CALEG VS CALENG
“KITA
ini adalah bangsa yang luar biasa. Demi memperjuangkan kepentingan
rakyat, orang rela berkorban habis-habisan. Orang mau menjual rumah,
tanah, mobil dan lain-lain, bahkan mau berutang ratusan juta rupiah,
demi memerjuangkan kepentingan rakyat. Dan ketika gagal terpilih jadi
wakil rakyat, dia sangat sedih, bahkan gila, karena tak bisa
memperjuangkan kepentingan rakyat!”. Seorang caleg perempuan,“Jujur, saya
tidak hanya galau, tapi ngeri mendengar komentar tadi, karena
dicontohkan kasus-kasus yang tidak-tidak. Saya ini jadi caleg, tidak
ingin jadi gila, Pak. Apalagi saya ini tak punya modal, sementara tadi
dikatakan, modal jadi caleg itu harus besar,” katanya, yang disambut
tepuk tangan hadirin.
Kurang dari tiga bulan kemudian, pemilu
legislatif digelar, 9 April 2014 lalu. Ternyata, media memang ramai
memberitakan kasus-kasus pilu caleg yang gagal. Ada yang mengamuk,
meminta kembali uang sogokannya.
Ada pula yang marah-marah, bukan
calegnya, tapi suaminya atau ayahnya. Tak sedikit pula yang mengobati
diri ke pesantren, kiai hingga rumah sakit jiwa. Bahkan ada yang gantung
diri.
Kita mungkin tersenyum sinis menyaksikan caleg-caleg gagal
yang memelas itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya ironi dan
derita yang menimpa mereka, adalah cermin dari perilaku politik kita
juga.
Kita tidak bisa hanya menyalahkan caleg, tanpa mengkritik
para pemilih. Bukankah politik uang takkan jalan, jika pemilih menolak?
Faktanya, banyak pemilih bukannya menolak, malah meminta uang itu.
Di
sisi lain, derita yang ditanggung caleg gagal itu, menunjukkan bahwa
masih banyak caleg yang terjun ke dunia politik tanpa kesiapan mental
dan biaya. Sebagaimana bidang-bidang keahlian lain, politik
menuntut suatu keahlian dan kematangan tertentu, yang tidak cukup hanya
dipelajari melalui buku atau pidato, tetapi yang lebih penting lagi,
diasah melalui pengalaman terjun langsung ke dunia politik.
Dalam
satu kuliah yang disampaikan di Munich University pada 1918 berjudul
Politics as Vocation, sosiolog Jerman, Max Weber antara lain menyatakan,
bahwa politisi adalah orang yang hidup demi politik, dan dari politik.
Seorang
politisi harus memiliki ambisi untuk berkuasa, entahdemi satu
cita-cita, atau demi prestise kekuasaan saja. Dengan berkuasa, ia juga
mendapatkan penghasilan untuk hidup.
Politisi yang berhasil,
menurut Weber, paling tidak memiliki tiga kualitas, yaitu gairah
(passion), rasa tanggung jawab (responsibility) dan keseimbangan (sense
of proportion).
Gairah politisi muncul dari cita-cita yang ingin
diperjuangkannya. Dari gairah itu akan muncul rasa tanggung jawab. Namun
gairah harus terkendali oleh keseimbangan, yaitu kemampuan melihat
kenyataan secara objektif, lalu bertindak.
Kelemahan politisi,
kata Weber, umumnya adalah karena kurangnya kemampuan melihat kenyataan
secara apa adanya. Politik adalah seni kemungkinan berdasarkan
kenyataan.
Penilaian atas dasar emosi pribadi, sombong atau
terlalu percaya diri, seringkali akan menjatuhkan si politisi. Karena
itu, politisi yang baik adalah orang yang mampu menjaga jarak antara
dirinya dan realitas sehingga ia lebih objektif.
Kesadaran akan
kenyataan objektif inilah kiranya yang kini makin kita perlukan, bukan
hanya untuk caleg yang gagal, tapi juga untuk pemilu presiden nanti.
Melihat
hasil hitung cepat, ternyata tak ada satu pun partai yang mencapai 20
persen suara. Ini berarti koalisi antar partai tak dapat dihindari.
Koaliasi adalah tuntutan kenyataan. Partai yang tak mau berkoalisi
dengan partai lain, bisa jadi akan tersingkir.
Politisi harus
realistis, seperti kata Muawiyah bin Abi Sufyan, “Aku takkan memukul
jika lidahku sudah memadai, dan takkan menggunakan pedang jika cambuk
sudah cukup. Jika ada sehelai rambut yang mengikat diriku dengan
teman-temanku, aku akan berusaha mempertahankannya supaya tidak putus.
Jika mereka menarik, aku akan mengendorkan, dan jika mereka
mengendorkan, aku akan menarik.”
Lantas, apa beda antara
realistis, idealis dan oportunis? Mungkin, realistis berarti
mempertimbangkan kenyataan secara objektif. Pertimbangan akan kenyataan
itu kemudian menjadi dasar untuk bertindak.
Jika kita bertindak
dalam rangka mencapai cita-cita mulia, maka kita adalah politisi idealis
(idealis-realis). Jika tindakan itu hanya untuk kepentingan pribadi
yang sempit, maka kita adalah politisi oportunis.
Alhasil, tidak mudah menjadi seorang politisi. Lebih sulit lagi menjadi politisi yang baik dan sukses.

No comments:
Post a Comment