Monday, 13 March 2017

GUMUNAN


Kita tidak perlu gumunan, kalau orang Jawa bilang. Tak perlu gampang terpukau. Kadang kita terkagum-kagum melihat kemajuan negara-negara kaya, termasuk Australia. Salah satu kotanya, yakni Melbourne, dinobatkan sebagai kota di dunia yang paling layak ditinggali (most liveable city). Human development index-nya tertinggi nomor dua sedunia. Pengangguran mendapat santunan dari negara. Negara memberikan perhatian sangat tinggi bagi kesejahteraan dan keselamatan anak-anak, manula, dan kaum difabel. Dan sebagainya dan sebagainya.
Namun ternyata, di balik semua gemerlap itu, negeri ini berdiri di atas genangan darah dan tumpukan mayat ratusan ribu manusia, suku asli Aborigin.
Untuk bisa melangkah maju, kita harus mengakui masa lalu. Australia punya masa lalu yang gelap, Indonesia pun punya. Tragedi 1965-1966, peristiwa suram di Aceh, Timor Timur, Papua, dan entah mana lagi, adalah setumpuk PR yang semestinya membuat kita terus berkaca.
Proses menuju pengakuan atas masa lalu yang buruk sudah pasti akan panjang dan tidak gampang. Kondisi di Australia lebih mudah daripada kita. Masa kelam mereka telah lama lewat, dua abad silam, dan para pelaku sejarahnya sudah almarhum semua. Adapun kondisi kita jauh lebih sulit. Masa gelap kita belum seabad berlalu. Banyak pelaku yang masih hidup, masih mengingat situasi emosional di masa-masa itu, sehingga subjektivitas pun masih mendapat posisi kuat. Belum lagi versi sejarah yang tidak tunggal, penuh kontroversi dan pertentangan.
Namun semua upaya untuk berdamai dengan masa lalu tetap harus dijalankan. Orang-orang biasa macam kita pun bisa mendukungnya. Minimal dengan tidak latah mengikuti sikap-sikap paranoid, yang memupuk ketakutan tak beralasan atas kebangkitan hantu-hantu masa silam, yang sesungguhnya tak lagi relevan untuk dikhawatirkan

No comments:

Post a Comment