DASAR SINGKEK
“...sering yang mayoritas tidak mau merangkul yang minoritas, baik karena curiga, maupun karena merasa kuat”
“ORANG Cina itu tidak sombong, bahkan sangat rendah hati, karena ia tak
pernah memandang orang lain dengan sebelah mata. Soalnya, dengan dua
belah mata saja susah!” kata Ernest Prakasa, seorang warga keturunan
Cina yang kini dikenal luas sebagai comic alias pelawak <a>Stand
Up Comedy</a>.
Sejak pintu kebebasan berpendapat dan berserikat terbuka lebar di negeri ini, kita tampaknya makin belajar lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan tidak lagi dianggap mengancam, melainkan memperkaya persatuan. Warga Cina, sebagaimana warga lainnya, bebas menampilkan berbagai wujud kebudayaan mereka yang khas, sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, keragaman itu dapat disatukan melalui komedi. Jika slogan negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, maka Pandji Pragiwaksono menerjemahkannya dalam komedi menjadi Bhinneka Tunggal Tawa. Perbedaan akan larut dalam tawa. Ketika dipicu oleh sesuatu yang lucu, secara alamiah, orang akan tertawa. Dalam tawa, kita temukan kesamaan diri kita sebagai manusia.
Dalam Ngenest, Ngetawain Hidup ala Ernest (2013), Ernest Prakasa mengulas banyak hal tentang orang-orang Cina di Indonesia dan berbagai stereotip tentang mereka. Ia uraikan bahwa tidak benar semua orang Cina itu kaya, karena banyak pula yang miskin. Orang Cina itu bukannya pelit, tapi hanya tak mau rugi dan banyak akal dalam berbisnis. Orang Cina juga tidak semuanya pandai bikin makanan enak.
Memang sudah lazim, kata Ernest, kaum minoritas ditindas oleh mayoritas, bahkan di negeri Cina sendiri. Sekitar 91 persen penduduk Cina adalah orang Han, sehingga mereka yang bukan Han sering didiskriminasi.
Contoh lain, dulu Ernest sekolah di SMA yang mayoritas siswanya anak keturunan Cina. Di kelasnya, hanya ada dua siswa bukan Cina yang sering jadi korban, dikerjai teman-temannya.
Karena itu, bagi Ernest, kaum minoritas harus sabar. Ia membuat contoh lain. Hampir semua televisi di Indonesia menyiarkan sinetron, dan ratingnya tinggi. Jika Anda tidak suka sinetron, berarti Anda minoritas. Anda harus sabar. Begitu pula, sepeda motor itu mayoritas, dan mobil minoritas. Jika Anda naik mobil lalu disalip seenaknya atau ditabrak para pengendara sepeda motor, Anda harus sabar.
Suara Ernest tersebut barangkali merupakan upaya memahami diri sekaligus anjuran untuk dipahami. Ungkapan ‘harus bersabar’ adalah peringatan ke dalam, sekaligus memberi pengertian kepada pihak luar. Bagi pihak luar yang tergolong mayoritas, kewajibannya tentu bukan bersabar, melainkan melindungi dan menghormati minoritas agar diperlakukan setara dengan warga negara lainnya.
Di sisi lain, ada satu hal penting yang tampaknya kurang diperhatikan Ernest, yaitu sikap kaum minoritas dalam berhubungan dengan mayoritas, dan sebaliknya. Tak jarang, kelompok minoritas cenderung suka mengasingkan diri alias eksklusif, baik karena takut atau sebaliknya, karena sombong. Begitu pula, sering yang mayoritas tidak mau merangkul yang minoritas, baik karena curiga, maupun karena merasa kuat.
Chang-Yau Hoon (2011) dalam studinya menemukan, tiga dari empat sekolah Kristen paling bergengsi di Jakarta, yang pemiliknya dan siswanya mayoritas warga keturunan Cina kelas atas, ternyata cenderung mempertebal garis perbedaan etnis, agama dan kelas sosial. Kecenderungan ini, kata Hoon, seperti menguatkan kembali kebijakan pemisahan dan pengistimewaan etnis Cina di zaman kolonial Belanda.
Empat sekolah yang diteliti Hoon di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk menyamaratakan semua sekolah serupa yang tersebar di negeri ini. Tetapi ia adalah suatu peringatan, bahwa peran lembaga pendidikan amat penting untuk menciptakan sikap dan pola hubungan antar warga negara. Karena itu, patut pula dikaji sebaliknya: seberapa terbuka sekolah-sekolah lain menerima warga Cina?
Selebihnya, kita berterima kasih kepada comic seperti Ernest. Ia menyadarkan kita akan kesatuan dalam perbedaan melalui lelucon yang ia lontarkan. Kita dapat tertawa bersama, meskipun kita berbeda.

Sejak pintu kebebasan berpendapat dan berserikat terbuka lebar di negeri ini, kita tampaknya makin belajar lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan tidak lagi dianggap mengancam, melainkan memperkaya persatuan. Warga Cina, sebagaimana warga lainnya, bebas menampilkan berbagai wujud kebudayaan mereka yang khas, sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, keragaman itu dapat disatukan melalui komedi. Jika slogan negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, maka Pandji Pragiwaksono menerjemahkannya dalam komedi menjadi Bhinneka Tunggal Tawa. Perbedaan akan larut dalam tawa. Ketika dipicu oleh sesuatu yang lucu, secara alamiah, orang akan tertawa. Dalam tawa, kita temukan kesamaan diri kita sebagai manusia.
Dalam Ngenest, Ngetawain Hidup ala Ernest (2013), Ernest Prakasa mengulas banyak hal tentang orang-orang Cina di Indonesia dan berbagai stereotip tentang mereka. Ia uraikan bahwa tidak benar semua orang Cina itu kaya, karena banyak pula yang miskin. Orang Cina itu bukannya pelit, tapi hanya tak mau rugi dan banyak akal dalam berbisnis. Orang Cina juga tidak semuanya pandai bikin makanan enak.
Memang sudah lazim, kata Ernest, kaum minoritas ditindas oleh mayoritas, bahkan di negeri Cina sendiri. Sekitar 91 persen penduduk Cina adalah orang Han, sehingga mereka yang bukan Han sering didiskriminasi.
Contoh lain, dulu Ernest sekolah di SMA yang mayoritas siswanya anak keturunan Cina. Di kelasnya, hanya ada dua siswa bukan Cina yang sering jadi korban, dikerjai teman-temannya.
Karena itu, bagi Ernest, kaum minoritas harus sabar. Ia membuat contoh lain. Hampir semua televisi di Indonesia menyiarkan sinetron, dan ratingnya tinggi. Jika Anda tidak suka sinetron, berarti Anda minoritas. Anda harus sabar. Begitu pula, sepeda motor itu mayoritas, dan mobil minoritas. Jika Anda naik mobil lalu disalip seenaknya atau ditabrak para pengendara sepeda motor, Anda harus sabar.
Suara Ernest tersebut barangkali merupakan upaya memahami diri sekaligus anjuran untuk dipahami. Ungkapan ‘harus bersabar’ adalah peringatan ke dalam, sekaligus memberi pengertian kepada pihak luar. Bagi pihak luar yang tergolong mayoritas, kewajibannya tentu bukan bersabar, melainkan melindungi dan menghormati minoritas agar diperlakukan setara dengan warga negara lainnya.
Di sisi lain, ada satu hal penting yang tampaknya kurang diperhatikan Ernest, yaitu sikap kaum minoritas dalam berhubungan dengan mayoritas, dan sebaliknya. Tak jarang, kelompok minoritas cenderung suka mengasingkan diri alias eksklusif, baik karena takut atau sebaliknya, karena sombong. Begitu pula, sering yang mayoritas tidak mau merangkul yang minoritas, baik karena curiga, maupun karena merasa kuat.
Chang-Yau Hoon (2011) dalam studinya menemukan, tiga dari empat sekolah Kristen paling bergengsi di Jakarta, yang pemiliknya dan siswanya mayoritas warga keturunan Cina kelas atas, ternyata cenderung mempertebal garis perbedaan etnis, agama dan kelas sosial. Kecenderungan ini, kata Hoon, seperti menguatkan kembali kebijakan pemisahan dan pengistimewaan etnis Cina di zaman kolonial Belanda.
Empat sekolah yang diteliti Hoon di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk menyamaratakan semua sekolah serupa yang tersebar di negeri ini. Tetapi ia adalah suatu peringatan, bahwa peran lembaga pendidikan amat penting untuk menciptakan sikap dan pola hubungan antar warga negara. Karena itu, patut pula dikaji sebaliknya: seberapa terbuka sekolah-sekolah lain menerima warga Cina?
Selebihnya, kita berterima kasih kepada comic seperti Ernest. Ia menyadarkan kita akan kesatuan dalam perbedaan melalui lelucon yang ia lontarkan. Kita dapat tertawa bersama, meskipun kita berbeda.

No comments:
Post a Comment