AKHLAK TERBAIK
Assalmualaikum Wr Wb.
Seorang muslim adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Sebab, siapa pun dia,pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah diperbuatnya. Nabi Muhammad SAW, "Orang Mukmin yang paling sempurna imanya ialah mereka yang paling baik akhlaknya..." (Riwayat Al-Bukhari & Muslim).
Oleh karena itu, Islam memandang bahwa tiap muslim harus menunaikan etika dan akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, sebelum dia berakhlak yang baik terhadap orang lain. Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Terhadap fisiknya, akalnya dan hatinya. Kita dituntut untuk memberikan hak terhadap diri kita sendiri dalam ketiga unsur tersebut.
Tiap insan, Allah berikan anugerah berupa fisik yang sempurna. Wajib disyukuri karena Allah hanya memberikannya kepada manusia. Salah cara mansyukurinya adalah dengan menunaikan hak yang harus diberikan pada fisik kita tersebut, yang sekaligus merefleksikan etika terhadap fisik kita sendiri.
Allah SWT berfirman : Sesungguhnya kami telah menciptakan mannusia dalam bentuk yang sebaik-baiknnya. (QS 95:4). Sebagaimana fisik, akal memiliki hak yang harus kita tunaikan. Akal juga membutuhkan 'makanan', sebagaimana fisik membutuhkan. Hal pertama yang harus dilakukan bagi tiap muslim terhadap akalnya adalah mengisinya dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Karena disamping sebagai suatu kewajiban, belajar juga merupakankemuliaan tersendiri bagi dirinya.
Karena AllahSWT senantioasa akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Firman Allah Taala : "Bahwasannya orang-orang yang takut kepada Allah, hanyalah para ulama (orang yang berilmu)." (QS 35:28). Kemuliaan itu terwujud, meskipun ketika dia dalam proses belajar, menuntut ilmu sendiri. Dalam sebuah riwayat dikisahkan : Suatu ketika Safwan bin Assal al-Maradi mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berada di masjid. Safwan berkata, Ya Rasulullah SAW, aku datang untuk menuntut ilmu. Rasululllah SAW menjawab, Selamat datang penuntut ilmu.
Sesungguhnya orang yang menuntut ilmu akan dikelilingi oleh apra malaikat dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka berbaris, sebagaian berada di atas sebagian malaikat lainnya, hingga sampai ke langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap penuntut ilmu. (HR Ahmad, Tabrani, Ibnu Hiban dan Al-hakim).
Hati juga merupakan unsur penting dalam diri tiap insan, yang memiliki hak yang sama sebagaimana akal dan fisik. Hati membutuhkan makanan sebagaimana akal dan fisik membutuhkannya.Oleh karena itu, tiap muslim dituntut untuk memberikan porsi yang sama terhadap ruhiyahnya, sebagaimana dia telah memberikan pada fisik dan akalnya.
Berikut adalah beberapa hal yang patut direalisasikan seorang muslim terhadap ruhiyahnya. Ibadah merupakan makanan pokok bagi hati dan ruhiyah kita. Bahkan makanan ruhuyah ini tidak memiliki batasan kuantitas. Semakin banyak ibadah seseorang, semakin dia rindu untuk melaksanakan ibadah lainya.
Semakin dia dekat dengan Allah, semakin dia ingin lebih dekat dan dekat lagi. Berbeda dengan makanan fisik. Paling banyak seseorang dapat memakan sapai tiga piring. Makanan ruhuyah ini akan dapat membersihkan hati dan menetramkan jiwa.
Seseorang yang memiliki kualitas ibadah yang baik, akan senantiasa merasa tenang, sejuk dan damai. Ibadah-ibadah yang harus dilakukannya, selain yang wajib adalah yang sunah. Di antaranya memperbanyak membaca dan mentadaburi Alquran, salat lail, sedekah, mendatangi majelis-majelis ilmu, tafakur dan lain sebagainya.
Wallahul muwafik ila akwamit tarik.
Wassalamualaikum Wr Wb.
mandi boneka
Seorang muslim adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Sebab, siapa pun dia,pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah diperbuatnya. Nabi Muhammad SAW, "Orang Mukmin yang paling sempurna imanya ialah mereka yang paling baik akhlaknya..." (Riwayat Al-Bukhari & Muslim).
Oleh karena itu, Islam memandang bahwa tiap muslim harus menunaikan etika dan akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, sebelum dia berakhlak yang baik terhadap orang lain. Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Terhadap fisiknya, akalnya dan hatinya. Kita dituntut untuk memberikan hak terhadap diri kita sendiri dalam ketiga unsur tersebut.
Tiap insan, Allah berikan anugerah berupa fisik yang sempurna. Wajib disyukuri karena Allah hanya memberikannya kepada manusia. Salah cara mansyukurinya adalah dengan menunaikan hak yang harus diberikan pada fisik kita tersebut, yang sekaligus merefleksikan etika terhadap fisik kita sendiri.
Allah SWT berfirman : Sesungguhnya kami telah menciptakan mannusia dalam bentuk yang sebaik-baiknnya. (QS 95:4). Sebagaimana fisik, akal memiliki hak yang harus kita tunaikan. Akal juga membutuhkan 'makanan', sebagaimana fisik membutuhkan. Hal pertama yang harus dilakukan bagi tiap muslim terhadap akalnya adalah mengisinya dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Karena disamping sebagai suatu kewajiban, belajar juga merupakankemuliaan tersendiri bagi dirinya.
Karena AllahSWT senantioasa akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Firman Allah Taala : "Bahwasannya orang-orang yang takut kepada Allah, hanyalah para ulama (orang yang berilmu)." (QS 35:28). Kemuliaan itu terwujud, meskipun ketika dia dalam proses belajar, menuntut ilmu sendiri. Dalam sebuah riwayat dikisahkan : Suatu ketika Safwan bin Assal al-Maradi mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berada di masjid. Safwan berkata, Ya Rasulullah SAW, aku datang untuk menuntut ilmu. Rasululllah SAW menjawab, Selamat datang penuntut ilmu.
Sesungguhnya orang yang menuntut ilmu akan dikelilingi oleh apra malaikat dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka berbaris, sebagaian berada di atas sebagian malaikat lainnya, hingga sampai ke langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap penuntut ilmu. (HR Ahmad, Tabrani, Ibnu Hiban dan Al-hakim).
Hati juga merupakan unsur penting dalam diri tiap insan, yang memiliki hak yang sama sebagaimana akal dan fisik. Hati membutuhkan makanan sebagaimana akal dan fisik membutuhkannya.Oleh karena itu, tiap muslim dituntut untuk memberikan porsi yang sama terhadap ruhiyahnya, sebagaimana dia telah memberikan pada fisik dan akalnya.
Berikut adalah beberapa hal yang patut direalisasikan seorang muslim terhadap ruhiyahnya. Ibadah merupakan makanan pokok bagi hati dan ruhiyah kita. Bahkan makanan ruhuyah ini tidak memiliki batasan kuantitas. Semakin banyak ibadah seseorang, semakin dia rindu untuk melaksanakan ibadah lainya.
Semakin dia dekat dengan Allah, semakin dia ingin lebih dekat dan dekat lagi. Berbeda dengan makanan fisik. Paling banyak seseorang dapat memakan sapai tiga piring. Makanan ruhuyah ini akan dapat membersihkan hati dan menetramkan jiwa.
Seseorang yang memiliki kualitas ibadah yang baik, akan senantiasa merasa tenang, sejuk dan damai. Ibadah-ibadah yang harus dilakukannya, selain yang wajib adalah yang sunah. Di antaranya memperbanyak membaca dan mentadaburi Alquran, salat lail, sedekah, mendatangi majelis-majelis ilmu, tafakur dan lain sebagainya.
Wallahul muwafik ila akwamit tarik.
Wassalamualaikum Wr Wb.
mandi boneka
No comments:
Post a Comment