Tuesday, 27 January 2015

SUARA RAKYAT

SUARA RAKYAT

      Suara rakyat akan menentukan masa depan bangsa ini. Pemilu
legislatif 9 April 2014 kemarin sedang dihitung. Setelah itu ada lagi
pemilu untuk memilih presiden dan wapres. Pemilu legislatif
paling bergairah terjadi pada 1999 saat PDIP menang dengan suara 30
persen lebih. Sementara pemilu presiden paling bergairah pada 2009
ketika Susilo Bambang Yudhoyono mengalahkan lawan-lawannya dalam sekali
putaran saat pemilihan presiden. Tapi keduanya tidak menghasilkan
pemerintahan yang kuat.
     Pemilu 1999 dimenangi PDIP tapi yang
menjadi presiden adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena permainan
politik. Meski akhirnya Gus Dur digusur dan Ketua Umum PDIP Megawati
Soekarnoputri naik dari wapres menjadi presiden, parlemen yang berisi
banyak partai tetap menampilkan banyak keinginan.
Bahkan ketika
Yudhoyono menjadi presiden pada 2004, kondisi pemerintahan tetap sama.
Kepentingan partai di parlemen sangat dominan, apalagi Partai Demokrat
(PD) yang memerintah saat itu hanya ‘partai gurem’.
Tapi pada 
2009 Yudhoyono memenangi lagi kursi presiden dengan lebih 60 persen
suara, partainya juga memenangi pemilu legislatif. Tapi pemerintahannya
malah tidak jelas, presidensial tapi koalisi. Ujung-ujungnya Yudhoyono
ditelikung oleh partai-partai kecil yang ‘numpang hidup’ dalam
koalisinya. Waktunya pun sebagian disita untuk partai, begitu pula
menteri-menterinya. Apalagi setelah Yudhoyono mengambil alih jabatan
ketua umum PD.
     Kata orang, Pemilu kali ini milik PDIP. Nah, dari
mana hitungan mereka? Rupanya mereka melihat faktor Joko Widodo
(Jokowi), Gubernur DKI yang kini menjadi calon presiden (Capres) dari
PDIP. Itulah sebabnya Megawati mengumumkan pencalonan Jokowi
sebelum pemilu legislatif agar bisa mendongkrak suara. Memang
macam-macamlah cara yang ditempuh untuk meraup suara.
     Dibanding
negara maju seperti Amerika Serikat (AS) memang beda. Di sana menarik
suara lewat program, seperti pajak, hak asasi manusia atau perekonomian.
Di sini pernah dicanangkan seperti itu tapi tidak laku karena
kebanyakan program hanya bohong. Yang sungguhan saja tidak jalan apalagi
yang hanya tipu-tipu.
Rakyat justru terbiasa dengan perilaku para
pemimpinnya, menjaring suara pakai uang. Jadilah pemilu di Indonesia
selalu diwarnai dengan politik uang atau sembako. Jokowi saja ketika di
Lampung dimintai duit, padahal dia menawari traktir makan malam pada
orang-orang yang mengurubungi. “Mentahan saja, Pak,” kata mereka yang
langsung ditolak Jokowi.
     Yang celaka adalah kampanye dengan
mengusung kejayaan mantan Presiden Soeharto. Padahal reformasi itu
justru untuk mengoreksi Orde Baru (Orba) yang otoriter dan bermandi
darah.
     Kalau melihat berbagai komentar di jagad maya,
Pemilu 2014 initampaknya lebih bergairah. Rakyat mememendam harapan
besar setelah 15 tahun reformasi hanya menyaksikan ketidakberdayaan
pemimpin. DPR menjadi gudang koruptor, pemerintah melawan preman pun tak
berdaya.
     Tahun 2014 ini ada suasana baru, ada calon presiden
alternatif yang ditunggu-tunggu, Jokowi, yang diharapkan membawa angin
segar. Megawati pernah bilang, Jokowi itu kerempeng tapi banteng.
Artinya biar dia kecil tenaganya luar biasa. Dalam setahun memimpin
Jakarta dia bisa menertibkan kawasan Tanah Abang, waduk Pluit dan Ria
Rio, dan memindahkan penduduk kampung-kampung kumuh. Dia juga bisa
membungkam DPRD, yang biasanya panen duit menjadi ‘paceklik’ berat.
     Jokowi
seperti Barack Obama, kemunculannya langsung disambut hangat rakyat AS,
padahal dia berkulit hitam. Orang AS hanya ingin yang lain, bosan
dengan jago-jago politik yang sudah gaek. Persamaan lainnya, jika Jokowi
terpilih waktunya juga tidak akan terbagi untuk partai seperti
presiden-presiden sebelumnya.
Tahun 1998 pun kita pernah punya tekad, yang penting bukan Soeharto. Ternyata yang muncul Gus Dur.
Perjalanan
sejarah telah mengantarkan kepada kita tokoh-tokoh muda yang menjadi
dambaan rakyat. Selain Jokowi ada Wagub DKI Basuki Tjahaya Purnama
(Ahok), ada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wali Kota Surabaya, Risma
Triharini (bersama Jokowi menjadi nominator walikota terbaik dunia).
Jokowi bahkan merupakan salah satu dari 50 pemimpin terbaik dunia versi
majalah Fortune.
      Kalau Jokowi menang harus didukung DPR yang kuat. Syaratnya PDIP harus menang besar. Ini
menuntut partai bekerja keras. Apalagi saat ini pun Jokowi sudah banyak
mendapat serangan, dari sindiran sampai hujatan, dari caci maki sampai
puisi.

No comments:

Post a Comment