Suatu sore tahun 1993 di yogyakarta, Sambil berjalan menggandeng sepeda, saya berbincang dengan seorang kawan seperjuangan Kami berbagi cerita tentang kesulitan hidup yang kami hadapi sebagai mahasiswa atau yang terkenal pada zaman itu nasib anak kost lagu dari projek pop. Percakapan semakin jauh hingga sampai kepada sikap bijak kaum sufi dalam menghadapi hidup. “Itu mirip sekali dengan Taoisme!”
Taoisme yang dipercaya sebagai ajaran Lao Tzu merupakan suatu filosofi hidup yang sangat berpengaruh dalam tradisi orang Tionghoa. Secara sederhana, Tao berarti jalan. Jalan tersebut mencakup yang mutlak, yang tak terjangkau pancaindra, sekaligus alam semesta dan manusia yang terjangkau dan relatif. Prinsip Taoisme adalah keseimbangan dan keselarasan.
Taoisme yang dipercaya sebagai ajaran Lao Tzu merupakan suatu filosofi hidup yang sangat berpengaruh dalam tradisi orang Tionghoa. Secara sederhana, Tao berarti jalan. Jalan tersebut mencakup yang mutlak, yang tak terjangkau pancaindra, sekaligus alam semesta dan manusia yang terjangkau dan relatif. Prinsip Taoisme adalah keseimbangan dan keselarasan.
Sejauh yang dapat saya pahami dari uraian Izutsu dan Murata, kaum sufi dan filosof muslim abad pertengahan, memaknai tiga realitas utama, yakni Tuhan, alam semesta dan manusia, dalam kerangka keseimbangan. Tuhan memiliki sifat-sifat jalâl (maskulin) seperti Maha Kuasa, Maha Memaksa dan lain-lain, dan juga sifat-sifat jamâl (feminin) seperti Maha Penyayang, Maha Pemaaf, dan seterusnya.
Alam semesta juga demikian. Ada langit yang maskulin, dan ada bumi yang feminin. Ada api, ada air. Ada hujan, ada panas. Ada kering, ada basah, dan seterusnya. Begitu pula manusia: ada lelaki, ada wanita. Di dalam diri manusia, ada akal, ada nafsu. Ada jiwa, ada badan, dan seterusnya. Keduanya tidak dianggap sebagai pertentangan, tetapi saling melengkapi. Perpaduan harmonis keduanya adalah kesempurnaan.
Prinsip keseimbangan ini sederhana tetapi tidak mudah diwujudkan dalam kenyatan. Dalam berpikir dan bertindak, manusia seringkali berat sebelah dan berlebihan. Ada yang memuja kebebasan pribadi, ada pula yang sujud pada kebersamaan. Ada yang memburu harta dan kuasa, lupa akan kedamaian jiwa dan raga. Ada yang terlalu lembut sehingga tak tegas. Adapula yang amat keras sehingga lupa cinta kasih.
Konflik yang muncul dalam kehidupan manusia, baik mental, pribadi ataupun sosial, umumnya terjadi karena kegagalan menciptakan keseimbangan itu akibat kebodohan dan keserakahan. Kesenjangan antara hak dan kewajiban, kerja dan istirahat, kemampuan dan tanggung jawab, hingga kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, merupakan akar dari ketegangan dan penderitaan manusia.
Karena keseimbangan adalah hukum kosmis, yakni prinsip yang berlaku dalam kehidupan alam semesta dan manusia, maka setiap pelanggaran dan gangguan terhadap prinsip ini akan melahirkan akibat dan reaksi yang setara. Ekstrem kanan akan mendorong lahirnya ekstrem kiri. Penindasan akan mendorong perlawanan. Perusakan alam oleh manusia, akan berbalik menjadi bencana alam bagi manusia.
Pada akhirnya, keseimbangan adalah perjuangan manusia sepanjang hayat. Keseimbangan sempurna tentu hanya ada pada Yang Mutlak. Tugas manusia adalah berjuang mewujudkan keseimbangan itu dalam jiwa, raga, keluarga dan masyarakat sebagai jalan yang dibentangkan oleh Yang Mutlak. Inilah perjalanan menuju Yang Mutlak, berlayar di samudera tak bertepi dan takkan pernah kembali.
Alhasil, sungguhpun banyak sekali perbedaan antara Islam dan Taoisme, ternyata di situ terdapat pula titik temu yang sangat berarti
Alam semesta juga demikian. Ada langit yang maskulin, dan ada bumi yang feminin. Ada api, ada air. Ada hujan, ada panas. Ada kering, ada basah, dan seterusnya. Begitu pula manusia: ada lelaki, ada wanita. Di dalam diri manusia, ada akal, ada nafsu. Ada jiwa, ada badan, dan seterusnya. Keduanya tidak dianggap sebagai pertentangan, tetapi saling melengkapi. Perpaduan harmonis keduanya adalah kesempurnaan.
Prinsip keseimbangan ini sederhana tetapi tidak mudah diwujudkan dalam kenyatan. Dalam berpikir dan bertindak, manusia seringkali berat sebelah dan berlebihan. Ada yang memuja kebebasan pribadi, ada pula yang sujud pada kebersamaan. Ada yang memburu harta dan kuasa, lupa akan kedamaian jiwa dan raga. Ada yang terlalu lembut sehingga tak tegas. Adapula yang amat keras sehingga lupa cinta kasih.
Konflik yang muncul dalam kehidupan manusia, baik mental, pribadi ataupun sosial, umumnya terjadi karena kegagalan menciptakan keseimbangan itu akibat kebodohan dan keserakahan. Kesenjangan antara hak dan kewajiban, kerja dan istirahat, kemampuan dan tanggung jawab, hingga kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, merupakan akar dari ketegangan dan penderitaan manusia.
Karena keseimbangan adalah hukum kosmis, yakni prinsip yang berlaku dalam kehidupan alam semesta dan manusia, maka setiap pelanggaran dan gangguan terhadap prinsip ini akan melahirkan akibat dan reaksi yang setara. Ekstrem kanan akan mendorong lahirnya ekstrem kiri. Penindasan akan mendorong perlawanan. Perusakan alam oleh manusia, akan berbalik menjadi bencana alam bagi manusia.
Pada akhirnya, keseimbangan adalah perjuangan manusia sepanjang hayat. Keseimbangan sempurna tentu hanya ada pada Yang Mutlak. Tugas manusia adalah berjuang mewujudkan keseimbangan itu dalam jiwa, raga, keluarga dan masyarakat sebagai jalan yang dibentangkan oleh Yang Mutlak. Inilah perjalanan menuju Yang Mutlak, berlayar di samudera tak bertepi dan takkan pernah kembali.
Alhasil, sungguhpun banyak sekali perbedaan antara Islam dan Taoisme, ternyata di situ terdapat pula titik temu yang sangat berarti
No comments:
Post a Comment