PENDIDIKAN BUKAN APA-APANYA LAGI
BANGSA yang besar dimulai dari keseriusan mereka untuk membangun sektor
pendidikan. Sejarah mencatat, Jepang berhasil menjadi negara maju dan
modern setelah Restorasi Meiji mengirimkan anak-anak muda Jepang belajar
ke Eropa dan Amerika. Anak-anak muda itu diberi tugas oleh negara untuk
"mencuri" teknologi yang dimiliki bangsa Barat. Restorasi Meiji juga
mengundang guru-guru dari Amerika dan Eropa untuk mengajar di Jepang.
Hasilnya, Jepang bangkit menjadi negara maju di bidang teknologi.
Keberhasilan Jepang ditiru India dan Cina. Kedua negara berpenduduk terbesar di dunia ini mengirimkan ribuan anak mudanya untuk mempelajari teknologi informasi (TI), permesinan, dan ekonomi. India kini dikenal sebagai gudangnya pakar teknologi informasi. Tak heran apabila perusahaan raksasa dunia Microsoft membangun pabrik di negara ini. Sementara itu, Cina menjadi lokomotif ekonomi dunia yang baru.
Pendidikan juga menjadi titik perhatian negeri Jiran yang serumpun dengan kita, yakni Malaysia dan Singapura. Sejak masa pemerintahan PM Mahatir Mohammad, Malaysia sadar betul bahwa pendidikan hanyalah satu-satunya cara untuk memajukkan negeri itu dengan anggaran pendidikan 20 persen di era 80-an. Seakan mengadopsi Restorasi Meiji di Jepang, Mahatir Mohammad mengundang guru-guru asal Indonesia untuk mengajar di negeri tersebut.
Malaysia juga mengirimkan ribuan warganya belajar di universitas-universitas di Indonesia, Eropa, dan Amerika. Fasilitas pendidikan dibangun dengan baik. Kini Malaysia menjadi negara muslim modern pertama di dunia dan negara tujuan pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Hal serupa dilakukan pendiri Singapura, Lee Kwan Yew. Melihat potensi sumber daya alam Singapura yang terbatas, jalan satu-satunya agar negeri itu bisa eksis di percaturan dunia adalah dengan menguasai sektor jasa dan perdagangan.
Untuk memajukan masyarakatnya agar pintar dan cerdas dalam menangkap peluang usaha, maka di era 70-80-an, ribuan anak-anak muda Singapura dikirim untuk belajar ekonomi ke Eropa dan Amerika. Kini Singapura menjadi negara terkaya dan maju di Asia Tenggara.
Melihat sejarah di atas, kita prihatin dengan kondisi pendidikan di tanah air. Kualitas pendidikan kita semakin hari seakan semakin tidak bisa dibanggakan. Apalagi jika melihat fasilitas pendidikan tingkat dasar di sejumlah daerah terpencil. Berita soal sekolah ambruk dan rusak, dan murid belajar di lantai sudah sangat sering kita dengar dan lihat.
Semoga para pejabat dan pengambil kebijakan baik di lokal maupun tingkat nasional bisa memetik pelajaran berharga dari anak-anak sirnaraga dalam berjuang mencari ilmu. Kini saatnya pemerintah serius membenahi fasilitas pendidikan dan sarana penunjangnya. Bila perlu, tirulah Jepang, Cina, India, Malaysia, dan Singapura jika masih ingin negeri ini maju.

Keberhasilan Jepang ditiru India dan Cina. Kedua negara berpenduduk terbesar di dunia ini mengirimkan ribuan anak mudanya untuk mempelajari teknologi informasi (TI), permesinan, dan ekonomi. India kini dikenal sebagai gudangnya pakar teknologi informasi. Tak heran apabila perusahaan raksasa dunia Microsoft membangun pabrik di negara ini. Sementara itu, Cina menjadi lokomotif ekonomi dunia yang baru.
Pendidikan juga menjadi titik perhatian negeri Jiran yang serumpun dengan kita, yakni Malaysia dan Singapura. Sejak masa pemerintahan PM Mahatir Mohammad, Malaysia sadar betul bahwa pendidikan hanyalah satu-satunya cara untuk memajukkan negeri itu dengan anggaran pendidikan 20 persen di era 80-an. Seakan mengadopsi Restorasi Meiji di Jepang, Mahatir Mohammad mengundang guru-guru asal Indonesia untuk mengajar di negeri tersebut.
Malaysia juga mengirimkan ribuan warganya belajar di universitas-universitas di Indonesia, Eropa, dan Amerika. Fasilitas pendidikan dibangun dengan baik. Kini Malaysia menjadi negara muslim modern pertama di dunia dan negara tujuan pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Hal serupa dilakukan pendiri Singapura, Lee Kwan Yew. Melihat potensi sumber daya alam Singapura yang terbatas, jalan satu-satunya agar negeri itu bisa eksis di percaturan dunia adalah dengan menguasai sektor jasa dan perdagangan.
Untuk memajukan masyarakatnya agar pintar dan cerdas dalam menangkap peluang usaha, maka di era 70-80-an, ribuan anak-anak muda Singapura dikirim untuk belajar ekonomi ke Eropa dan Amerika. Kini Singapura menjadi negara terkaya dan maju di Asia Tenggara.
Melihat sejarah di atas, kita prihatin dengan kondisi pendidikan di tanah air. Kualitas pendidikan kita semakin hari seakan semakin tidak bisa dibanggakan. Apalagi jika melihat fasilitas pendidikan tingkat dasar di sejumlah daerah terpencil. Berita soal sekolah ambruk dan rusak, dan murid belajar di lantai sudah sangat sering kita dengar dan lihat.
Semoga para pejabat dan pengambil kebijakan baik di lokal maupun tingkat nasional bisa memetik pelajaran berharga dari anak-anak sirnaraga dalam berjuang mencari ilmu. Kini saatnya pemerintah serius membenahi fasilitas pendidikan dan sarana penunjangnya. Bila perlu, tirulah Jepang, Cina, India, Malaysia, dan Singapura jika masih ingin negeri ini maju.

No comments:
Post a Comment