KETIKA HIDUP DIMULAI
Yang tidak disukai para santri adalah ‘hujan lokal’, yaitu diguyur air di tempat tidur oleh pengasuh asrama akibat tidur kesiangan. saya dapat cerita dari temen yang pernah di asrama pesantren.
Air hujan lokal itu memang tidak membahayakan. Paling-paling membuat yang tidur terperanjat dan terjaga, lalu menggigil kedinginan.
Yang lebih tidak enak adalah rasa malu pada pengasuh, dan juga kawan-kawan seasrama. Apalagi akibat siraman itu, dia harus menjemur kasurnya yang basah, yang sudah tentu menjadi bahan tontonan dan tertawaan pula.
Begitulah pendidikan di Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, ketika teman saya nyantri di sana pada pertengahan 2000-an. Mungkin bagi sebagian kita, cara seperti itu terkesan berlebihan.
Namun yang jelas, tujuannya sangat baik, yaitu melatih dan membiasakan para santri untuk bangun pagi setiap hari. Agar terbiasa, mula-mula harus dipaksa. Bagi yang tetap tak peduli, akan diberi sanksi berupa hujan lokal tadi.
Semua kita kiranya pernah mengalami beratnya bangun pagi. Apalagi anak-anak dan remaja, yang masih memerlukan jam tidur lebih lama daripada orang dewasa.
Orang dewasa pun bisa mengalami sulitnya bangun pagi, jika ia terlambat tidur hingga larut malam, atau bekerja terlalu lelah di siang hari. Pendek kata, beratnya kepala untuk bangun pagi, bisa menimpa siapa saja, tua ataupun muda.
Bagi kaum Muslim, bangun pagi adalah keharusan, karena adanya kewajiban melaksanakan Salat Subuh. Sekitar setengah jam sebelum tiba waktu salat, biasanya pengeras suara di langgar dan masjid sudah berbunyi.
Itupun belum tentu membuat orang bangun untuk salat. Apalagi ketika cuaca hujan dan dingin. Saat terbangun, tahu-tahu matahari sudah bersinar, sehingga ‘keringlah’ qunut salat Subuhnya.
Kalau direnungkan, tampaknya sulit menentukan, apakah tidur atau jaga yang ada terlebih dahulu. Mungkin tidur adalah awal dan bangun adalah akhir.
Kita tidur di rahim ibu, lalu jaga ketika lahir, tidur lagi ketika mati, terus jaga lagi di alam kubur, dan tidur lagi hingga jaga di hari kebangkitan. Tapi mungkin pula, jaga adalah awal, karena konon ruh sudah ada dan jaga sebelum tubuh diciptakan.
Keterkaitan tidur dan jaga itu amat terasa dalam soal bangun pagi di atas. Kondisi kita ketika bangun sangat ditentukan oleh kondisi tidur kita. Kalau tidurnya nyenyak dan tenang, bangunnya akan segar dan bergairah.
Sementara itu, untuk bisa tidur nyenyak dan tenang, kondisi jaga sebelum tidur juga harus baik dan tenang. Kalau pikiran kacau, tidur akan gelisah, sehingga bangun pun akan berat.
Dengan demikian, tidur dan jaga memiliki satu titik yang sangat penting dan menentukan, yaitu ketika memulai prosesnya. Setiap memulai itu sulit. All starts is difficult, kata ungkapan dalam Bahasa Inggris.
Mengapa sulit? Karena memulai berarti mengambil keputusan, menentukan arah dan pilihan. Memulai adalah wujud dari kebebasan dan tanggung jawab manusia terhadap hidupnya.
Mungkin karena itulah, agama mengajarkan doa-doa menjelang tidur dan bangun. Doa-doa itu adalah suatu permohonan kepada-Nya yang menguasai hidup dan mati, agar berkenan memberikan kepada kita awal yang baik, dan akhir yang baik pula.
Yang baik itu adalah yang bermanfaat, dan yang bermanfaat itu adalah yang membahagiakan. Bukankah kita ingin bahagia dalam tidur maupun jaga?
Alhasil, bangun pagi itu penting. Bukan sekadar udara pagi itu sejuk dan segar. Bukan sekadar matahari pagi itu indah dan hangat. Bukan sekadar kicau burung pagi itu merdu. Bukan pula karena sekarang sudah di tahun 2014.
Bangun pagi adalah perjuangan melawan godaan jangka pendek, untuk meraih kebaikan jangka panjang. Ia adalah momen penting, ketika kita memulai hidup setiap hari.
No comments:
Post a Comment