Saya kadang heran kok bisa ya seorang temen saya yang satu ini. Dulu jaman sekolah bisa berubah-rubah dari sekolah dasar sampai kuliah dan berkeluarga. dari kehidupan yang tertekan sampai kehidupan bebas bahkan super liar. Tapi dalam menapaki dunia sekarang dimana kata orang sekarang dunia kejam. malah dia bisa super tenang bahkan berbagai terpaan masalah misal dengan ditipu rekan kerja berjumlah sampai Milyaran tapi cukup dengan kata. itu bukan milikku dan heranya lagi tidak berusaha mencari kepradaan milyaran tersebut dan bukan itu saja masih banyak masalah. bikin terheran dan geleng kepala saya. Susah cari orang seperti itu. Sabar dan menerima dengan lapang dada.
Seorang teman bercerita, konon katanya, dia punya masalah dengan mertuanya gara-gara ribut kubu Ahok dan Anti-Ahok. Anggap saja begini: Ia dan suaminya adalah golongan yang menganggap Ahok tidak menista Alquran, sedangkan mertuanya adalah kubu yang menuntut kasus mulut comel Ahok diusut hingga tuntas.
Dua kubu ini berdebat seru di grup-grup whatsapp serta akun-akun sosial media mereka perihal alur kasus di Kepulauan Seribu, aksi bela Islam jilid pertama, jilid kedua hingga jilid-jilid yang akan datang. Lama kelamaan, tanpa mereka sadari, debat tekstual itu makin panas. Kebetulan, baik menantu maupun mertua sama-sama terpelajar pula. Mereka berdua merasa punya sikap beragama yang dilandasi konsekuensi logis dan pijakan perspektif yang kuat. Saya pun menjawab dengan serius,"Kalau mau berantem itu soal diskusi mau beli tanah atau debat harga rumah aja kan lebih keren. Berantem kok gara-gara Ahok…"
Rasa-rasanya, sejak akun sosmed kita jarang adem ayem pasca pilpres dua tahun lalu, fenomena semacam ini tidak ada habisnya. Coba diingat-ingat, siapa di antara kita yang belum baikan sama sahabat gara-gara beda pilihan calon presiden, padahal Jokowi sama Prabowo sendiri sudah kencan berkali-kali mulai dari nyari kodok hingga naik kuda. Atau, siapa diantara kita yang sering membatin dalam hatinya semacam ini: "Si A itu sebetulnya baik sih, dia temanku sejak kecil, dia suka membantu orang lain…tapi kok sekarang jadi buzzer politik ya…tapi kok sekarang jadi bala jonru ya… tapi kok sekarang posting di akunnya bego banget ya…". Dih, hayo, ternyata nggak saya aja!
kalimat tidak berpanjang-panjang itu mestinya justru menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk bersama-sama mengakui ketololan diri masing-masing dan merasa konyol untuk larut dalam aktivitas sindir menyindir di sosial media karena merasa lebih saleh dan bertakwa. Ada juga lho yang kadarnya sudah sampai sulit tidur gara-gara hari ini kalah debat dalil dan kalah argumen ilmiah, dan dalam batin berniat untuk melanjutkan debat lanjutan di hari esok dengan persiapan dukungan data yang lebih lengkap. Halo, Ibu-ibu, itu gorengan ikan di dapur gosong sudah diangkat?
Agama itu kan mestinya sederhana: biar tenang, biar damai, biar rajin bekerja, biar nambah saudara, biar sayang keluarga, biar saling tolong menolong dalam kebaikan. Lah, zaman sekarang, kebanyakan cabang dewan debat aliran agama, udah nggak ada bedanya sama hatersnya Agnes Mo atau fansnya JKT 48. Memang betul sih, di mimbar-mimbar yang mereproduksi agama secara instan, ia seolah-olah menjadi alat untuk membangun sebuah kerajaan utopis yang mustahil bagi kehidupan manusia.
Semesta itu berbentuk dunia Islam dalam sempitnya pemikiran ideologi-ideologi tertentu yang menolak realitas kemanusiaan. Mereka menghilangkan sifat Ar Rahman Allah yang memayungi seluruh makhluk. Maka, muncul generasi baru yang suka marah, mengumpat dan menyerang umat lainnya sebab gagal mewujudkan cita-cita hidup yang seragam itu.
Generasi anti-realitas itu jumlahnya terus berlipat ganda dan semakin nyata. Banyak dari mereka bahkan sudah tidak lebih percaya dan tidak menaruh adab pada orang tuanya sendiri. Mereka memasrahkan akal sehatnya pada guru yang jauh dari kapasitas murabbi ruuh. Demi ideologisasi keseragaman yang mustahil, mereka rela meninggalkan orang tua, dan pelan-pelan juga membuat batas pada saudara, sanak keluarga, serta teman-teman dekatnya sendiri.
Mereka menggunakan hadis seruan jihad (perlawanan) untuk mendukung keputusannya, sedangkan tugas utama manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah fil ardh, atau penjaga yang baik bagi bumi seisinya. Gelombang pendakwah kalah yang tidak siap pada berbagai kondisi iman dan ragam manusia tidak akan mencipta harmoni, melainkan chaos satu ke chaos lainnya.
Seperti pula Almarhum Gus Dur, memang sosok guru yang cenderung unik. Keunikan itu dapat kita saksikan lewat hal-hal yang paling dekat dengan beliau sendiri. Sebagai pribadi yang "nyeni" dan pandai bergaul dengan semua golongan, mereka justru kerap dianggap aneh dan diragukan keulamaannya. Gus Mus bertopi ala penyair Pablo Neruda, membuat sajak dan melukis.
Kuntowijoyo memang pernah bertanya,"Jika agama tidak boleh kubawa berpolitik, apa ia mesti disimpan dalam lemari?" Kita tentu boleh bersepakat dengan Kuntowijoyo, tetapi yang ia maksud dengan kata "berpolitik" tentu saja bukan sekadar sotoy di sosial media. Bolehlah menguji nilai Islam mana yang lebih baik untuk membangun sekolah, bolehlah kita mengadu konsep Islam yang lebih baik dalam mewujudkan ekonomi berasas keadilan, bolehlah kita berpikir konsep Islam bagian mana yang anti macet Jakarta dan bisa mengurangi pengangguran. Diskusi yang begitu sih sepertinya nggak bakalan berisik. Hehehe…
Jadi, kalau hari ini atau besok sedang debat agama trus ngomel-ngomel sendiri, coba dicek itu agama atau apa kok bikin stres.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
No comments:
Post a Comment