Monday, 5 December 2016

KEMINTER


"Saya pernah mengusulkan bahan percobaan tanaman dengan perlakuan dengan infus (dengan seleksi kandungan yang diperlukan tanaman) bekas dari pasien dari rumah sakit, dari pada sebagai limbah dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk, lumayan ikut beberapa pameran tanaman, tapi hanya pameran saja tidak ada kelanjutan ya sudahlah.dan
“Saya tidak yakin dengan keunggulan inner beauty, kecantikan jiwa. Kalian para lelaki, jika benar-benar memilih kecantikan jiwa, kenapa kalian tidak menikahi nenek-nenek saja?” kata seorang komika.
Manusia idaman tentu orang yang baik hatinya dan elok parasnya. Tapi, keserasian lahir dan batin itu belum tentu mudah ditemukan dalam kenyataan. Wajah ayu boleh jadi hanya kulit yang menutupi nafsu serakah dan amarah. Wajah tampan mungkin saja hanya topeng bagi pribadi yang egois dan menindas. Sebaliknya, kulit hitam-legam tak jarang justru menyimpan hati yang putih bersih laksana salju.
Seorang cendekiawan, yang memiliki cita-cita tertentu terhadap masyarakatnya dan berjuang sekuat tenaga mewujudkannya, seringkali juga terbentur dengan kontradiksi ini. Tak jarang, dia punya banyak gagasan, tapi tidak punya kekuasaan untuk mewujudkannya. Ketika mendapatkan kekuasaan, dia masih kurang berdaya karena lemahnya dukungan atasan, bawahan bahkan rekan-rekannya sendiri.
Padahal, si cendekiawan juga manusia. Dia perlu sandaran materi bagi kehidupannya. Cita-cita tidak bisa dimakan. Ideologi tanpa dukungan ekonomi akan rapuh. Di sisi lain, di dunia yang makin materialistis ini, si cendekiawan bisa saja terperangkap nafsu serakah. Niat semula menggunakan segala sumberdaya untuk kesejahteraan bersama, akhirnya berubah menjadi untuk kesejahteraan diri sendiri belaka.
Lama-lama, pragmatisme merajalela. Ketika terjadi perebutan kekuasaan, si cendekiawan tak lebih dari politisi yang ingin dapat bagian. Mulutnya berbicara tentang cita-cita mulia, tapi di belakang layar, dia ikut dalam persekongkolan elite yang mengkhianati orang banyak. Akibatnya, kesetiaan yang dipupuknya adalah kesetiaan pada kelompok, yang lebih gampang dan aman, ketimbang kepada cita-cita semula.
Jika si cendekiawan mampu bertahan menghadapi godaan pragmatisme itu, dia akan kesepian. Kawan-kawannya menyebutnya ‘sok idealis’ sementara lawan-lawannya menganggapnya ancaman yang wajib disingkirkan. Penderitaan makin pahit jika dia tidak memiliki kekuatan ekonomi. Dia hanya akan sanggup bertahan jika didukung oleh keluarga yang tabah dan sahabat-sahabat yang tulusDi sisi lain, jika si cendekiawan memiliki modal sosial dan intelektual yang kuat, dia mungkin akan lari dari kenyataan, lalu sibuk dengan kepentingan diri sendiri. Buat apa berlelah-lelah mengurusi orang banyak jika gajinya tidak seberapa, sementara risikonya dimusuhi dan dikucilkan oleh lingkungan? Dia akhirnya puas dengan kehidupan pribadinya, tapi hanya bisa meratapi aneka krisis di masyarakatnya.
Namun, ada pula cendekiawan yang beruntung. Kesungguhannya dalam memperjuangkan cita-cita dan keteguhan pendiriannya, perlahan-lahan berhasil mengumpulkan banyak sumberdaya. Tokoh seperti ini biasanya memiliki kemampuan berkomunikasi yang tinggi dan keistimewaan yang unik. Dia akhirnya menjadi tokoh kharismatik yang melahirkan para pemuja (lovers) sekaligus para pembenci (haters).
Anehnya, baik yang berhasil ataupun gagal, sama-sama menghadapi perangkap spiritual. Yang berhasil, bisa tergoda menyalahgunakan kepercayaan publik kepadanya. Dia menjadi idola yang mengumpulkan nalar kritis para pengagumnya. Adapun yang gagal, diam-diam dia menjadi sombong diri, seolah semua orang di luar dirinya sepenuhnya kotor dan jahat. Akhirnya, keduanya ‘menuhankan’ diri sendiri.
Selain itu, perebutan sumber-sumber ekonomi dan politik yang terbatas membuat orang berharap pada kenyataan lain. Kenyataan lain itu bisa berupa masa depan gemilang nan jauh atau struktur kekuasaan di alam gaib yang diisi oleh orang-orang suci. Ada yang berharap kekurangan sumberdaya dapat diatasi melalui kekuatan gaib ini, dan adapula yang cukup puas dengan kelapangan alam ruhani itu sendiri.
Sebagai analogi, jika wajah tak cantik, orang bisa memperbaikinya dengan aneka make up hingga operasi plastik. Namun, bagaimanapun, usaha semacam itu ada batas-batasnya. Usaha lain yang bisa dilakukan adalah menggali kecantikan jiwa yang diharapkan memancar pada rupa. Jika pancaran itu tak tampak, dia mungkin akan frustrasi, tapi mungkin pula dia sudah merasa puas dengan kecantikan jiwanya.
Manakah di antara serbaneka kemungkinan peran dan pilihan di atas yang dilakoni cendekiawan-politisi. Bagaimana pula dengan cendekiawan lainnya? Entahlah.

No comments:

Post a Comment