Tuesday, 27 January 2015

FENOMENA 'CABE-CABEAN' (CABE=Cewek Alay Bisa Ehem)

FENOMENA 'CABE-CABEAN' (CABE=Cewek Alay Bisa Ehem)

      FENOMENA menarik kini tengah hangat di negeri ini. Bukan tentang
pesta akbar demokrasi yang dihelat Komisi Pemlihan Umum. Bukan pula
fenomena Jokowi yang membikin panas wajan politik. Tapi, ini fenomena
remaja yang nyeleneh dan membuat kita mengurut dada. Fenomena
‘cabe-cabean’. Demikian istilah baru di kalangan remaja yang sejatinya
tidak jelas rekam jejak istilah kata cabe-cabean tersebut. Pastinya,
kata ini sudah menjadi trending topics di masyarakat, khususnya kalangan
remaja. Kata cabe-cabean menjadi sebutan bagi remaja putri yang senang
keluyuran malam, dan nongkrong berkelompok dalam komunitas pembalap
liar.
     Tak bisa dipungkiri, bangsa kita memang dikenal penggemar
berat cabai atau cabe. Dan, ketika cabe hilang di pasaran, semua orang
pun mengeluh lantaran tidak bisa menikmati sajian kuliner sebagaimana
mestinya. Itu sebabnya, urusan tanaman yang satu ini terkadang harus
digelar sidang kabinet. Inilah betapa unik dan menariknya cabe bagi
masyarakat di negeri ini. Soal cabe-cabean pun menjadi menarik
jika kita merujuk pada akronim ‘Cabe’ = “Cewek Alay Bisa Ehem”. Nah,
dengan definisi yang longgar itu menggambarkan gadis-gadis belia
mengintrodusir norma dan etika di masyarakat dengan cara pandang seenak
hatinya. Dan, kota-kota besar di negeri ini memberi banyak ruang
munculnya fenomena “cabe-cabean”.
     Cabe-cabean bukan saja sekadar
menganut paham bebas bergaul, melainkan juga udah sampai pada tahap seks
bebas. Seperti dimedia-media berita, tarif
untuk cabe-cabean mencapai puluhan juta rupiah. Dunia cabe-cabean
dikenal klasifikasi atau kategori, mulai cabe ijo, cabe merah dan cabe
oranye. Cabe ijo biasanya remaja putri SMA yang suka nongkrong di
tempat-tempat tertentu yang tengah ngetrend. Sedangkan cabe merah
biasanya remaja putri suka kongkow di klub-klub atau kafe dan
supermarket. Sementara cabe oranye adalah tipe gadis jalanan yang biasa
nongkrong sambil menonton balapan liar. Suka naik motor bonceng tiga,
dan tidak pakai helm. Biasanya sambil cekikikan, main HP, dan pakai
behel. Kita meyakini fenomena cabe-cabean tidak hanya terjadi di Jakarta
tapi juga terjadi di banyak kota besar, termasuk Banjarnegara.
      Sejatinya,
fenomena “cabe-cabean” sudah muncul di Indonesia sejak tahun 2000. Kala
itu, seperti laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) munculnya fenomena pekerja seks komersial yang dilakukan siswa
sekolah menengah atas. Fenomena itu kemudian meluas hingga ke tingkat
sekolah menengah pertama. Harus diakui, berkembangnya pekerja seks
komersial pada usia anak karena selama ini belum ada hukuman yang
memberi efek jera untuk ‘agen’ yang memasarkan ‘cabe-cabe’ Seharusnya,
para agen dikenakan pasal berlapis bila terbukti menyalurkan pekerja
seks komersial di bawah 18 tahun. Sebenarnya, di dalam UU Perlindungan
Anak sudah ada sanksi hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan yang
merugikan anak.
      Sayangnya, selama ini, penegak hukum hanya
menggunakan KUHP yang terbilang konvensional sehingga sering pelaku
hanya dijatuhi hukuman beberapa bulan penjara. Padahal, jika digunakan
UU Perlindungan Anak, sanksi pidana yang berat bisa memberikan efek jera
bagi pelaku. Ketua Komisi Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menilai
fenomena cabe-cabean adalah tindakan kreatif yang keliru yang dilakukan
remaja, Sejatinya, tidak hanya fenomena cabe-cabean, fenomena arisan
seks remaja, dan tawuran juga terjadi karena energi mereka yang tidak
tersalurkan secara positif. Semua ini berkorealsi kuat pola asuh
orangtua yang begitu permisif ikut menyuburkan fenomena tersebut.
      Mencegah
gadis-gadis remaja agar tidak terpengaruh dan larut dalam fenomena ini,
bukanlah pekerjaan yang mudah. Semua tergantung pergaulan yang dipilih
anak-anak dan norma yang diterapkan keluarga. Orangtua dan sekolah
berperan besar dalam upaya pencegahan. Orangtua harus melakukan mengatur
dan mengawasi anak-anaknya keluar malam, sementara sekolah harus tegas
dengan aturan berpakaian siswi-siswinya

No comments:

Post a Comment