Tuesday, 27 January 2015

WANI PIRO

WANI PIRO

     Kampanye yang hingar bingar, ditingkahi musik dan goyang aduhai
artis-artis ganteng dan cantik sudah berakhir. Sejak kemarin, kita sudah
memasuki masa tenang. Selama rentang waktu tiga minggu kampanye,
suasana persaingan antarpartai dan tokoh-tokohnya amatlah terasa, baik
yang diucapkan langsung oleh juru kampanye, atau berupa sindirian dalam
paket iklan. Warna-warni atribut partai, foto caleg hingga calon
presiden dari partai tertentu, yang tumpah ruah di ruang publik, seolah
menjadi karikatur dari pertarungan politik yang tengah berlangsung. Namun,
betapa pun panasnya persaingan, masa kampanye tahun ini relatif
berjalan aman. Memang ada sedikit kasus kekerasan di Aceh, tetapi di
daerah-daerah lain di Indonesia, umumnya berjalan aman dan damai. Ini
satu prestasi yang patut kita syukuri.
     Jelas tidaklah mudah
mengatur negeri yang amat luas dengan penduduk 240 juta ini, dengan
keragaman yang luar biasa dari segi etnis, budaya dan agama. Kalau
kita bandingkan dengan pemilu Orde Baru, maka keadaan sekarang  jauh
lebih baik. Ketika itu, pemilu hanyalah formalitas, dengan hasil yang
sudah jelas: Golkar menang di atas 60 persen, dan Soeharto tetap sebagai
presiden.
     Demi tercapainya hasil itu, seluruh aparat pemerintah,
sipil dan militer turut campur, dengan berbagai cara, termasuk melalui
ancaman, manipulasi dan kekerasan. Kita juga patut bersyukur jika
menengok keluar, ke negara-negara lain. Malaysia dan Singapura misalnya,
adalah dua negara yang tampaknya secara ekonomi lebih makmur dari kita,
tetapi dari segi kebebasan politik dalam berdemokrasi, saya kira
Indonesia lebih baik. Apalagi kalau kita melihat lebih jauh ke
Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Mesir, Suriah, Libya, Irak dan
Palestina. Indonesia masih jauh lebih baik. Namun, tentu saja kita
tidak boleh puas dengan semua ini. Masih banyak masalah yang harus
diatasi. Selama masa kampanye, masalah-masalah itu bisa kita temukan
dalam iklan-iklan politik atau pidato-pidato para juru kampanye.
     Semuanya
mengaku akan menjadi pemecah masalah, bukan sumber masalah. Mereka
berjanji anti-korupsi, pro-rakyat, dan tidak menggadaikan negara ke
pihak asing. Namanya juga kampanye, masa merayu pemilih agar mau
memilih. Berbagai cara pun dilakukan agar rakyat percaya. Segala
kesalahan dan janji-janji palsu di masa lalu sekuat tenaga dihapus dari
ingatan rakyat. Triliunan rupiah digelontorkan untuk iklan-iklan
serba indah menggugah di televisi, koran, baliho dan bilboard. Pada
akhirnya, kampanye hampir sama dengan iklan: membujuk, meski kadang
palsu.
     Mungkin keadaan ini akan mendorong kita kepada berbagai
pertanyaan serius. Apakah arti kebebasan berdemokrasi jika dalam
kenyataan pemilih disuguhi citra-citra dan kesan-kesan indah belaka?
Apakah makna kebebasan jika akhirnya uang jualah yang menang, bukan
nilai-nilai moral seperti kemanusiaan, keadilan dankejujuran? Apakah
demokrasi akhirnya tidak lebih dari kemunafikan yang santun? Saya
kira semua pertanyaan ini jawabnya gampang sekaligus susah. Gampang
karena pada akhirnya yang menentukan kualitas demokrasi adalah kita
semua yang terlibat dalam berdemokrasi. Jika pemilih cerdas dan kritis,
sadar akan tipu daya iklan dan kampanye, mungkin dia tidak mudah
terbujuk. Begitu pula politisi yang baik, tidak akan menggunakan
cara-cara yang tak bermoral dalam mendulang suara. Di sisi lain,
membuat demokrasi kita makin sehat dan dewasa jelas tidak gampang. Kita
tidak hanya perlu politisi yang baik, tetapi juga rakyat pemilih yang
baik.
     Kita tidak hanya perlu aturan pemilu yang jujur dan adil,
tapi para pelaksana yang jujur dan adil pula. Sementara kejujuran dan
keadilan adalah nilai-nilai moral yang ditanamkan dalam waktu yang lama,
melalui pendidikan dan kehidupan nyata sehari-hari.
     Meminjam
Erich Fromm, kita telah berhasil berjuang demi kebebasan (for freedom)
dari penindasan politik, dan kini tiba saatnya kita berjuang dengan
kebebasan itu (with freedom) demi kesejahteraan bersama. Dalam situasi
serbagalau, kata Fromm, kadang manusia justru takut dan lari dari
kebebasan (escape from freedom), lalu menyerahkan semua keputusan kepada
seorang pemimpin otoriter.
Semoga yang terakhir ini takkan pernah terjadi. Mari kita buktikan pada 9 April 2014!

No comments:

Post a Comment