NYEPI MENGHALAU SEPI
SAYA belum pernah mengalami Nyepi di Bali,hanya dapat cerita
temen-temen yang pernah mengalami nyepi di Bali. katanya Sejak pukul 6
pagi, suasana hening, senyap dan sunyi. Jalan-jalan lengang. Suara radio
dan televisi juga tak terdengar. Toko, kantor, sekolah dan universitas
tutup. Orang-orang mendekam di rumah masing-masing.
Di malam hari, sepi sunyi itu makin bertambah, ketika lampu-lampu dimatikan dan orang-orang terbenam dalam kegelapan. Bagi para turis, Bali adalah tempat yang eksotis, bukan sekadar karena alamnya yang indah, tetapi juga karena seni budayanya yang unik.
Seorang pengajar asal Australia bercanda mengatakan, Bali adalah singkatan dari ‘banyak libur’. Ini bukan hanya karena orang suka pergi berlibur ke Bali, tetapi juga karena banyaknya hari-hari besar keagamaan yang ditetapkan sebagai hari libur oleh pemerintah setempat.
Tetapi Nyepi bukanlah hari libur lokal, melainkan nasional. Bagi para penganut Hindu di negeri ini, di manapun mereka berada, mereka akan merayakan Nyepi, sebagai langkah awal memasuki Tahun Baru Saka.
Pada hari ini, mereka melaksanakan Catur Brata, yaitu tidak menggunakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak menikmati hiburan. Sebagian orang juga berpuasa dan bermeditasi.
Hari Nyepi barangkali khas Hindu, tetapi bahwa manusia sewaktu-waktu perlu menyepi agar dapat menemukan makna hidup yang sejati, mungkin bersifat universal.
Sidharta Gautama, sebelum menjadi Buddha, juga menyepi di bawah pohon besar. Bahkan, Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul, juga menyepi, beribadah di Gua Hira di Jabal al-Nur, gunung batu setinggi 281 meter di kota Makkah. Padahal, di zaman itu belum ada koran, radio, televisi dan internet. Belum ada media yang tiap saat menyediakan serbaneka informasi dan hiburan. Belum ada ponsel dan tablet yang membuat kita sibuk terhubung ke mana-mana dengan mudah dan murah. Belum ada iklan-iklan penuh rayuan di media cetak dan elektronik ataupun di baliho dan billboard. Belum ada pula pemilu yang hingar bingar.
Di era informasi dan globalisasi ini, jelas tidak mudah bagi kita untuk benar-benar menyepi. Anehnya, tak sedikit pula orang di zaman sekarang yang merasa kesepian. Penduduk makin banyak, jalan-jalan makin dipenuhi kendaraan, pasar dan mal terus diserbu pengunjung. Namun, manusia justru merasa sepi di tengah keramaian, merasa terasing dan teralienasi. Inilah paradoks zaman modern.
Paradoks itu terjadi antara lain karena untuk mengisi hidupnya, manusia modern mengejar sesuatu yang berada di luar dirinya. Dia meletakkan nilai dirinya pada apa yang dia miliki dan bagaimana sikap orang lain terhadapnya. Karena itulah, ia berusaha menumpuk harta, kuasa dan membangun citra. Tetapi karena semua ini berada di luar dirinya dan tidak melekat pada jati dirinya, ia akhirnya kesepian.
Berbeda dengan kesepian yang tak diharapkan, menyepi adalah suatu pilihan. Menyepi berarti memilih untuk menyendiri, menghindardari berbagai hubungan dengan dunia luar. Menyepi adalah upaya menemukan diri yang sejati atau suatu percakapan intim dengan diri sendiri. Diri menjadi subjek sekaligus objek. Adapun dunia luar, ia hanya ditatap dari jarak jauh, untuk memahami diri yang di sini.
Pada kisah Mahabarata, Pandawa dan Kurawa berperang, dengan menggunakan senjata dan kesaktian masing-masing. Ribuan prajurit mati dalam perang itu hingga akhirnya Pandawa menang. Namun, Yudhistira, sang pemimpin Pandawa, malah sedih. Ia telah berusaha sekuat tenaga agar pertumpahan darah itu bisa dihindari, tetapi gagal. Perang seolah suatu keniscayaan, ketika kekuasaan dipertaruhkan.
Saat itulah, Kresna menasihatinya. “Sebagaimana engkau harus berperang melawan Durna dan Bisma, sekaranglah saatnya kau berperang melawan dirimu sendiri.”
Itu pula yang diyakini pemimpin gerakan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi. Bagi Gandhi, penjajahan terjadi karena kita membiarkan diri kita dijajah oleh hawa nafsu. Percuma kita mengusir penjajah asing, jika hawa nafsu tetap menjajah diri kita.
Sayangnya, kita sering abai terhadap pertarungan di dalam diri itu, yang oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai jihad yang paling besar. Mengapa? Antara lain karena kita selalu sibuk dengan dunia, dan enggan menyepi, untuk merenungi diri, hidup dan kehidupan ini

Di malam hari, sepi sunyi itu makin bertambah, ketika lampu-lampu dimatikan dan orang-orang terbenam dalam kegelapan. Bagi para turis, Bali adalah tempat yang eksotis, bukan sekadar karena alamnya yang indah, tetapi juga karena seni budayanya yang unik.
Seorang pengajar asal Australia bercanda mengatakan, Bali adalah singkatan dari ‘banyak libur’. Ini bukan hanya karena orang suka pergi berlibur ke Bali, tetapi juga karena banyaknya hari-hari besar keagamaan yang ditetapkan sebagai hari libur oleh pemerintah setempat.
Tetapi Nyepi bukanlah hari libur lokal, melainkan nasional. Bagi para penganut Hindu di negeri ini, di manapun mereka berada, mereka akan merayakan Nyepi, sebagai langkah awal memasuki Tahun Baru Saka.
Pada hari ini, mereka melaksanakan Catur Brata, yaitu tidak menggunakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak menikmati hiburan. Sebagian orang juga berpuasa dan bermeditasi.
Hari Nyepi barangkali khas Hindu, tetapi bahwa manusia sewaktu-waktu perlu menyepi agar dapat menemukan makna hidup yang sejati, mungkin bersifat universal.
Sidharta Gautama, sebelum menjadi Buddha, juga menyepi di bawah pohon besar. Bahkan, Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul, juga menyepi, beribadah di Gua Hira di Jabal al-Nur, gunung batu setinggi 281 meter di kota Makkah. Padahal, di zaman itu belum ada koran, radio, televisi dan internet. Belum ada media yang tiap saat menyediakan serbaneka informasi dan hiburan. Belum ada ponsel dan tablet yang membuat kita sibuk terhubung ke mana-mana dengan mudah dan murah. Belum ada iklan-iklan penuh rayuan di media cetak dan elektronik ataupun di baliho dan billboard. Belum ada pula pemilu yang hingar bingar.
Di era informasi dan globalisasi ini, jelas tidak mudah bagi kita untuk benar-benar menyepi. Anehnya, tak sedikit pula orang di zaman sekarang yang merasa kesepian. Penduduk makin banyak, jalan-jalan makin dipenuhi kendaraan, pasar dan mal terus diserbu pengunjung. Namun, manusia justru merasa sepi di tengah keramaian, merasa terasing dan teralienasi. Inilah paradoks zaman modern.
Paradoks itu terjadi antara lain karena untuk mengisi hidupnya, manusia modern mengejar sesuatu yang berada di luar dirinya. Dia meletakkan nilai dirinya pada apa yang dia miliki dan bagaimana sikap orang lain terhadapnya. Karena itulah, ia berusaha menumpuk harta, kuasa dan membangun citra. Tetapi karena semua ini berada di luar dirinya dan tidak melekat pada jati dirinya, ia akhirnya kesepian.
Berbeda dengan kesepian yang tak diharapkan, menyepi adalah suatu pilihan. Menyepi berarti memilih untuk menyendiri, menghindardari berbagai hubungan dengan dunia luar. Menyepi adalah upaya menemukan diri yang sejati atau suatu percakapan intim dengan diri sendiri. Diri menjadi subjek sekaligus objek. Adapun dunia luar, ia hanya ditatap dari jarak jauh, untuk memahami diri yang di sini.
Pada kisah Mahabarata, Pandawa dan Kurawa berperang, dengan menggunakan senjata dan kesaktian masing-masing. Ribuan prajurit mati dalam perang itu hingga akhirnya Pandawa menang. Namun, Yudhistira, sang pemimpin Pandawa, malah sedih. Ia telah berusaha sekuat tenaga agar pertumpahan darah itu bisa dihindari, tetapi gagal. Perang seolah suatu keniscayaan, ketika kekuasaan dipertaruhkan.
Saat itulah, Kresna menasihatinya. “Sebagaimana engkau harus berperang melawan Durna dan Bisma, sekaranglah saatnya kau berperang melawan dirimu sendiri.”
Itu pula yang diyakini pemimpin gerakan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi. Bagi Gandhi, penjajahan terjadi karena kita membiarkan diri kita dijajah oleh hawa nafsu. Percuma kita mengusir penjajah asing, jika hawa nafsu tetap menjajah diri kita.
Sayangnya, kita sering abai terhadap pertarungan di dalam diri itu, yang oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai jihad yang paling besar. Mengapa? Antara lain karena kita selalu sibuk dengan dunia, dan enggan menyepi, untuk merenungi diri, hidup dan kehidupan ini

No comments:
Post a Comment