Ada dua kejadian menarik dalam skala nasional belakangan ini. Pertama adalah peristiwa yang berhubungan dengan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo. Kedua, dan ini lebih besar, peristiwa yang berhubungan dengan pidato Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta di Kepulauan Seribu.
Substansi keduanya kita sudah sama-sama tahu. Kedua peristiwa itu memberi banyak pelajaran berharga, dalam kapasitas kita sebagai warga masyarakat yang hidup dalam komunitas sosial bernama bangsa Indonesia.
Dari perjalanan sejarah bangsa yang berliku, memberi pemahaman bahwa permasalahan yang berhubungan dengan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), harus diselesaikan dengan sangat hati-hati, penuh kebijakan dan kelembutan. Sedikit kekerasan berlabel SARA akan memunculkan friksi berkepanjangan dan berakibat kepada terjadinya konflik. Taruhannya adalah terdegradasinya kualitas sistem sosial yang akan membawa dampak kepada disintegrasi sosial.
Akibat berikutnya, tentu saja akan menyebabkan terganggunya integritas kebangsaan. Peristiwa itu begitu ramai di jejaring sosial dengan segala macam dimensinya. Sasaran semuanya adalah pada batin kita sebagai sesama warga bangsa, yang secara jujur menunggu dan berharap. Menunggu bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu dan berharap semoga tidak terjadi apa apa yang bersifat negatif dalam pergaulan sosial kemasyarakatan, yang pasti terganggu akibat kedua peristiwa dimaksud.
Kedua momentum itu pada tataran media begitu hiruk-pikuk dipublikasikan, khususnya media online. Untuk media cetak tampaknya terbatas dipublikasikan, demikian juga media televisi.
Fungsi pers sebagai media pendidikan dan perekat sistem sosial teruji ampuh dalam kedua peristiwa dimaksud. Identitas sosial dimaksudkan adalah sebuah identifikasi ingroup, pada dimensi kebangsaan yang dibuhul dalam komunitas modern bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Konsep mengenai identitas sosial ini digunakan untuk merujuk ke bagian dari konsep diri yang berasal dari kategori sosial orang terkait. Begitu rentan pengaruh dari luar terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang dipicu oleh masalah SARA, sehingga mobilitas sosial menjadi sangat mudah terbentuk dan diarahkan kepada hal-hal yang sifatnya negatif, dan merusak lem perekat identitas sosial. Ketika hal ini diarahkan, menyebabkan kekaburan sikap, kekaburan konsep dan ketidakjelasan identitas diri di hadapan komunitas sosial dan menjadikan dasar terdegradasinya kualitas identitas sosial.
Inilah yang dimaksudkan dengan krisis identitas sosial yang berpengaruh terhadap pola komunikasi dan persepsi masyarakat. Semuanya serba gamang, ukuran kebenaran menjadi relatif, dan semuanya serba tidak jelas.
Kebersamaan menjadi renggang dan hubungan ingroup semakin jauh. Betapa hal demikian berbahaya bagi kelanjutan sistem sosial.Belajar dari berbagai kejadian, baik di dalam maupun di luar negeri, permasalahan yang berhubungan dengan SARA jika tidak dikelola dengan baik memunculkan kerusuhan. Demikian juga dalam dimensi sosial, hal ini akan mendatangkan krisis identitas nasional. Padahal, jika terjadi krisis identitas nasional, akan memerlukan waktu yang sangat lama memulihkannya.
Saat ini, identitas bangsa kita semakin kabur, tidak jelas. Bangsa Indonesia yang seharusnya mempunyai ciri khas dan jatidiri sendiri, semakin lama semakin terkikis. Rakyat Indonesia seakan tidak bangga menjadi warga Indonesia, dan yang dalam bahasa ekstrem ada yang menyesal kenapa dilahirkan di Indonesia.
Kebanggaan yang luntur pertanda dari krisis identitas sosial, yang menjadi dasar dari identitas bangsa itu di antaranya mulai lunturnya kebanggaan terhadap apa yang ada di dalam negeri sendiri. Paling jelas tampak dan terasakan adalah segala hal yang berbau luar negeri langsung membuat kita terkagum-kagum dan sangat respek. Seakan semua yang berbau luar negeri itu bagus dan kualitasnya lebih tinggi dari apa yang dibuat dalam negeri.
Tatkala sakit pun demikian. Berobat ke luar negeri sepertinya lebih manjur, dibanding dengan rumah sakit di dalam negeri. Padahal, banyak tenaga medis luar negeri yang bersekolah di Indonesia. Kualitas peralatan dan pelayanan di Indonesia pun tidak kalah dengan luar negeri. Hanya karena brain image dan membayar lebih mahal saja, sehingga pesakitan dalam negeri yang berduit lebih cocok berobat keluar negeri.
Akibatnya, ajakan untuk mencintai produk dalam negeri, atau pelayanan prima dalam negeri sendiri seperti yang digembar-gemborkan selama ini hanya sia-sia. Tidak heran, kalau negeri ini menjadi serbuan invasi produk-produk asing..
Harusnya, kita berikan kesempatan kepada industri dalam negeri agar menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan tidak kalah dengan produk luar negeri sehingga pada gilirannya mengubah pola pikir bahwa tidak selamanya dan tidak semua produk buatan dalam negeri berada di bawah produk asing. Hal di atas adalah contoh dari produk konkret yang memberikan saham dalam terciptanya krisis identitas sosial kita.
Masalah lain yang menyebabkan bangsa ini semakin krisis identitas sosial dan harus diakui adalah minimnya tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan dan panutan di masa kini. Para pejabat publik dan elite politik yang seharusnya menjadi panutan dan teladan cenderung menampilkan sosok yang mengerikan. Cermati, bagaimana mereka ketika berdebat dan beradu argumentasi. Masyarakat bisa menilai betapa argumentasinya cenderung membela kepentingan pribadi dan golongannya.
Pada penampilan lain, tidak sedikit para pejabat publik dan elite politik melakukan tindak pidana korupsi. Pada puncuk pimpinan lembaga tinggi negara sudah begitu banyak terjerat korupsi. Padahal, mereka itu harusnya menjadi teladan dari tindakan rakyatnya. Para wakil rakyat yang seharusnya menjalankan amanahnya sebagai perpanjangan tangan rakyat, untuk menyampaikan aspirasi rakyat, tidak menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Mereka juga banyak terjerat kasus korupsi dan tindakan melawan hukum lain yang sangat jauh dari cermin keteladanan. Mereka cenderung berpikir untuk diri, dan kelompoknya.
Sungguh miris dan memprihatinkan, jika hal ini terus berkembang dan menjadi sebuah dogma kehidupan. Kita harus segera menyadari bahaya krisis identitas bangsa ini dengan kembali kepada jati diri bangsa. Bangsa yang mencintai negeri sendiri dengan segala plus minusnya, dengan segala kekhasan yang menjadi latar kehidupan bersama. Dengan demikian kehidupan dari identitas sosial akan terus berkembang ke arah positif sesuai jati diri komunitas sosial bangsa Indonesia. Kita (tanpa kecuali), seluruh warga masyarakat bertanggung jawab untuk terus mengembangkannya.
No comments:
Post a Comment