WARUNG KOPI
Sejak dulu di warung kopi semua bebas ngomong apa saja, sekarang di medsos demikian juga. Di warung kopi, yang paling didengarkan adalah mereka yang paling lihai berbicara, dan ternyata di medsos pun begitu pula.
Pembedanya adalah respons media-media konvensional. Saya lihat sekarang media konvensional jauh lebih terbuka menampung suara dari orang biasa di luar para anggota rezim kebenaran pengetahuan.
Punya temen bisa menulis tentang politik, agama, ekonomi, seni rupa, hingga tentang diplomasi luar negeri. Salah satu tulisan yang paling saya sukai adalah tentang kostum para tokoh dunia, yang saya baca dengan nikmat tanpa saya harus bertanya, "Lho kok menulis tentang kostum? Apa dia desainer fashion, kok berani-beraninya nulis itu?"
"Halah, gitu aja kok galau. Kita ini warga negara. Warga berhak bicara apa saja, lha wong itu hak masyarakat sipil. Memangnya yang bisa mikir cuma para pakar? Apalagi terkait hal-hal yang berpotensi mempengaruhi kepentingan kita sebagai warga. Soal ribut-ribut undang-undang belakangan ini, apa lantas kita nggak boleh bicara, mentang-mentang kita bukan alumni Law School-nya Yale University?"
Kira-kira seperti itulah pesan yang akan saya sampaikan. Adapun kepada para pakar sendiri, saya ingin mengatakan: kalaulah sampean yakin kepakaran telah mati, maka yang membunuhnya adalah Anda-Anda sendiri. Kenapa? Karena sampean sibuk ngemil bakwan saja di warung kopi.
Maka, taruh dulu bakwan scopus-nya, dan mulailah ikut berbincang-bincang dengan semuanya. Sodorkan pandangan yang tajam, ilmiah, akurat, tapi tetap dengan gaya para pengunjung warung kopi yang tak sudi mendengar istilah-istilah sekolahan yang ngeri-ngeri.
Ah, tapi untuk berbincang ala warung kopi lewat tulisan-tulisan di medsos juga tidak gampang sih. Ada tekniknya. Minimal Anda bisa menulis dengan cair, licin, lincah, dan membuat orang terus menyimak tuturan Anda.
No comments:
Post a Comment