Monday, 5 December 2016

MIRIS

Saya kadang miris. Temen sering nyinggung jangan terlalu menampakkan keislaman atau kearab-araban, katanya tidak gaul, ketinggal jamankah atau mereka tersinggung belum siap berubah keislaman. apa lagi saya tau persis jaman dulu dan sekarangpun masih seperti dulu hanya saja sekarang lebih mapan
Sesungguhnya kita seharus bangga dengan keislaman kita "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”(lihat Al-Maidah : 54 - 56).
Mari membaca Alquran pada setiap kesempatan dalam keseharian, tiada hari tanpa tilawah. Ia adalah santapan rohani bagi jiwa kita. Namun tidak cukup hanya membaca, kita perlu meresapi dan merenungi kandungannya.

Imam Nawawi berkata, i’lam anna tilawatal-qur’ani hiya afdhaludz-dzikri, wal-mathlub al-qira’atu bittadabburi, artinya, “Ketahuilah bahwa membaca Alquran adalah zikir yang paling utama, dalam membaca dituntut tadabbur (penghayatan).”
Tadabbur adalah memahami dan menghayati kandungan Alquran , “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran”. (lihat QS. An-Nisa 82)
Sudahkah Alquran merasuk jiwa kita. Seorang filosof Pakistan, Muhammad Iqbal, berkata : Make the Quran as if it is given for you. Artinya, “Jadikanlah Alquran itu sepertinya turun untukmu”.
Seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Gladstone, pernah berkata; It’s useless we fight against muslims. We will not be able to dominate them so long as there is the Quran in the hearts of the youth. Our duty now is to revoke the Quran of their hearts. Only with this way we will win and control them.
Artinya, “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Alquran. Tugas kita sekarang adalah mencabut Alquran di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.”

No comments:

Post a Comment