Wednesday, 26 August 2020

JENGKEL

JENGKEL

ketika kebaikan menang di atas kejahatan. Kita memimpikan hasil yang nyata dari segenap perjuangan, perjuangan yang diam-diam membuat kita mengorbankan beberapa sisi terbaik dari kehidupan.

Namun ternyata ada yang meliuk tajam dari jalinan cerita di ujung sana. Semua peta berubah. Jauh, jauh sekali dari sangkaan kita. Orang-orang itu, yang semula tampak keras berlawanan, ternyata cuma saling berbagi jarahan. Kita pun menontonnya bersama-sama dengan ternganga. Bingung. Tak paham. Sambil melirik kawan bergelut yang sama-sama kebingungan di sudut sana, kita bertanya: lalu untuk apa semua energi ledakan yang selama ini kita curahkan habis-habisan?

Kita pun marah. Kecewa. Kecewa sekali. Merasa dipermainkan dan disakiti.

Tapi, kita bisa apa? Tak ada yang kita bisa. Tak ada sama sekali. Mengamuk? Mengamuk kepada orang-orang yang telah menyulap kita menjadi bidak-bidak halma? Memangnya apa yang kemudian bisa kita lakukan kepada mereka? Tidak ada, bukan? Ya, tidak ada. Benar-benar kita ini tak berdaya. Kita cuma bisa tertawa kecil, sedikit mengumpat, sambil menekuri seribu kekonyolan yang telanjur kita lakukan.

Akhirnya kita melangkah gontai, menyambar telepon pintar yang selalu membuat kita jauh dari pintar, lalu duduk senyaman mungkin, untuk selanjutnya selama berjam-jam menonton puluhan video instant karma. Cuma di situlah kita bisa menitipkan kejengkelan-kejengkelan kita.

No comments:

Post a Comment