Monday, 13 March 2017

VALENTINE


Islam memandangnya
Sederhananya, jika Muslim merayakan Hari Valentine, maka mereka sudah menjadi korban marketing perayaan tersebut. Padahal dalam sejarah Islam, kita bisa melihat betapa penting umat Islam untuk mempunyai ciri khas, berkepribadian dan membedakan diri dari yang lain.
Lihat sejarah adzan. Ketika umat Islam ingin menemukan cara memanggil untuk shalat, mereka berdiskusi. Sepakat tidak memakai loceng, terompet dan cara yang sudah dilakukan agama lain, sampai akhirnya muncul petunjuk untuk menggunakan metode adzan.
Lihat pula sejarah tahun Hijriyah. Perhitungan berdasarkan bulan sendiri sudah merupakan tradisi Arab, akan tetapi pemilihan kapan dimulainya tahun Hijrah berbeda. Mereka menghitung dari saat Hijrah Rasul, bukan berdasarkan kelahiran sebagaimana kebanyakan budaya lain.
Begitu juga memanjangkan jenggot dan mencukur kumis, salah satu cara membedakan diri. Bahkan jika kita analisa sejarah, ketika Paus Gelasius memutuskan mengadakan perayaan Valentine's Day, di dalamnya ada semangat membedakan diri dari ajaran Romawi kuno, sekaligus juga strategi menghilangkan tradisi tersebut dengan memilih waktu satu hari lebih cepat.
Dengan semangat ini, umat Islam seharusnya juga mengabaikan Valentine's Day. Merayakannya membuat umat Islam tidak membedakan diri, lebih parah justru mencitrakan Islam seolah tidak punya hari kasih sayang—padahal dalam Islam, kasih sayang seharusnya dirayakan setiap hari.
Lebih buruk lagi Hari Valentine, kini mempunyai makna lebih sempit. Kasih sayang diidentikkan sebagai hubungan bersama kekasih. Dan semakin sempit diartikan dengan melakukan hubungan intim bersama pasangan yang belum halal, sebagai puncak perayaannya. Tidak sedikit gadis muda yang menyerahkan kesucian di saat pada Hari Velentine. Sebuah perusahan cokelat menjual paket valentine dengan hadiah kondom, melihat fenomena meningkatnya penjualan kondom setiap menjelang Hari Valentine, bahkan pernah sampai 70 persen.
Jika seorang Muslim ikut merayakan, maka secara tidak langsung ia juga ikut memopulerkan budaya pacaran dan free sex.
Karena itu penting mengingatkan keluarga-keluarga muslim untuk tidak perlu bersemangat bahkan menghindari hari Valentine.
Tentu tidak harus melarang umat lain merayakannya, karena itu bagian dari kebebasan beragama, tapi bagi seorang Muslim ia tidak lebih dari Valentine yang tak Dirindukan.

No comments:

Post a Comment