“Nyong wong Banjar,” (saya 0rang banjar) ucapnya memperkenalkan diri. “Oh, kaya kue,” (oh begitu) jawabku datar. Saya tentu paham maksud orang ini. Dia ingin menunjukkan suatu identitas yang diharapkan dapat mendekatkan kami.Saya memang lahir di krandegan Banjarnegara, kedua orangtua hingga kakek-nenek saya juga orang Banjarnegara. Namun, saya tinggal di kandegan Banjarnegara hanya sampai sekolah Menengah, kemudian pindah ke Yogyakarta. Krandegan adalah Kelurahan Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah(Jateng). Salah seorang tokoh nasional asal daerah ini adalah Ebiet Gad, yang menjadi artis yang legendaris, lahir di pelosok di Banjarnegara .Tapi, identitas sebagai orang banjarnegara itu akan diganti oleh identitas yang lebih luas cakupannya ketika berada di luar Jateng. Orang luar akan menyebut sebagai orang Jawa, etnis terbesar di Indonesia. Ketika berada di luar negeri, seringkali identitas etnis itu pun lenyap, diganti dengan identitas lain yang lebih luas lagi. dilihat dan diperlakukan sebagai orang Indonesia.Dalam beragama juga begitu. Begitu pula, ketika menunaikan haji, dengan pakaian yang serupa bersama seluruh jemaah sedunia, saya adalah Muslim, titik. Aneka mazhab, organisasi, dan aliran lenyap dalam kesatuan sederhana ibadah haji.Rupanya begitulah watak identitas manusia. Ia hanyalah tanda, agar kita saling mengenal dan saling membantu dalam kebaikan. Identitas itu berlapis-lapis dan tidak pernah tunggal. Identitas juga elastis, dapat menyempit, dapat pula melebar. Identitas asal daerah, suku, bangsa, aliran, agama dapat digunakan sesuai tuntutan. Identitas membedakan sekaligus menantang kita untuk mempertemukan.Masalah muncul ketika identitas dijadikan alasan untuk menzalimi orang. Seseorang dimusuhi, dihina dan disingkirkan semata-mata karena dia beda asal daerah, etnis, organisasi atau agama. Pertimbangan mengenai kemampuan, kejujuran, dan keadilan, dibuang begitu saja. Inilah yang disebut eksklusif yaitu membuat kelompok sendiri teristimewa dari yang lain. Eksklusivisme adalah keangkuhan sosial.Ranah yang paling rentan dengan eksklusivisme adalah politik. Kursi kekuasaan memang terbatas sehingga harus diperebutkan. Guna merebutnya, orang perlu ‘pasukan’. Kesetiaan pasukan dijaga dengan cara menarik garis yang tegas antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Tak jarang, garis tegas itu dipertebal dengan cara memupuk rasa kebencian kepada identitas kelompok yang menjadi saingan.Masalah makin rumit ketika politik identitas itu telah membuahkan luka-luka kezaliman pada kelompok yang kalah. Ketika yang kalah mendapat giliran berkuasa, maka sulit bagi mereka melupakan kezaliman yang dulu mereka terima. Mereka membalas dendam. Mereka melakukan dosa yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh lawan mereka. Inilah lingkaran setan. ‘Dosa warisan’ yang turun-temurun.Ketika politik identitas itu makin merajalela, maka cita-cita mulia untuk kesejahteraan bersama akan menjadi hiasan bibir saja. Si pemimpin hanya akan menjaga kesetiaan pada ‘gerombolannya’ yang jauh lebih mudah ketimbang kesetiaan pada cita-cita bersama. Kesetiaan yang membabi buta pada kelompok itu akhirnya membuat mereka laksana katak dalam tepurung dan jago dalam kandang belaka. Padahal, menurut Alquran, Islam adalah rahmat buat semesta. Menjadi rahmat tentu bukan berarti melenyapkan identitas, tapi menjembatani antaridentitas. Jembatan itu akan kokoh jika fondasinya adalah keadilan dan kesejahteraan bersama.
No comments:
Post a Comment