Kenapa saya lahir diBanjarnegara Indonesia, tapi saya mengucapkannya dengan dada semakin dipenuhi kebanggaan coba kalau lahir di Etophia mungkin lebih kurus dengan yang ada ha....ha..... Meski kalimat tersebut mungkin terdengar biasa dan ndagel tapi ini sebenarnya ungkapan serius apa adanya sebab diucapkan anak bangsa yang lahir dan besar di tanah air. Namun berkesempatan mendengarnya diungkapkan seseorang yang dalam tubuhnya tidak mengalir darah Indonesia, bahkan belum lama mengenalnya, terasa luar biasa.
Teman saya yang dari luar negeri pengusaha muda sukses, tidak ragu mengungkapkan rasa cinta terhadap Indonesia. Dalam acara pertemuan pengusaha di
Propinsi kalimantan selatan yang hadir dari berbagai komunitas, suku dan ras Indonesia, sang teman membuktikan kecintaannya.
Propinsi kalimantan selatan yang hadir dari berbagai komunitas, suku dan ras Indonesia, sang teman membuktikan kecintaannya.
"Saya sudah hapal 3000 kata dalam bahasa Indonesia."
Dalam pidatonya terselip beberapa kata dan kalimat bahasa Indonesia yang dilafalkan secara fasih.
"Saat ini saya juga sudah hafal 15 lagu Indonesia, dan masih mau menambah sampai 20 lagu.”
Untuk seorang pendatang dari luar negeri yang sibuk dengan berbagai acara penting, tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan jika tidak didukung kecintaan mendalam. Tidak ada kewajiban seorang pendatang menguasai bahasa lokal. Apalagi Pengusaha termasuk yang paling sibuk mengingat hubungan dagang yang tinggi—nilai investasi di Indonesia masuk dalam besar. Bagi negaranya, Indonesia adalah salah satu sahabat penting. Seringkali menjadi prioritas bagi Negerinya tersebut. Investasi luar negeri ke Indonesia.
"Saya mengagumi Indonesia."
Lelaki berkacamata tersebut dengan penuh wibawa menunjukkan hal-hal yang membuatnya takjub akan Negeri Zamrud Khatulistiwa melalui tampilan layar.
Sebuah slide menunjukkan potret kemacetan lalu lintas Ibu Kota. Sekilas tak ada yang menarik dari gambar seorang lelaki yang tengah menyetir sambil tersenyum, dan dua pria dalam kendaraan berbeda, sedang tertawa.
"Bukan macet yang membuat saya kagum, tapi saya melihat bagaimana orang Indonesia masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini. Di negeri saya, sudah pasti mereka marah-marah," ucapnya sambil secara bercanda memperagakan pengendara yang emosional menekan klakson.
Berikutnya lelaki yang mengenakan kemeja dengan motif tradisional salah satu wilayah Indonesia itu, menampilkan potret perumahan mewah yang tertutupi pohon-pohon besar.
"Ini foto dari beranda saya di kantor perusahaan kami. Lihat betapa hijaunya di tengah kota. Saya tidak pernah melihat seperti ini di tempat lain."
Slide berikutnya menampilkan aneka suku penduduk Indonesia dengan pakaian khas masing-masing.
"Di Indonesia, ada beragam suku bangsa dan bahasa, tapi mereka bersatu di bawah Pancasila dan payung Bhineka Tunggal Ika, sungguh luar biasa. Di negeri saya hanya terdiri dari satu bangsa, akan tetapi kini terpecah."
Sang pengusaha lalu menjabarkan kekagumannya melihat pemilu yang memiliki 450 ribu lokasi pemilihan, atau 30 kali lipat dari pemilu negerinya yang hanya mempunyai 15 ribu voting booth, namun tetap berlangsung damai.
Selanjutnya sang pengusaha menekankan lagi betapa beruntungnya bangsa Indonesia.
Beruntung. Sesuatu yang mudah luput disadari anak bangsa. Sering kita merasa iri, menyaksikan pihak lain memiliki segudang kelebihan, deret keunggulan yang membuat pihak di luar kita selalu terlihat lebih mujur.
Betapa beruntungnya kita, perasaan ini bisa saja baru menguat setelah melihat bukti-bukti yang dipampangkan melalui sudut pandang orang lain.
Bagi kebanyakan rakyat, pemilu berjalan damai terasa bagai hal biasa yang dengan cepat terlupakan. Padahal banyak bangsa di dunia harus berperang, mengucurkan darah ketika terjadi pergantian tampuk kepemimpinan. Pemilu damai selayaknya disyukuri dan rasa syukur menggelorakan semangat untuk terus menjaga ketentraman di tanah air.
Untuk sebagian besar kita, suasana damai dalam keberagaman barangkali terkesan lumrah. Di luar sana, bukan satu dua negara yang terus bertikai hanya karena perbedaan agama, berlainan suku dan keturunan. Suasana damai sejatinya kita syukuri dan jaga terus. Alhamdulillah, umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia menyadari fungsinya sebagai rahmatan lil alamin, penyejuk bagi semua.
Menatap deretan pohon yang tumbuh rindang, mungkin bukan pemandangan istimewa. Padahal di negara-negara tandus, pemerintah dan rakyatnya harus bekerja keras membuat tanah menjadi subur dengan biaya begitu mahal. Syukuri dengan menjaga kelestarian alam. Membakar hutan, membuang sampah sembarangan, pemborosan sumber daya dan energi, adalah bentuk sikap yang tidak menghargai karunia Allah untuk Indonesia
Dari negara lain, bangsa Indonesia bisa belajar banyak. Belajar jujur, menjauhi korupsi, bekerja keras, bangkit dari keterpurukan setelah krisis, dan membangun diri menjadi negara industri yang tumbuh mencengangkan tanpa kehilangan sikap santun.
Uniknya meski sudah memiliki banyak pencapaian ternyata mereka pun masih bisa menemukan ruang belajar dari Indonesia.
Jika kita pribadi mampu melihat kelebihan suatu bangsa dan dengan rendah hati bersedia terus belajar, bukan mustahil Indonesia menjadi bangsa yang besar. Tinggal mengkonkretkan lagi langkah-langkah ke sana. Yang jelas, di mata saya, dan banyak rakyat, tanah merah putih ini punya segala syarat untuk menjadi negara hebat.
No comments:
Post a Comment