KORBAN IKLAN
TELEVISI
itu ibarat buah simalakama. tidak punya televisi, susah, karena jadi
tidak melek informasi dan perkembangan dunia di luar rumah. Pun
memilikinya, tetap susah karena disisi lain televisi sudah menjadi media
efektif untuk beriklan. Dan ini, imbasnya pada perilaku anak-anak.
Iklan bisa disisipkan pada slot iklan dalam tayangan untuk anak. Iklan
semacam inilah yang kerap menjadi salah satu pendorong keputusan anak
untuk berbelanja.
Tak dipungkiri, hal itu membuat anak menjadi konsuftif. Bahkan cenderung membuat anak tidak terkontrol, shingga ingin selalu membeli barang yang dia lihah di iklan. Dimana setiap kali di televisi ada iklan tentang mainan atau makanan yang ada pemerannya anak-anak, dia pasti ribut minta dibelikan, padahal harga yang ada di iklan cukup mahal, serta belum tentu terjamin keamanannya. biasanya anak mengetahui produk-produk itu dari iklan yang ditayangkan di televisi, koran dan juga majalah anak-anak.
Apapun tingkat keuangan keluarga, rendah, menengah, maupun tinggi, anak menduduki posisi kedua sebagai faktor yang membeli sesuatu barang. Posisi pertama diduduki oleh diri sendiri dan tempat ketiga adalah pasangan (suami/istri) atau anggota keluarga yang dewasa. Banyak faktor yang membuat anak ingin membeli produk diiklankan. Faktor tertinggi mereka memang memerlukan produk tersebut (37 persen), kemudian menyukai produk yang diiklankan (32 persen), iklanya menarik (21 persen), dan sebab model pada iklan tersebut (13 persen). Ada juga anak ingin membeli produk karena merek, pengaruh teman sebaya, iklan yang diulang, kemungkinan menang undian, adanya penawaran hadiah langsung yang menarik dan gengsi.
Anak menjadi korban iklan juga karena dipengaruhi sikap orang tua yang cenderung permisif atau selalu mengizinkan. Biasanya orangtua terlalu sayang terhadap anak, sehingga selalu memenuhi keinginan anak. Padahal segala sesuatu harus dipertimbangkan dengan baik, apakah bermanfaat atau tidak. Anak juga harus diberi pengertian tentang konsep keperluan dan keinginan. Jika keperluan silakan dipenuhi, tetapi bila keinginan masih bisa diabaikan. Kontrol yang baik perlu dilakukanterhadap anak. Midalnya kita memberikan hadiah jika anak mau belajar atau menuntaskan suatu tugas. Pemberian hadiah bisa dilakukan tetapi jangan seterusnya, karena anak akan berpikir segala sesuatu ada imbalannya.
Mengatasi suka belanja
1. Beri penjelasan. Jelaskan kepada mereka alasan Anda membeli sesuatu benda. Katakan pada anak barang tersebut memang Anda perlukan, bukan karena Anda ingin pamer.
2. Batasi Televisi. Bantu anak Anda dalam mengartikan pesan yang disampaikan oleh iklan-iklan di televisi.
3. Ajak berkegiatan. ajak anak menyukai hal-hal yang bukan berupa benda. Lakukan kegiatan yang menggunakan pikiran dan semangat, tanpa perlu mengeluarkan biaya besar.
4 .Jauhi sifat konsumtif. Bila Anda tidak mampu, jangan memaksakan diri menyelenggarakan pesta ulang tahun yang mengeluarkan biaya besar.
5. Ajari mengatur uang. Beri anak uang saku dan bantu mereka mengatur keuangan.
6. Jangan dimanjakan. Jangan tunjukan cinta melalui benda. Yakinkan anak bahwa mereka dicintai sebagaimana apa adanya.

masa pakaian adat ngga boleh pakai jilbab, katanya latar belakang sekolah Islam.....untung anak tidak terpengaruh.....
Tak dipungkiri, hal itu membuat anak menjadi konsuftif. Bahkan cenderung membuat anak tidak terkontrol, shingga ingin selalu membeli barang yang dia lihah di iklan. Dimana setiap kali di televisi ada iklan tentang mainan atau makanan yang ada pemerannya anak-anak, dia pasti ribut minta dibelikan, padahal harga yang ada di iklan cukup mahal, serta belum tentu terjamin keamanannya. biasanya anak mengetahui produk-produk itu dari iklan yang ditayangkan di televisi, koran dan juga majalah anak-anak.
Apapun tingkat keuangan keluarga, rendah, menengah, maupun tinggi, anak menduduki posisi kedua sebagai faktor yang membeli sesuatu barang. Posisi pertama diduduki oleh diri sendiri dan tempat ketiga adalah pasangan (suami/istri) atau anggota keluarga yang dewasa. Banyak faktor yang membuat anak ingin membeli produk diiklankan. Faktor tertinggi mereka memang memerlukan produk tersebut (37 persen), kemudian menyukai produk yang diiklankan (32 persen), iklanya menarik (21 persen), dan sebab model pada iklan tersebut (13 persen). Ada juga anak ingin membeli produk karena merek, pengaruh teman sebaya, iklan yang diulang, kemungkinan menang undian, adanya penawaran hadiah langsung yang menarik dan gengsi.
Anak menjadi korban iklan juga karena dipengaruhi sikap orang tua yang cenderung permisif atau selalu mengizinkan. Biasanya orangtua terlalu sayang terhadap anak, sehingga selalu memenuhi keinginan anak. Padahal segala sesuatu harus dipertimbangkan dengan baik, apakah bermanfaat atau tidak. Anak juga harus diberi pengertian tentang konsep keperluan dan keinginan. Jika keperluan silakan dipenuhi, tetapi bila keinginan masih bisa diabaikan. Kontrol yang baik perlu dilakukanterhadap anak. Midalnya kita memberikan hadiah jika anak mau belajar atau menuntaskan suatu tugas. Pemberian hadiah bisa dilakukan tetapi jangan seterusnya, karena anak akan berpikir segala sesuatu ada imbalannya.
Mengatasi suka belanja
1. Beri penjelasan. Jelaskan kepada mereka alasan Anda membeli sesuatu benda. Katakan pada anak barang tersebut memang Anda perlukan, bukan karena Anda ingin pamer.
2. Batasi Televisi. Bantu anak Anda dalam mengartikan pesan yang disampaikan oleh iklan-iklan di televisi.
3. Ajak berkegiatan. ajak anak menyukai hal-hal yang bukan berupa benda. Lakukan kegiatan yang menggunakan pikiran dan semangat, tanpa perlu mengeluarkan biaya besar.
4 .Jauhi sifat konsumtif. Bila Anda tidak mampu, jangan memaksakan diri menyelenggarakan pesta ulang tahun yang mengeluarkan biaya besar.
5. Ajari mengatur uang. Beri anak uang saku dan bantu mereka mengatur keuangan.
6. Jangan dimanjakan. Jangan tunjukan cinta melalui benda. Yakinkan anak bahwa mereka dicintai sebagaimana apa adanya.

masa pakaian adat ngga boleh pakai jilbab, katanya latar belakang sekolah Islam.....untung anak tidak terpengaruh.....
No comments:
Post a Comment