Dulu ketemu temen kuliah yang sudah mapan saya tanyai sejumlah pengusaha muda . Kebanyakan mereka ahli di bidang ilmu alam. saya bertanya, “Apa yang Anda sukai di antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora? Apakah Anda suka sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, filsafat atau sastra?”
Sebagian pengisaha muda itu tampak terkejut, tak menyangka ada pertanyaan seperti itu. Ternyata cukup banyak juga yang berwawasan sempit perihal ilmu sosial dan humaniora. Mungkin hal ini akibat pembidangan ilmu yang kaku. Mungkin pula karena anggapan yang salah bahwa ilmu alam lebih tinggi dari ilmu sosial dan humaniora, sehingga anak pintar ditaruh di kelas IPA, dan anak bodoh di kelas IPS.
Padahal, memahami hidup manusia tak kalah sulit, bahkan lebih sulit, dibanding memahami alam. Orang yang memahami alam dan sibuk meneliti di laboratorium tetapi tidak memiliki wawasan yang memadai tentang manusia, cenderung bermasalah secara sosial. Dia bisa menjadi manusia apatis, yang tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Lebih parah lagi jika dia merasa benar sendiri dan arogan.
Karena itu, orang perlu memiliki wawasan tentang hidup manusia. Melalui karya sastra seperti cerpen, novel, roman bahkan puisi misalnya, kita akan belajar tentang manusia dengan segala kebaikan dan keburukan sifatnya. Kita akan belajar tentang aneka perasaan manusia seperti cinta, benci, dendam, takut, harap dan lain-lain. Sastra dapat menyajikan hidup manusia yang rumit secara lebih utuh.
Selain ahli ilmu alam, orang yang mendalami kajian agama kadang juga bersikap kaku terhadap bidang ilmu lainnya. Sebagai umat Islam, kita tentu harus membaca Alquran. Tetapi membaca koran juga penting. Ilmu sosial, humaniora dan ilmu alam juga penting.
Selain Alquran , bukankah alam semesta dan diri manusia juga termasuk ayat-ayat Tuhan? Semua itu harus dibaca, dikaji dan direnungkan.
Kecenderungan kajian agama yang normatif, yang selalu menekankan apa yang seharusnya menurut kitab suci dan pendapat ulama, tanpa menimbang kenyataan yang terjadi di masyarakat, merupakan wujud dari ketertutupan terhadap kajian bidang ilmu lainnya itu. Padahal, agama hadir untuk diamalkan manusia yang hidup dalam ruang dan waktu tertentu, yang bergumul dalam sejarah.
Orang boleh saja berbicara tentang agama tertentu sebagai ‘musuh’, dengan merujuk kepada beberapa ayat Alquran . Namun orang juga harus ingat, dia berada di Indonesia, negeri yang sangat beragam.
Di atas kertas, Islam memang mayoritas. Tetapi jika dilihat penduduk tiap provinsi, kenyataannya akan berbeda. Di beberapa daerah, muslim justru minoritas. Lantas, apakah kita ingin perang saudara?
Di sisi lain, kesenjangan sosial yang semakin lebar, tingginya angka pengangguran dan korupsi yang merajalela, adalah daun kering yang siap dibakar kapan saja, termasuk dengan ‘bensin’ agama. Sayangnya, kalangan yang mencoba menawarkan pemahaman agama yang terbuka dan kontekstual kadangkala juga kurang peduli bahkan menutup mata terhadap sebab-sebab sosial ini.
Dengan demikian, kita tampaknya menderita kekurangan empati, yakni kemampuan membayangkan seolah-olah diri kita berada pada posisi orang lain. Pernahkah Anda membayangkan diri sebagai anggota dari agama dan etnis minoritas? Sebaliknya, apakah Anda dapat membayangkan diri Anda dari kelas menengah ke bawah sementara pemilu sama sekali tidak mengubah kesejahteraan hidup Anda?
Karena itu, sudah saatnya kita keluar dari kotak sempit yang mengungkung diri kita. Kita perlu saling memahami dan menumbuhkan rasa empati. Kita tidak hanya perlu berbicara, tetapi juga mendengarkan dan merasakan. Sesekali kita perlu menangis dan tertawa dengan membaca novel atau menonton film. Kita pun sesekali perlu menangis dan tertawa menghayati berbagai kejadian nyata di sekitar kita.
Namun yang pasti, kita takkan pernah bisa menangis dan tertawa dengan tulus, jika kita tak berempati!
No comments:
Post a Comment