Monday, 13 March 2017

NGOTEWE


Entah mulai kapan, belakangan ini banyak orang tergila-gila dengan jalan-jalan. Akun-akun Twiter, facebook, WA, BB dan Instagram penuh dengan foto orang bepergian. Tempat-tempat indah yang selama ini tak cukup diketahui orang, kini ramai dikenal. Badai media sosial membuat orang kecanduan selfie, dan dari kebiasaan selfie-selfie itu mereka bersemangat menunjukkan tempat-tempat jauh yang berhasil dijelajahi. Lantas terjadilah saling bertukar kabar, hingga di mana-mana merebak virus jalan-jalan.
Tentu ini baik untuk industri wisata. Namun yang tak kalah baiknya, hobi yang mewabah ini menjadi satu lagi alternatif dalam menyediakan ruang-ruang pendidikan untuk anak-anak kita.
Keluarga kecil kami pun termasuk penggila jalan-jalan. Berkali-kali nasihat datang dari orangtua maupun saudara agar saya menabung, menginvestasikannya untuk aset ini dan itu. Tapi, ya Tuhan, kalau sudah membayangkan membelanjakan hasil tabungan buat jalan-jalan, dada ini rasanya berdentam-dentam hahaha.
Tidak harus biaya tinggi untuk jalan-jalan, sebenarnya. Kami ingat, cukup dengan hasil tabungan 10 juta rupiah asumsi kalimantan jogja 6 juta pp, kami bertiga sudah bisa keliling Yogyakarta saat Ufa masih berumur 3 tahun. Dengan anggaran yang cekak, justru itu bisa menjadi sarana mengajarkan nilai-nilai kepada anak-anak. Agar anak belajar berhemat dan bekerja keras, misalnya. Menginap rumah mbah, makan tak perlu mewah, bahkan kalau perlu menghemat ongkos transportasi jika destinasi yang dituju bisa terjangkau dengan berjalan kaki. Dengan begitu, selain langsung paham artinya berhemat, anak pun secara 'instan' akan langsung mengerti betapa kerja keras bisa membuahkan hasil yang menyenangkan. Coba lihat bagaimana ekspresi mereka, saat menemukan tempat bermain yang mengasyikkan, setelah mengayunkan langkah selama berjam-jam.
Selama di Jogja sini kami menemukan varian lain lagi dalam aktivitas jalan-jalan, sebab ada banyak tempat berkemah dan caravan park. Kalau biasanya untuk perjalanan ke sebuah tempat kami menginap di hotel yang menyedot biaya Minim 300 ribu rupiah permalam, maka di camp site kami cukup keluar ongkos 50 ribu rupiah. Itu sudah lengkap dengan air, toilet umum, dan colokan listrik. Berhemat sudah pasti, apalagi kami membawa bekal makanan hingga beras dan penanak nasi. Namun selain itu, anak kami belajar berkompromi dengan kondisi. Tidur di tempat seadanya, kalau hujan ya kena rembesan air, kalau pas badai ya kena bocoran embusan angin.
Jalan-jalan juga bisa menjadi ruang untuk mengajari anak dalam mencintai alam. Bukan sekadar agar anak mengenali makhluk hidup, dan mengenali bentangan gunung, pantai, serta sungai-sungai. Anak juga sangat bisa diajak berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ufa sangat suka dipantai sekitatan glagah yang masih alami sekitar 1 km dari rumahnya embahnya dan 5 km dari pantai induknya yaitu pantai Glagah wates kulonprogo, di pantai membuat istana pasir dan mengumpulkan cangkang-cangkang kerang. Di mana pun ia lihat benda-benda itu, beberapa sampelnya pasti ia kumpulkan.
Di pantai ini, ternyata ia menemukan cangkang yang masih ada isinya. Nah, di momen seperti inilah kami jadi punya kesempatan untuk menjelaskan, bahwa kerang hidup harus dikembalikan ke habitatnya. Ufa cuma butuh cangkangnya, untuk membikin aneka kerajinan tangan. Ia tidak butuh makhluk di dalamnya. Ia harus paham bahwa tak perlu kita membunuh makhluk hidup jika hanya untuk bersenang-senang.
Setelah melemparkan kembali kerang hidup itu ke pantai,Ufa kami ajak mengurusi cangkang-cangkang lain. Tapi kali ini bukan cangkang kerang, melainkan cangkang alias kaleng bekas minuman. Di sela gundukan bebatuan di pantai yang cantik, kaleng-kaleng tergeletak dibuang sembarangan. Lekas kami ajak ia mengumpulkan beberapa sampah kaleng, agar dibawa ke tempat yang sebenarnya telah disediakan.
Sepele, tampaknya. Tapi coba, ada berapa nilai yang bisa dipelajari dan dipraktikkan anak kami di sekitaran pantai ? Mencintai alam, itu sudah jelas. Sadar kebersihan, itu kemudian. Selain itu,Ufa juga belajar menyayangi makhluk hidup, menjaga keseimbangan alam, dan yang paling saya sukai dari kejadian itu adalah ia melatih diri berbuat kebaikan tanpa imbalan.
Masih ada deretan panjang peluang lain untuk menjalankan pendidikan karakter bagi anak-anak lewat jalan-jalan. Cobalah, misalnya, menginap di rumah warga lokal lewat pantai atau pegunungan merapi. Dari situ lagi-lagi bukan cuma pengiritan yang bisa didapat, namun juga pengalaman anak dalam mengenali perbedaan budaya, belajar memahami bahwa banyak orang tak sama selera makanannya dengan kita, bahkan banyak orang tak sama keyakinannya dengan keyakinan kita.
Dalam masyarakat kita, banyak orangtua memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang murid-muridnya seagama saja. Mereka pun tinggal di kompleks 'tematik' yang warganya juga satu agama saja. Lalu bagaimana anak-anak akan bisa memahami bahwa diri mereka tak hidup sendirian saja di dunia?
Maka, ajaklah anak berjalan-jalan. Pendidikan karakter tidak bisa kita limpahkan semata kepada sekolah, pengajian Jumat sore di masjid kampung, atau tempat kursus renang dan piano. Orangtualah pemegang kuncinya. Persoalannya, kesempatan untuk menemukan peristiwa demi peristiwa bakalan sangat terbatas manakala interaksi anak dan orangtua hanya berjalan di rumah saja, apalagi dengan nilai-nilai yang diajarkan sebatas bibir belaka.
Maka, sekali lagi, ajaklah anak-anak berjalan-jalan. Mereka harus dibawa keluar, menjelajah, menjauh dari cangkang. Tak cuma agar anak-anak mengenal tempat-tempat yang indah dan berbeda. Namun yang lebih penting lagi adalah menanamkan sikap mental, agar mereka lebih mencintai pengetahuan dan pengalaman, daripada sekadar barang-barang

No comments:

Post a Comment