Dilanda keraguan yang parah. Keraguan itu berawal dari banyaknya aliran pemikiran Islam yang berkembang. Tiap-tiap aliran itu mengaku paling benar dan menuduh yang lain sesat bahkan kafir. Semua aliran itu dipelajarinya, dan ternyata masing-masing memiliki argumen yang kurang lebih setara.
Dalam kebimbangan, yakni jalan yang ditempuh manusia dalam mendapatkan pengetahuan. memulai dengan indra. Indra yang paling utama adalah mata. Mata ternyata tidak bisa dipercaya. Bayangan tampak tak bergerak, tetapi sejurus kemudian berpindah. Bintang tampak kecil. Tetapi menurut ilmu astronomi, bintang itu besar sekali, bahkan melebihi bumi.
Indra didustakan akal. Tetapi dapatkah akal ditolak? ‘Ya’, Saat kita tidur, kita bermimpi. Dalam mimpi, semua seolah nyata. Tetapi setelah terjaga, semua sirna. Bisa jadi, mimpi itu sebenarnya juga nyata, tapi di alam yang berbeda. Nabi bersabda, “Manusia di dunia ini tengah tertidur. Kelak setelah mati, baru mereka terjaga.” Artinya, ada jalur lain di atas akal untuk mendapatkan pengetahuan.
Jalur lain itulah yang ditempuh kaum sufi, melalui pembersihan hati dan pendekatan diri kepada Allah. Jalan inilah pula yang dipilih, yang kelak membuat lebih terbuka. argumen-argumen rasional itu kuat, tetapi penyingkapan ruhani yang langsung dari Allah jauh lebih meyakinkan. Orang yang fanatik terhadap satu pendapat, akan terdinding dari penyingkapan ruhani tersebut.
Jalan terjal yang ditempuh kaum sufi itu tidaklah mudah. Dalam perjalanan itu, keraguan tetap penting agar orang tidak tertipu. Merasa yakin seratus persen berada di jalur yang benar sama buruknya dengan putus asa, merasa tak bisa keluar dari jalur yang salah. Yang terbaik adalah, orang harus terus waspada. Dia harus berada pada posisi antara ‘harap’ dan ‘takut’. Inilah yang membuatnya tetap rendah hati.
Metode keraguan itu bukan saja penting untuk perjalanan ke langit, tetapi juga di bumi. Meski mantap dengan pendapat yang dipilihnya, orang yang rendah hati selalu menyisakan ruang cadangan, sekecil apapun ruang itu, untuk menyangsikan pendapatnya. Sebaliknya, orang yang yakin penuh tanpa cadangan keraguan sedikitpun akan menjadi angkuh dan menutup telinganya dari pendapat orang lain.
Banyak sekali ayat Alquran yang mengingatkan manusia agar mereka rendah hati dan tidak sombong. “Janganlah kalian sok suci. Dialah yang paling tahu siapa yang bertakwa”(QS 53:32); “Janganlah suatu kaum mencela kaum lainnya. Boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela” (QS 49:11). Alquran juga menganjurkan manusia untuk saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran (QS 103:3).
Ayat-ayat itu menunjukkan, ruang cadangan keraguan itu penting karena manusia bukanlah malaikat tanpa dosa. Manusia juga bukan Tuhan yang mengetahui segalanya. Keraguan di sini bukan berarti orang meninggalkan pegangan hidup (agama). Hidup tanpa pegangan itu berbahaya. Yang diragukan di sini bukanlah pegangannya, tetapi si pemegang. Apakah benar kita sudah berpegang pada pegangan itu?
Demikianlah, menyisakan ruang keraguan terhadap diri sendiri diperlukan agar manusia tetap rendah hati. Hanya dengan sikap rendah hati itulah, manusia akan saling menghormati dan menghargai.
No comments:
Post a Comment