Thursday, 27 August 2020

LITERATUR

LITERATUR 

Anak saya Ufa disetiap pulang dari kota Yogyakarta tempat embahnya akan selalu bawa oleh-oleh yang tidak bisa di makan yaitu buku cerita bisa sampai 10 buku dengan aneka harga, untuk dibaca dirumah,  saya sih okey-okey aja asal bacaan yang bisa nambah wawasan walau kadang dompet jadi setipis atm ha...ha..., itu dulu sebelum kenal hape, sekarang paling-paling 1 buku bahkan ga sama sekali beli buku gara-gara hape.

Maraknya penggunaan handphone sekarang ini telah mengubah kebiasaan masyarakat untuk memperoleh informasi secara lebih mudah dan cepat. Dengan sekali klik pada layar di handphone memiliki kemudahan untuk menelusuri berita yang terbaru dan yang sedang lagi hits.

Kurangnya referensi membaca secara tekstual juga memudahkan secara instan untuk menerima secara letter lux terhadap informasi berita apa yang sudah dibaca. Apalagi dengan maraknya berita tentang dunia keartisan yang lebih mengarah dunia gemerlap dan pemberitaaan yang wah hanyalah semakin mengurangi nilai kritis dalam berliterasi. Mengapa? Karena berita yang dibaca akan lebih condong mana yang sedang menjadi trending bukan pada berita apa yang memberi keuntungan manfaat bagi kita, sebagai pembaca. Sehingga intensitas membaca lebih ditujukan agar tidak kentara ketinggalan berita bukan pada berita apa yang memberikan nilai kontribusi positif bagi pembaca.

Dengan membaca kita memperoleh nilai plus yaitu dapat mengetahui gaya pemikiran sang penulis disamping kita dapat menikmati isi dari tulisan tersebut. Oleh karenanya membaca buku atau karangan dari seorang penulis tertentu akan dapat membantu memahami gaya pemikiran dari penulis tersebut dan sekaligus dapat memperkaya pola pikiran kita sendiri.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment