ABRAKADABRA
LUAR biasa hiruk pikuknya negeri ini. Hakim senior tertangkap menerima
suap, pesakitan ngumpet di luar negeri, politikamoral mewabah. Dunia
politik Indonesia juga diramaikan oleh munculnya tuduhan terhadap sesama
politisi yang ingin mengobok-obok partai lain. Di zaman orde baru
tuduhan semacam ini biasa, tapi sekarang ?. Adalah partai Demokrat,
partaipenguasa yang kini tengah dirundung malang. Diawali dari munculnya
nama bendahara partai tersebut, M Nazaruddin, yang dikaitkan kasus
penyuapan terhadap Sekertaris Menteri Pemuda dan Olah raga dalam Proyek
pembangunan wisma atlet di Palembang, Demokrat terus diguncang oleh
berbagai isu yang menyebutkan partai itu berada dibelakangnya.
Keputusan " setengah hati" untuk memberhentikan Nazaruddin dari bendahara partai ternyata melebar menjadi polemik internal karena Nazaruddin dan kelompoknya seperti tidak mau terima. Demokrat adalah partai dengan banyak faksi. Meski tidak ada 'pembagian' yang jelas namun nampak kelompok Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Marzuki Ali dan 'faksi' keluarga punya kepentingan sendiri-sendiri. Berbagai pernyataan yang saling menyudutkan tokoh internal menunjukkan bahwa partai ini sekarang tengah dirudung cobaan. Apalagi Nazaruddin dari Singapura terus berkoar akan membongkar kasus yang lebih besar. Ia menghantam Menpora Andi Malarangeng, saingan Anas Urbaningrum dalam pemilihan ketua umum tempo hari, dan Sekertaris Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin. Mana mungkin ini bisa terjadi jika partai itu solid.
Mungkin karena bingung menghadapi perkembangan partai, atau ada skenario lain, seorang politisi muda melempar pernyataan bahwa ada politisi dari luar berinisial 'A' yang berusaha menhancurkan Partai Demokrat. Ramadhan Pohan, demikian politisi itu, tak mau berterus terang menyebut siapa tokoh A itu. Seperti dia juga mau menyebut siapa di belakangnya. Tentu saja banjak yang kebakaran jenggot karena banyak tokoh politik di luar demokrat yang memiliki nama depan A. misalnya ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung (Golkar), Anis Mata (sekjen PKS), Agung Laksono (Golkar), Amien Rais (PAN) dll. Dari internal Demokrat ada pula yang berinisial A, yakni Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Ahmad Mubarok.
Pada zaman Orde Baru kita memang sering menyaksikan betapa mudahnya penguasa membuat 'tokoh' yang seolah-olah ingin merongrong pemerintah untuk kemudian ditangkap. Bisa saja Demokrat memunculkan tokoh A sebagai upaya menutupi kekacauan partai, seolah-olah itu semua akibat perbuatan si A. Kalau ini benar, alangkah rendahnya kualitas partai itu.
Sejak reformasi sistem kepartaian memang berubah dan secara jujur lebih baik. Orang bebas mengemukakan pendapat dan perserikat termasuk mendirikan partai politk baru. Tapi dampaknya orang pun berlomba-lomba mengadu nasib dengan bikin partai, harapanya bisa jadi kepala daerah/wakil, anggota DPR/DPRD bahkan presiden. Jadi, orang masuk partai karena punya pamrih, Rakyat pun tidak mau ketinggalan, memilih calon bukan karena ideologi tapi karena duit. Dalam perkembangannya partai bukan lagi alat perjuangan tapi menjadi tempat mencari kekuasaan sekaligus perlindungan,khususnya partai yang berkkuasa. Lihat saja berapa banyak kepala daerah atau wakilnya yang pindah dari partai pengusungnya kepartai penguasa. Tujuannya jelas, melanggengkan kekuasaan dan mencari selamat.
Bukan rahasia lagi, banyak kepala daerah yang tersangkut urusan kriminal. Yang tertangkap KPK bisa langsung diproses, tapi yang ditangani kejaksaan harus melalui jalan berliku. Kejaksaan harus mendapat izin presiden sebelum memeriksa tersangka kepala daerah dan itu tidak mudah, waktunya bisa lama. Dengan begitu bagi pelaku masih ada waktu untuk mencari jalan agar tidak dihukum. Bahkan beberapa kepala daerah yang menjadi tersangka masih bisa dipilih lagi dan sampai habis masa jabatanya izin pemeriksaan bisa tidak turun, Yang ke pengadilan pun waktunya tidak sebentar, bisa-bisa bebas, seperti Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin yang juga Ketua DPD Partai Demokrat setempat.
Sayang kalau masih ada partai yang mau menjadi tempat perlindung bagi orang-orang yang berpotensi punya masalah. Partai hanya ibarat lumbung padi yang dipenuhi tikus. Tidak lagi mengutamakan rakyat karena di dalamnya penuh orang yang punya kepentingan. Wajar dalam partai lantas muncul banyak faksi yang saling jegal untuk berebut kekuasaan. Jadi apa masih mau percaya bahwa yang mengobok-obok Partai Demokrat itu orang luar, bukan dari dalam. Atau jangan-jangan misteri A itu 'abrakadabra' yang muncul lewat simsalabin.
trio macan........... hooy
Keputusan " setengah hati" untuk memberhentikan Nazaruddin dari bendahara partai ternyata melebar menjadi polemik internal karena Nazaruddin dan kelompoknya seperti tidak mau terima. Demokrat adalah partai dengan banyak faksi. Meski tidak ada 'pembagian' yang jelas namun nampak kelompok Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Marzuki Ali dan 'faksi' keluarga punya kepentingan sendiri-sendiri. Berbagai pernyataan yang saling menyudutkan tokoh internal menunjukkan bahwa partai ini sekarang tengah dirudung cobaan. Apalagi Nazaruddin dari Singapura terus berkoar akan membongkar kasus yang lebih besar. Ia menghantam Menpora Andi Malarangeng, saingan Anas Urbaningrum dalam pemilihan ketua umum tempo hari, dan Sekertaris Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin. Mana mungkin ini bisa terjadi jika partai itu solid.
Mungkin karena bingung menghadapi perkembangan partai, atau ada skenario lain, seorang politisi muda melempar pernyataan bahwa ada politisi dari luar berinisial 'A' yang berusaha menhancurkan Partai Demokrat. Ramadhan Pohan, demikian politisi itu, tak mau berterus terang menyebut siapa tokoh A itu. Seperti dia juga mau menyebut siapa di belakangnya. Tentu saja banjak yang kebakaran jenggot karena banyak tokoh politik di luar demokrat yang memiliki nama depan A. misalnya ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung (Golkar), Anis Mata (sekjen PKS), Agung Laksono (Golkar), Amien Rais (PAN) dll. Dari internal Demokrat ada pula yang berinisial A, yakni Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Ahmad Mubarok.
Pada zaman Orde Baru kita memang sering menyaksikan betapa mudahnya penguasa membuat 'tokoh' yang seolah-olah ingin merongrong pemerintah untuk kemudian ditangkap. Bisa saja Demokrat memunculkan tokoh A sebagai upaya menutupi kekacauan partai, seolah-olah itu semua akibat perbuatan si A. Kalau ini benar, alangkah rendahnya kualitas partai itu.
Sejak reformasi sistem kepartaian memang berubah dan secara jujur lebih baik. Orang bebas mengemukakan pendapat dan perserikat termasuk mendirikan partai politk baru. Tapi dampaknya orang pun berlomba-lomba mengadu nasib dengan bikin partai, harapanya bisa jadi kepala daerah/wakil, anggota DPR/DPRD bahkan presiden. Jadi, orang masuk partai karena punya pamrih, Rakyat pun tidak mau ketinggalan, memilih calon bukan karena ideologi tapi karena duit. Dalam perkembangannya partai bukan lagi alat perjuangan tapi menjadi tempat mencari kekuasaan sekaligus perlindungan,khususnya partai yang berkkuasa. Lihat saja berapa banyak kepala daerah atau wakilnya yang pindah dari partai pengusungnya kepartai penguasa. Tujuannya jelas, melanggengkan kekuasaan dan mencari selamat.
Bukan rahasia lagi, banyak kepala daerah yang tersangkut urusan kriminal. Yang tertangkap KPK bisa langsung diproses, tapi yang ditangani kejaksaan harus melalui jalan berliku. Kejaksaan harus mendapat izin presiden sebelum memeriksa tersangka kepala daerah dan itu tidak mudah, waktunya bisa lama. Dengan begitu bagi pelaku masih ada waktu untuk mencari jalan agar tidak dihukum. Bahkan beberapa kepala daerah yang menjadi tersangka masih bisa dipilih lagi dan sampai habis masa jabatanya izin pemeriksaan bisa tidak turun, Yang ke pengadilan pun waktunya tidak sebentar, bisa-bisa bebas, seperti Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin yang juga Ketua DPD Partai Demokrat setempat.
Sayang kalau masih ada partai yang mau menjadi tempat perlindung bagi orang-orang yang berpotensi punya masalah. Partai hanya ibarat lumbung padi yang dipenuhi tikus. Tidak lagi mengutamakan rakyat karena di dalamnya penuh orang yang punya kepentingan. Wajar dalam partai lantas muncul banyak faksi yang saling jegal untuk berebut kekuasaan. Jadi apa masih mau percaya bahwa yang mengobok-obok Partai Demokrat itu orang luar, bukan dari dalam. Atau jangan-jangan misteri A itu 'abrakadabra' yang muncul lewat simsalabin.
trio macan........... hooy
No comments:
Post a Comment