Monday, 5 December 2016

ASAL MBACOT


Jaman dulu jadi kuli tinta di kotabaru Kalimantan Selatan , seorang teman bercerita bahwa dia ditanyai ‘orang penting BIN ’ perihal saya,.pada waktu pilkada terlalu berani dan vokal bikin kegaduhan anggota. apakah saya ini termasuk golongan JIL (Jaringan Islam Liberal). Kontan saja, teman saya ini tertawa geli.
Sebenarnya saya sudah sering dituduh demikian, bahkan dikeluarga saya sendiri . Ada yang menghubungkannya dengan latar belakang pekerjaan saya yang kebetulan bermitra dengan ‘kafir’. Ada yang mengaitkannya dengan pendapat-pendapat saya yang kadang tidak sejalan dengan arus utama. Ada pula yang menggunakan label itu untuk menyingkirkan saya secara politik. Mungkin ada juga yang sekadar ikut-ikutan belaka.
Saya pribadi tidak terlalu ambil pusing dengan cap itu. Sebagai profisional kerja, saya sudah selayaknya tidak terikat dengan pendapat manapun, baik liberal, radikal, ekstrem atau moderat.
Bagi saya, melaksanakan pembelajaran yang ada, mengikuti seminar dan diskusi, juga berarti bersedia mendengarkan perbedaan pendapat. Yang terpenting, setiap pendapat ada argumennya, ada dalilnya, alias tidak asal bicara.
Namun rupanya, banyak orang yang tidak tahan dengan perbedaan itu. Apalagi perbedaan itu menyerbu menderu bagai kerumunan lebah. Melalui media, khususnya media sosial, perbedaan pendapat sangat marak. Perbedaan biasanya makin tajam jika menyangkut soal agama dan politik, seperti kasus Ahok yang belum juga dingin. Hampir tiap orang ingin ikut berbicara dan berpendapat, sehingga sangat bising!
Karena itu, wajar jika ada orang yang galau dan bingung. Inilah rupanya harga yang harus dibayar untuk kebebasan di alam demokrasi. Membaca pendapat yang berseberangan, apalagi kritik pedas, sedikit banyak akan membuat orang galau dan resah. Selain itu, banyaknya pilihan pendapat yang membanjiri saluran-saluran informasi dapat membuat orang bingung untuk memilih, manakah kiranya yang diikuti.
Mungkin karena tak tahan dengan kegalauan itu, akhirnya orang menutup telinga dari suara yang berbeda dengan menuduh lawannya liberal, radikal, sesat, kafir dan seterusnya. Tidak ada lagi keinginan untuk saling belajar dan melakukan introspeksi. Secara lahiriah memang terjadi dialog, tetapi pada hakikatnya hanyalah monolog. Mereka sama-sama berbicara, tetapi sudah tidak saling mendengarkan.
Dengan demikian tidak mengherankan jika perbedaan pendapat akhirnya berubah menjadi debat kusir. Kata-kata kasar dan sumpah serapah ditumpahkan tanpa menimbang sopan santun. Jangankan orang biasa, orang-orang yang dalam budaya kita dihormati, juga dicaci maki. Keadaan bertambah parah disebabkan oleh penyebaran berita-berita bohong oleh pihak tertentu yang sengaja memanas-manasi.
Dalam keadaan seperti ini, sangat bisa dipahami, muncul kerinduan akan seorang pemimpin kharismatik yang kuat dan bertangan besi. Diam-diam, sebagian orang ingin keriuhan perbedaan itu dapat diakhiri dengan kekuasaan otoriter yang dapat menyumbat mulut-mulut yang berbeda suara. Dengan ikut-manut pada satu pendapat, orang tidak perlu lagi berantem, dan tidak perlu pula bingung memilih.
Padahal, masalahnya adalah, ketika seseorang memiliki kewenangan berpendapat yang nyaris mutlak, maka dia cenderung akan menjadi makhluk yang berbahaya. Dia bisa menyalahgunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Apalagi, sebagai manusia, seseorang tidak selalu benar dan tepat dalam berpendapat. Tanpa mau mendengarkan yang lain, sangat mungkin dia akan keliru.
Sebagaimana Tuhan memberikan kita dua telinga dan dua mata, kita harus mau mendengar segala suara yang bergema, dan melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, jauh ataupun dekat. Semakin banyak informasi yang didapat, akan semakin arif pendapat yang diputuskan. Jika pun kita masih bingung dan tidak bisa menentukan pilihan, setidaknya, kita tidak sok tahu dan tetap rendah hati.
Sudah menjadi hukum kehidupan, setiap yang ekstrem akan memicu reaksi ekstrem pula. Perbedaan pendapat yang tajam adalah wujud pertentangan esktrem itu. Ketika keduanya berjumpa dan bersedia saling mendengarkan, niscaya akan lahir keseimbangan baru. Namun, jika masing-masing pihak ingin menang sendiri, maka akan terjadi adu kuat, dan sangat mungkin berujung pada tindak kekerasan.
Jadi, manakah yang akan kita pilih, titik imbang atau adu kuat?

No comments:

Post a Comment