1 SYAWAL KEMBAR
UNTUK
kesekian kalinya, penetapan 1 Syawal di Indonesia berbeda lagi.
Konsukwemsinya, masyarakat menyelengarakan salat Idulfitri juga berbeda.
Walau pemerintah menetapkan 1 Syawal pada Rabu 31 Agustus namun tidak
sedikit yang sudah menyelenggarakan salat Ied pada Selasa 30 Agustus.
Bagi muslimin Indonesia, perbedaan penetapan Idulfitri berbeda hari
atau'Idulfitri Kembar' ini adalah hal biasa. Sebab terjadi berulang kali
sehingga tidak menjadi permasalahan.
Keputusan pemerintah Indonesia menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1432 Hijriah tahun ini memang berbeda dengan sejumlah negara muslim lain. Namun Indonesia bukan satu-satunya negara yang secara resmi menetapkan 1 Syawal 31 Agustus 2011. Data dari Proyek Observasi Hilal Islam (Islamic Crescen's Observation Project/COP) yang berpusat di yordania menyebutkan, negara yang menetapkan 1 Syawal 1432 Hijriah pada 31 Agustus 2011 adalah Indonesia, Oman, Libya, dan Afrika Selatan. Sedangkan yang menetapkan 1 Syawal pada selasa 30 Agustus 2011, diantaranya adalah Aljazair, Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Yaman, Nigeria, dan Malaysia.
Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawal selalu setelah menyelenggarakan sidang isbat yang diikuti bukan hanya Menteri Agama tetapi juga utusan Majelis Ulama Indonesia serta organisasi keagamaan. Dalam sidang yang selalu berjalan penuh dengan argumentasi itu memang tidak selalu menghasilkan penetapan 1 Syawal yang diamini oleh seluruh peserta sidang. Ada kalanya suara itu bulat tetapi kerab pula tidak sehingga menghasilkan 'iIdulfitri Kembar'. Perbedaan 1 Syawal ini yang kerab berbeda ini dilandasi perbedaan perhitungan derajat hilal (bulan yang berusia satu hari). Organisasi Muhammadiyah, misalnya, berpegang pada wujud hilal. Artinya tidak mempersoalkan berapa derajad hilal berlihat yang penting adalah hilal .muncul pada petang penghujung Ramadan itu. Sedang organisasi NU menganggap hilal baru sah bila terlihat minimal dua derajad di atas ufuk.
Kini'Idulfitri kembar' tahun ini sudah kita lalui dengan penuh saling menghormati. Kita patut mengucapkan Alhamdulillah karena berkat ditempa pengalaman berbeda dalam penetapan 1 Syawal, sehingga muslimin Indonesia bijaksana dalam bersikap. Dalam sebuah riwayat, perbedaan penentuan awal bulan hijriah, termasuk 1 Syawal, sudah berlangsung sejak zaman Mu'awiyah sekitar abad ke-7. Saat itu Syam (Suriah) lebih dulu satu hari memasuki Ramadan dibandingkan Madinah. Kembali membutirisikap toleransi muslimin Indonesia dalam menghadapi 'Idulfitri kembar' ini, menunjukkan kesadaran mereka akan makna ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Islam, bukan hanya memberikan rahmat bagi sesama muslimin tetapi juga untuk alam semesta. Islam tidak mengajarkan permusuhan ketika berada dalam titik sudut pandang yang berbeda. Tentu pula, ini berkat peranan para tokoh ulama yang mampu memberikan pemahaman rahmatan lil alamin kepada kaum muslimin. Sehingga sejak dulu hingga tahun ini, tidak pernah mempermasalhkan 'Idulfitri Kembar' tersebut, dan selalu melanjutkannya silaturahmi. Semoga, ketika tiba penetapan 1 Syawal kembar berikutnya, muslimin Indonesia semakin sadar bahwa Islam itu menebarkan rahmat Allah SWT, Amin.

Keputusan pemerintah Indonesia menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1432 Hijriah tahun ini memang berbeda dengan sejumlah negara muslim lain. Namun Indonesia bukan satu-satunya negara yang secara resmi menetapkan 1 Syawal 31 Agustus 2011. Data dari Proyek Observasi Hilal Islam (Islamic Crescen's Observation Project/COP) yang berpusat di yordania menyebutkan, negara yang menetapkan 1 Syawal 1432 Hijriah pada 31 Agustus 2011 adalah Indonesia, Oman, Libya, dan Afrika Selatan. Sedangkan yang menetapkan 1 Syawal pada selasa 30 Agustus 2011, diantaranya adalah Aljazair, Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Yaman, Nigeria, dan Malaysia.
Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawal selalu setelah menyelenggarakan sidang isbat yang diikuti bukan hanya Menteri Agama tetapi juga utusan Majelis Ulama Indonesia serta organisasi keagamaan. Dalam sidang yang selalu berjalan penuh dengan argumentasi itu memang tidak selalu menghasilkan penetapan 1 Syawal yang diamini oleh seluruh peserta sidang. Ada kalanya suara itu bulat tetapi kerab pula tidak sehingga menghasilkan 'iIdulfitri Kembar'. Perbedaan 1 Syawal ini yang kerab berbeda ini dilandasi perbedaan perhitungan derajat hilal (bulan yang berusia satu hari). Organisasi Muhammadiyah, misalnya, berpegang pada wujud hilal. Artinya tidak mempersoalkan berapa derajad hilal berlihat yang penting adalah hilal .muncul pada petang penghujung Ramadan itu. Sedang organisasi NU menganggap hilal baru sah bila terlihat minimal dua derajad di atas ufuk.
Kini'Idulfitri kembar' tahun ini sudah kita lalui dengan penuh saling menghormati. Kita patut mengucapkan Alhamdulillah karena berkat ditempa pengalaman berbeda dalam penetapan 1 Syawal, sehingga muslimin Indonesia bijaksana dalam bersikap. Dalam sebuah riwayat, perbedaan penentuan awal bulan hijriah, termasuk 1 Syawal, sudah berlangsung sejak zaman Mu'awiyah sekitar abad ke-7. Saat itu Syam (Suriah) lebih dulu satu hari memasuki Ramadan dibandingkan Madinah. Kembali membutirisikap toleransi muslimin Indonesia dalam menghadapi 'Idulfitri kembar' ini, menunjukkan kesadaran mereka akan makna ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Islam, bukan hanya memberikan rahmat bagi sesama muslimin tetapi juga untuk alam semesta. Islam tidak mengajarkan permusuhan ketika berada dalam titik sudut pandang yang berbeda. Tentu pula, ini berkat peranan para tokoh ulama yang mampu memberikan pemahaman rahmatan lil alamin kepada kaum muslimin. Sehingga sejak dulu hingga tahun ini, tidak pernah mempermasalhkan 'Idulfitri Kembar' tersebut, dan selalu melanjutkannya silaturahmi. Semoga, ketika tiba penetapan 1 Syawal kembar berikutnya, muslimin Indonesia semakin sadar bahwa Islam itu menebarkan rahmat Allah SWT, Amin.

No comments:
Post a Comment