SIAPAKAH YANG LIBERAL ITU ?
MUNGKIN
karena saya alumni yg orang mendidik dari Barat yang 'kafir',
kadangkala orang bertanya, apakah saya ini termasuk dalam Jaringan Islam
Liberal (JIL) yang banyak di kutuk itu ?. Ada yang bertanya langsung,
dan ada pula yang bertanya melalui perantara orang lain. Biasanya,
sambil bercanda saya jawab : "Saya bukan JIL, tapi mungkin di atas
JIL." yang saya heran, meskipun banyak orang mengutuk Liberalisme, dalam
kehidupan sehari-hari, mereka sebenarnya berpandangan dan berperilaku
liberal. Salah satu contoh yang kini aktual adalah apa yang terjadi
dalam dunia pendidikan.
Sekarang, Ujian Nasional (UN) sudah usai, dan mereka yang lulus kini bersiap-siap melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika mau melanjutkan studi, orang diperlukan laksana pembeli barang. Seperti halnya barang dagangan yang perlu diiklankan, begitu pula pendidikan. Meski anak-anak masih belum lulus UN. berbagai lembaga pendidikan sudah berdatangan melakukan promosi. Brosur, pamflet hingga iklan di media cetak dan elektronik juga dikerahkan untuk iklan lembaga pendidikan.
Seperti biasa, iklan itu suka berlebihan, tak terkecuali iklan pendidikan. Maka tak jarang , setelah masuk lembaga pendidikan itu, orang malah kecewa karena apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti kata pepatah, indah kabar daripada rupa. Tetapi walau ada penyesalan, untuk pindah ke lembaga pendidikan lain juga sulit, karena tahun akademik sudah dimulai. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena sadar atau tidak, kita tampaknya menganut liberalisme dalam pendidikan.
Salah satu ciri utama liberalisme adalah persaingan. Sekolah dan perguruan tinggi dipacu untuk bersaing meningkatkan kualitas dan kuantitas. Logika persaingan adalah kalah atau menang. Celakanya, agar menang, orang kadang mau melakukan cara apapun.
Selain lembaga-lembaga pendidikan, anak-anak yang mau masuk juga bersaing. Persaingan itu ditentukan oleh tiga kekuatan : Kecerdasan, uang dan relasi. Orang kaya yang cerdas dan banyak relasi, tentu lebih kuat dibanding orang miskin yang bodoh dan tak punya relasi. Maka orang yang kuat dengan sendirinya punya lebih banyak pilihan ketimbang orang yang lemah.
Tetapi kalau dicermati, di antara tiga kekuatan itu, uanglah yang paling menentukan. Hal ini sesuai dengan logika pasar : barang yang bagus biasanya mahal. Begitu pula, samakin bermutu lembaga pendidikan, biasanya semakin mahal. Kalau Anda tak sanggup membayar, Anda harus gigit jari. Kadang ada keringanan bagi yang cerdas, tapi yang utama tetaplah yang berduit !.
Demikianlah, persaingan akhirnya menciptakan lembaga pendidikan-lembaga pendidikan yang tidak setara, dan melahirkan kesenjangan sosial. Selain itu, lembaga pendidikan tidak lagi sekedar wadah untuk membina manusia, tetapi menjadi simbol kedudukan sosial. Kalau sekolah di lembaga tertentu, berarti dia orang kaya dan terhormat, walaupun dia sebenarnya bodoh. Ini tidak berarti bahwa persaingan itu mutlak buruk. Persaingan itu positiif, jika diimbangi dengan kesetikawanan.
Kompetisi itu bermanfaat, manakala dibarengi dengan solidaritas. Tapi tampaknya, banyak orang yang cenderung berat sebelah, yakni terlalu memuja keunggulan individu dan prestasi, dan lupa akan keharusan mengangkat dan melindungi mereka yang lemah. Jika penilian saya ini benar adanya, maka siapakah sebenarnya yang liberal ?.

Sekarang, Ujian Nasional (UN) sudah usai, dan mereka yang lulus kini bersiap-siap melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika mau melanjutkan studi, orang diperlukan laksana pembeli barang. Seperti halnya barang dagangan yang perlu diiklankan, begitu pula pendidikan. Meski anak-anak masih belum lulus UN. berbagai lembaga pendidikan sudah berdatangan melakukan promosi. Brosur, pamflet hingga iklan di media cetak dan elektronik juga dikerahkan untuk iklan lembaga pendidikan.
Seperti biasa, iklan itu suka berlebihan, tak terkecuali iklan pendidikan. Maka tak jarang , setelah masuk lembaga pendidikan itu, orang malah kecewa karena apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti kata pepatah, indah kabar daripada rupa. Tetapi walau ada penyesalan, untuk pindah ke lembaga pendidikan lain juga sulit, karena tahun akademik sudah dimulai. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena sadar atau tidak, kita tampaknya menganut liberalisme dalam pendidikan.
Salah satu ciri utama liberalisme adalah persaingan. Sekolah dan perguruan tinggi dipacu untuk bersaing meningkatkan kualitas dan kuantitas. Logika persaingan adalah kalah atau menang. Celakanya, agar menang, orang kadang mau melakukan cara apapun.
Selain lembaga-lembaga pendidikan, anak-anak yang mau masuk juga bersaing. Persaingan itu ditentukan oleh tiga kekuatan : Kecerdasan, uang dan relasi. Orang kaya yang cerdas dan banyak relasi, tentu lebih kuat dibanding orang miskin yang bodoh dan tak punya relasi. Maka orang yang kuat dengan sendirinya punya lebih banyak pilihan ketimbang orang yang lemah.
Tetapi kalau dicermati, di antara tiga kekuatan itu, uanglah yang paling menentukan. Hal ini sesuai dengan logika pasar : barang yang bagus biasanya mahal. Begitu pula, samakin bermutu lembaga pendidikan, biasanya semakin mahal. Kalau Anda tak sanggup membayar, Anda harus gigit jari. Kadang ada keringanan bagi yang cerdas, tapi yang utama tetaplah yang berduit !.
Demikianlah, persaingan akhirnya menciptakan lembaga pendidikan-lembaga pendidikan yang tidak setara, dan melahirkan kesenjangan sosial. Selain itu, lembaga pendidikan tidak lagi sekedar wadah untuk membina manusia, tetapi menjadi simbol kedudukan sosial. Kalau sekolah di lembaga tertentu, berarti dia orang kaya dan terhormat, walaupun dia sebenarnya bodoh. Ini tidak berarti bahwa persaingan itu mutlak buruk. Persaingan itu positiif, jika diimbangi dengan kesetikawanan.
Kompetisi itu bermanfaat, manakala dibarengi dengan solidaritas. Tapi tampaknya, banyak orang yang cenderung berat sebelah, yakni terlalu memuja keunggulan individu dan prestasi, dan lupa akan keharusan mengangkat dan melindungi mereka yang lemah. Jika penilian saya ini benar adanya, maka siapakah sebenarnya yang liberal ?.

No comments:
Post a Comment