOMENA menarik kini tengah hangat di negeri ini. Bukan tentang
pesta akbar demokrasi yang dihelat Komisi Pemlihan Umum. Bukan pula
fenomena Jokowi yang membikin panas wajan politik. Tapi, ini fenomena
remaja yang nyeleneh dan membuat kita mengurut dada. Fenomena
‘cabe-cabean’. Demikian istilah baru di kalangan remaja yang sejatinya
tidak jelas rekam jejak istilah kata cabe-cabean tersebut. Pastinya,
kata ini sudah menjadi trending topics di masyarakat, khususnya kalangan
remaja. Kata cabe-cabean menjadi sebutan bagi remaja putri yang senang
keluyuran malam, dan nongkrong berkelompok dalam komunitas pembalap
liar.
     Tak bisa dipungkiri, bangsa kita memang dikenal penggemar
berat cabai atau cabe. Dan, ketika cabe hilang di pasaran, semua orang
pun mengeluh lantaran tidak bisa menikmati sajian kuliner sebagaimana
mestinya. Itu sebabnya, urusan tanaman yang satu ini terkadang harus
digelar sidang kabinet. Inilah betapa unik dan menariknya cabe bagi
masyarakat di negeri ini. Soal cabe-cabean pun menjadi menarik
jika kita merujuk pada akronim ‘Cabe’ = “Cewek Alay Bisa Ehem”. Nah,
dengan definisi yang longgar itu menggambarkan gadis-gadis belia
mengintrodusir norma dan etika di masyarakat dengan cara pandang seenak
hatinya. Dan, kota-kota besar di negeri ini memberi banyak ruang
munculnya fenomena “cabe-cabean”.
     Cabe-cabean bukan saja sekadar
menganut paham bebas bergaul, melainkan juga udah sampai pada tahap seks
bebas. Seperti dimedia-media berita, tarif
untuk cabe-cabean mencapai puluhan juta rupiah. Dunia cabe-cabean
dikenal klasifikasi atau kategori, mulai cabe ijo, cabe merah dan cabe
oranye. Cabe ijo biasanya remaja putri SMA yang suka nongkrong di
tempat-tempat tertentu yang tengah ngetrend. Sedangkan cabe merah
biasanya remaja putri suka kongkow di klub-klub atau kafe dan
supermarket. Sementara cabe oranye adalah tipe gadis jalanan yang biasa
nongkrong sambil menonton balapan liar. Suka naik motor bonceng tiga,
dan tidak pakai helm. Biasanya sambil cekikikan, main HP, dan pakai
behel. Kita meyakini fenomena cabe-cabean tidak hanya terjadi di Jakarta
tapi juga terjadi di banyak kota besar, termasuk Banjarnegara.
      Sejatinya,
fenomena “cabe-cabean” sudah muncul di Indonesia sejak tahun 2000. Kala
itu, seperti laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) munculnya fenomena pekerja seks komersial yang dilakukan siswa
sekolah menengah atas. Fenomena itu kemudian meluas hingga ke tingkat
sekolah menengah pertama. Harus diakui, berkembangnya pekerja seks
komersial pada usia anak karena selama ini belum ada hukuman yang
memberi efek jera untuk ‘agen’ yang memasarkan ‘cabe-cabe’ Seharusnya,
para agen dikenakan pasal berlapis bila terbukti menyalurkan pekerja
seks komersial di bawah 18 tahun. Sebenarnya, di dalam UU Perlindungan
Anak sudah ada sanksi hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan yang
merugikan anak.
      Sayangnya, selama ini, penegak hukum hanya
menggunakan KUHP yang terbilang konvensional sehingga sering pelaku
hanya dijatuhi hukuman beberapa bulan penjara. Padahal, jika digunakan
UU Perlindungan Anak, sanksi pidana yang berat bisa memberikan efek jera
bagi pelaku. Ketua Komisi Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menilai
fenomena cabe-cabean adalah tindakan kreatif yang keliru yang dilakukan
remaja, Sejatinya, tidak hanya fenomena cabe-cabean, fenomena arisan
seks remaja, dan tawuran juga terjadi karena energi mereka yang tidak
tersalurkan secara positif. Semua ini berkorealsi kuat pola asuh
orangtua yang begitu permisif ikut menyuburkan fenomena tersebut.
      Mencegah
gadis-gadis remaja agar tidak terpengaruh dan larut dalam fenomena ini,
bukanlah pekerjaan yang mudah. Semua tergantung pergaulan yang dipilih
anak-anak dan norma yang diterapkan keluarga. Orangtua dan sekolah
berperan besar dalam upaya pencegahan. Orangtua harus melakukan mengatur
dan mengawasi anak-anaknya keluar malam, sementara sekolah harus tegas
dengan aturan berpakaian siswi-siswinya