Monday, 13 March 2017

ACEH


Pray for Aceh, masih lah belum lupa bagaimana dahsyatnya gempa megathrust berkekuatan 9,1 skala richter (SR) pada 26 Desember 2004. Trauma warga pun masih belum lenyap, meski bencana yang disertai tsunami itu sudah berlangsung 12 tahun silam.
Dan, Rabu (7/12) subuh kemarin, gempa dahsyat menyambangi lagi Tanah Rencong. Kali ini, tremor tektonik melanda Pidie Jaya yang berjarak sekira 150 kilometer dari Aceh Besar. Kekuatannya memang tidaklah sedahsyat 12 tahun silam. Tapi karena pusatnya di daratan dan kedalamannya hanya 10 kilometer, bencana kali ini juga tidak bisa dibilang remeh temeh.
Hingga tadi malam, sudah dipastikan ada 90-an orang korban tewas, dan ratusan orang dirawat karena luka serius hingga sedang. Sedangkan yang lainnya (bisa sampai ratusan orang), masih dalam upaya pencarian.
Meski, bencana ini terjadi saat subuh, di saat sebagian besar warga masih berada di dalam bangunan (rumah, tempat ibadah atau gedung lain), tapi jumlah korban yang dalam angka ratusan, bisa disebut cukup kecil. Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah korban saat gempa 12 tahun silam.
Bisa jadi, relatif sedikitnya korban karena kesadaran warga terhadap bencana sudah semakin baik. Pengetahuan mereka terhadap mitigasi bencana juga bertambah baik. (Sekali lagi) Apalagi bila dibandingkan saat 12 tahun silam.
Sebagian di antara warga Pidie , sudah tahu apa yang harus dilakukan saat mereka merasakan gempa. Pemahaman ini sangatlah membantu pengurangan risiko bencana, karena bisa mengurangi jumlah orang yang tertimpa bangunan ambruk akibat gempa.
Meski begitu, bukan berarti upaya untuk memberikan penyadaran akan arti penting mitigasi bencana kepada warga sudah selesai. Semua pihak (tidak hanya BNPB) haruslah terus-menerus memberikan pemahaman kepada warga tentang pentingnya mitigasi bencana.
Tidak hanya pada warga yang mendiami kawasan rentan gempa. Kawasan yang jauh dari patahan lempeng bumi pun patut melakukan upaya pemahaman mitigasi bencana pada warganya.
Banjarnegara Jawa Tengah misalnya, seharusnyalah peristiwa gempa di Pidie ini menjadi momentum melanjutkan upaya penyadaran dan praktik mitigasi bencana yang baik. Meskipun, Banjarnegara ini tidaklah punya gunung berapi dan jauh dari patahan, tetapi memiliki pegunungan yang sering longsor ancaman bencana. Setidaknya, kabupaten ini punya potensi tanah longsor yang sudah pernah mengguncang dunia yaitu tanah longsor yang menguruk desa karangkobar, batur, dieng, wanayasa, banjarmangu, madukara, pagedongan dan desa-desa yang rentan tanah longsor terutama daerah yang deket dengan lereng pegunungan di musim hujan ini.
Pemerintah di kabupaten ini, mulai tingkat desa (bahkan RT dan RW) harus mulai mengupayakan secara terus-menerus kebijakan soal mitigasi bencana. Yakni, serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan warga menghadapi ancaman bencana.
Selain menjadikan musibah di Pidie sebagai momentum mengetuk kesadaran kita soal bencana, tentu kita harus ikut membantu dan berdoa agar saudara-saudara kita di Aceh tidak semakin trauma pada gempa.

No comments:

Post a Comment