BERAKIT-RAKIT KE HULU
"MAU
lewat mana Pak ?" Begitulah pertanyaan yang biasa dilontarkan sopir
taksi sedan yang memakai argometer di Jakarta. Karena jakarta hampir
selalu macet, maka pertanyaan itu seolah memberi peluang bagi penumpang
agar ia memilih sendiri jalur yang dianggap lancar dan cepat. Tetapi
maksud pertanyaan itu mungkin pula buruk. Sopir sebenarnya ingin
mengetahui, apakah penumpang nya mengerti jalan di Jakarta atau tidak.
Jika penumpang tak bisa menjawab, sopir langsung menawarkan jalur tertentu, yang mau tak mau disetujui oleh penumpang. Padahal, jalur pilihan sopir itu membuat perjalanan makin jauh, sehingga ongkosnya makin mahal. Kenyataannya, selain sopir, kini cukup banyak orang menggunakan iming-iming jalan pintas untuk menjerumuskan orang lain.
Mau berkulit putih mulus dalam waktu lima hari, pakailah kosmetik ini. Mau cepat kaya, investasikan uang Anda kebisnis anu. Mau terima gaji buta jutaan perbulan, kirim SMS ke nomor sekian. Tetapi setelah semua inio dicoba, orang malah kecewa. Mungkin karena kita hidup di zaman serba instan berkat bantuan rupa-rupa teknologi, maka pola pikir kita semakin terarah untuk mencari jalan pintas.
Buat apa naik perahu layar, kalau sudah ada pesawat udara ? Buat apa pusing menghitung, kalau mesin hitung bisa membantu kita lebih cepat dan akurat? Buat apa capek memasak, kalau sudah ada makanan siap saji ? Buat apa...?. Pola pikir ingin serba cepat itu sebenarnya berpijak pada pandangan hidup yang melihat alam semata-mata sebagai sarana yang harus dikuasai dan dimanipulasi oleh manusia.
Karena nafsu menguasai dan memanipulasi itulah, orang modern sering mengutamakan keuntungan jangka pendek, dan tidak peduli pada akibat buruk jangka panjang, seperti kerusakan lingkungan. Lebih parah lagi, kita umumnya bukanlah pencipta, melainkan sekedar pemakai aneka teknologi modern itu.
Sementara orang Amerika, Eropa, dan Jepang bersusah payah melakukan pengkajian dan penelitian guna melahirkan tehnologi baru, kita hanya terima bersih saja. Maka budaya kita cenderung lebih melihat pada hasil akhir, ketimbang pada proses yang harus dilewati. Kita terperangah dengan kemajuan bangsa-bangsa lain. Tetapi kita tidak mau bekerja keras seperti mereka. Kita marah merasakan dominasi Amerika, tetapi kita tidak mau tahu bahwa Amerika, para pekerja berdisiplin tinggi, para guru, dosen, siswa dan mahasiswa, umunya serius menjalankan tugas masing-masing. Di Universitas, perpustakaan bisa buka hingga 24 jam !
Karena tak mau peduli dengan proses, maka orang akhirnya mencari jalan pintas. Dengan meniru budaya artis Hollywood, seolah orang sudah mencapai puncak kebudayaan Amerika. Sebaliknya, mereka yang sangat anti-Amerika, bukannya melawan dengan usaha-usaha peningkatan mutu kebudayaan sendiri, melainkan hanya berteriak 'Allahu Akbar' atau melakukan bom bunuh diri !
Budaya jalan pintas jelas merugikan. Jika kebanyakan orang memilih jalan pintas, maka orang akan malas berjuang menggapai prestasi. Orang hanya akan berlomba-lomba mendapatkan simpati tanpa isi, gelar tanpa keahlian. Orang juga menjadi tidak sabar karena ingin segera meraih hasil yang diinginkan. Ketika orang-orang menjadi tak sabar, konflik mudah meletus. Karena itu, alangkah bijak pepatah nenek moyang kita : berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Percuma kita hafal pepatah ini, jika yang dominan dalam budaya kita adalah budaya jalan pintas.

Jika penumpang tak bisa menjawab, sopir langsung menawarkan jalur tertentu, yang mau tak mau disetujui oleh penumpang. Padahal, jalur pilihan sopir itu membuat perjalanan makin jauh, sehingga ongkosnya makin mahal. Kenyataannya, selain sopir, kini cukup banyak orang menggunakan iming-iming jalan pintas untuk menjerumuskan orang lain.
Mau berkulit putih mulus dalam waktu lima hari, pakailah kosmetik ini. Mau cepat kaya, investasikan uang Anda kebisnis anu. Mau terima gaji buta jutaan perbulan, kirim SMS ke nomor sekian. Tetapi setelah semua inio dicoba, orang malah kecewa. Mungkin karena kita hidup di zaman serba instan berkat bantuan rupa-rupa teknologi, maka pola pikir kita semakin terarah untuk mencari jalan pintas.
Buat apa naik perahu layar, kalau sudah ada pesawat udara ? Buat apa pusing menghitung, kalau mesin hitung bisa membantu kita lebih cepat dan akurat? Buat apa capek memasak, kalau sudah ada makanan siap saji ? Buat apa...?. Pola pikir ingin serba cepat itu sebenarnya berpijak pada pandangan hidup yang melihat alam semata-mata sebagai sarana yang harus dikuasai dan dimanipulasi oleh manusia.
Karena nafsu menguasai dan memanipulasi itulah, orang modern sering mengutamakan keuntungan jangka pendek, dan tidak peduli pada akibat buruk jangka panjang, seperti kerusakan lingkungan. Lebih parah lagi, kita umumnya bukanlah pencipta, melainkan sekedar pemakai aneka teknologi modern itu.
Sementara orang Amerika, Eropa, dan Jepang bersusah payah melakukan pengkajian dan penelitian guna melahirkan tehnologi baru, kita hanya terima bersih saja. Maka budaya kita cenderung lebih melihat pada hasil akhir, ketimbang pada proses yang harus dilewati. Kita terperangah dengan kemajuan bangsa-bangsa lain. Tetapi kita tidak mau bekerja keras seperti mereka. Kita marah merasakan dominasi Amerika, tetapi kita tidak mau tahu bahwa Amerika, para pekerja berdisiplin tinggi, para guru, dosen, siswa dan mahasiswa, umunya serius menjalankan tugas masing-masing. Di Universitas, perpustakaan bisa buka hingga 24 jam !
Karena tak mau peduli dengan proses, maka orang akhirnya mencari jalan pintas. Dengan meniru budaya artis Hollywood, seolah orang sudah mencapai puncak kebudayaan Amerika. Sebaliknya, mereka yang sangat anti-Amerika, bukannya melawan dengan usaha-usaha peningkatan mutu kebudayaan sendiri, melainkan hanya berteriak 'Allahu Akbar' atau melakukan bom bunuh diri !
Budaya jalan pintas jelas merugikan. Jika kebanyakan orang memilih jalan pintas, maka orang akan malas berjuang menggapai prestasi. Orang hanya akan berlomba-lomba mendapatkan simpati tanpa isi, gelar tanpa keahlian. Orang juga menjadi tidak sabar karena ingin segera meraih hasil yang diinginkan. Ketika orang-orang menjadi tak sabar, konflik mudah meletus. Karena itu, alangkah bijak pepatah nenek moyang kita : berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Percuma kita hafal pepatah ini, jika yang dominan dalam budaya kita adalah budaya jalan pintas.

No comments:
Post a Comment