“Jika Anda masuk masjid, kemudian keluar. Ternyata sandal Anda hilang. Masjid itu kemungkinan besar adalah masjid NU. Kalau di Masjid Muhammadiyah, yang hilang bukan sandal, tetapi qunut. Jika Anda keluar dan seketika justru masjidnya yang hilang, maka itulah masjid aliran baru.”Demikian lelucon yang saya dengar, khawatir perihal kelompok Islam tertentu yang memperuncing perbedaan menjadi permusuhan.Padahal, manusia itu sama sekaligus berbeda. Begitu pula, umat Islam itu sama sekaligus berbeda. Karena itu, persamaan harus diakui, dan perbedaan harus dihormati.Secara fisik manusia itu sama sekaligus berbeda. Ada perbedaan jenis kelamin, warna kulit, rambut, hidung, mata hingga tinggi badan.Saudara kembar dan berjenis kelamin sama sekalipun, kalau dicermati ternyata memiliki perbedaan tampilan fisik juga. Namun, anatomi tubuh manusia dan unsur-unsur yang dikandungnya relatif sama. Kesamaan inilah yang menjadi dasar pengembangan ilmu kedokteran.Secara psikis, manusia juga berbeda sekaligus sama. Ada pribadi yang terbuka, suka bergaul, dan ada pula yang tertutup. Ada yang jenius, rata-rata hingga idiot.Namun, tiap pribadi sama-sama memerlukan rasa aman, rasa dihargai dan disayangi. Di ranah kebudayaan, terdapat aneka ragam bahasa. Namun, makna yang dikandung dalam satu bahasa dapat dipindahkan ke bahasa lain melalui penerjemahan.Islam diwahyukan untuk manusia yang sama sekaligus berbeda itu. Karena itu, Islam memiliki pokok/ batang (ushul) yang sama sekaligus cabang dan ranting (furu’) yang berbeda.Ada sejumlah ajaran dan praktik pokok yang diterima oleh semua kaum muslim, dan adapula penjabaran dan penafsiran dari ajaran dan praktik pokok itu, yang kadangkala berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain.Ungkapan-ungkapan pesan yang disampaikan dalam Alquran dan Hadis juga selaras dengan perbedaan kecenderungan dan kemampuan manusia yang menerimanya.Ada orang yang mudah menerima nasihat yang disampaikan dalam kata-kata indah dan bijak. Ada yang baru bisa menerima setelah berdialog dan berdiskusi. Ada lagi yang baru menerima kalau argumennya benar-benar meyakinkan. Menurut Ibu Rusyd, filosof dan ahli fikih abad pertengahan, paling kurang ada tiga jenis ungkapan dalam Alquran dan Hadis, yaitu yang bernada retorika (khitâbiyyah), dialektika (jadaliyya) dan demonstratif (burhaniyyah). Selain itu, ada ungkapan-ungkapan yang jelas maknanya (muhkamât), dan ada pula yang bersayap dan samar (mutasyâbihât). Yang terakhir hanya bisa dipahami oleh ulama yang kompeten.Apakah pokok ajaran dan praktik Islam itu? Pokok itu adalah Rukun Iman yang mengandung sejumlah kepercayaan, Rukun Islam yang mengandung sejumlah praktik, dan Ihsan sebagai wujud penghayatan spiritual dari pengamalan iman dan Islam.Al-Ghazali dalam Faishal al-Tafriqah bahkan menegaskan, inti ajaran Islam itu hanya tiga: iman kepada Allah, kenabian dan kehidupan sesudah mati (akhirat).Selain yang pokok tersebut, bagi kaum santri dan ulama, perbedaan pemahaman terhadap Alquran dan Hadis adalah hal biasa.Masalah seringkali muncul ketika perbedaan itu dibahas di tengah-tengah kaum awam, apalagi dengan semangat kebencian. Andai perbedaan tafsir dan pemahaman itu didiskusikan terbatas di kalangan para ulama yang kompeten, pertikaian akan lebih mudah dihindari.Mengapa perbedaan dibahas di depan orang awam? Mungkin si ulama ingin menarik banyak pengikut. Mungkin pula wawasan keilmuan si ulama sempit, hanya mau membaca dan mendengarkan argumen dari yang sealiran.Padahal, si awam perlu pegangan, si ulama perlu wawasan. Jika si ulama hanya tahu satu pendapat, dia akan fanatik. Jika si awam turut memikirkan aneka dalil, dia akan bingung. Masalah bertambah parah ketika makin banyak orang sekarang yang merasa ahli. Pasien berlagak seperti dokter. Orang awam berlagak seperti ulama.Padahal, jangankan membaca Arab gundul, Arab gondrong saja dia tak bisa! Akibatnya, kaum muslim sibuk mengurusi pertengkaran yang tidak perlu, sementara kemiskinan, kebodohan, narkoba dan pergaulan bebas dibiarkan merajalela.Jika demikian adanya, yang hilang memang bukan sandal, tetapi benar-benar masjid!
No comments:
Post a Comment