Sunday, 15 February 2015

SELAMAT TINGGAL MOBNAS (MOBIL NASIONAL)

SELAMAT TINGGAL MOBNAS (MOBIL NASIONAL)

     ZAMAN Soeharto berkuasa di Indonesia memiliki proyek mobil nasional (mobnas) yang sangat instan yaitu Timor S515. Sedan jenis ini dipaksakan untuk diakui sebagai mobil produksi nasional Indonesia, meskipun sebenarnya impor dari korea. Aslinya produk pabrik mobil KIA Shepia. Harganyapun sangat murah karena konon tak bayar bea masuk. Tahun 1990-an ada yang hanya 15 juta/unit. suzuki Escudo pada tahun itu sudah Rp 40-an juta.
      Para pejabat pun ramai-ramai membeli sedan Timor sebagai kendaraan dinas, mungkin untuk menyenangkan bos. Tapi sambutan masyarakat terhadap Timor banyak yang miring. Pasca-Soeharto, proyek mobnas berakhir dan pejabat pun berlomba membeli mobil mewah untuk kendaraan dinas atau pribadi. Sekarang ini bukan hanya mobil rakitan industri dalam negeri yang laris manis, mobil impor jadi (built up) pun memenuhi areal parkir dimana-mana.Kalangan pejabat seperti presiden/wapres dan kabinet memakai Toyora Crown Royal Salon yang harganya Rp 1,3 miliar. Pejabat lain memakai Toyota Cammry yang harganya sekitar 800 juta.
     Di Malaysia pejabat sampai perdana menterinya memakai Proton buatan Malaysia yang harganya sekitar Rp 360 juta. Di India semua pejabat memakai mobil buatan sendiri, Tata Ambassador yang harganya hanya Rp 100 juta. jadi satu mobil menteri disini bisa untuk beli 13 mobil menteri dei India. Tata Ambassador adalah mobnasnya India. Bentuknya lucu, seperti Fiat 1960-an. Tapi sampai sekarang masih populer. Di film-film India mobil ini banyak terlihat. Di Indonesia mobnas sebenarnya sudah lama dirintis, seperti Maleo, Kancil, Marlip, Komodo dll. Tapi entah mengapa semua layu sebelum berkembang.
     Baru setelah siswa SMK Surakarta (solo) bersama SMK lain berhasil membuat mobil, orang geger dan ingin mobnas lagi, prokontra pun muncul. Mobil jenis sport utility cehicle (SUV) itu menggunakan komponen lebih 90 persen dalam negeri. Bok mesin dibuat industri pengecoran logam di ceper, Klaten, mesin dibuat siswa dengan kekuatan 1500 cc. Perakitan di bengkel Kiat motor, Klaten. Mobil yang diberi nama Kiat Esemka ini berharga Rp 95 juta. Yang menghebohkan, mobil yang diberikan kepada wali kota Surakarta Joko Widodo dan Wakilnya Hadi Rudyamto itu langsung dijadikan mobil dinas dengan memasang pelat nomor polisi warna merah AD 1 A untuk Wali kota dan AD 2 A untuk  wakilnya.
     Gebrakan Jokowi, panggilan akrab Joko widodo, bisa menggugah kita untuk kembali menengok mobil nasional. Selama ini kita hanya mengimpor terus menerus (rakitan juga impor). Transfer teknologi di perusahaan otomotif ternyata tidak menyentuh kepentingan negara untuk mandiri di bidang ini. Meski sebagian besar komponen mobil dan motor berasal dari dalam negeri, misalnya, produknya tetap saja negara lain. Devisanya juga buat mereka. Kita cuma kebagian macet, subsidi BBM dan polusinya. Industri mobil adalah sebuah perusahaan padat modal karenanya yang diperlukan bukan cuma modal besar tapi juga perlindungan, jadi perlu campur tangan pemerintah. Itulah kendalanya karena pemerintah pasti tidak akan mengurangi apalagi menghentikan impor demi mobnas. Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan sudah menegaskan hal itu tatkala mengunjungi SMK Borobudur, Magelang beberapa hari lalu.
      Sebenarnya pengembangan mobnas tidak hanya berkait dengan masalah ekonomi tapi juga harga diri sebagai bangsa. Malaysia dan India lebih mementingkan harga diri dan tidak mau didikte. Mereka mau naik mobilnya sendiri meski tidak ekslusif. Sekarang mereka menikmati kemajuan dalam isndustri otomotifnya. Indonesia sebaliknya, pemerintah tidak memerlukan harga diri  tapi lebih perlu harga damai untuk memberi izin impor. Makanya tidak semua pejabat menerima dengan alasan macam-macam. Malahan ada yang aneh. Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang seharusnya menjadi orang pertama yang bangga atas prestasi anak-anak SMK di daerahnya, justru berkomentar nyinyir. Katanya, Wali kota Solo cuma mau cari muka dengan memakai mobil Kiat Asermka. Maklum dekat pilkada, siapa pun takut tersaingi, apalagi popularitas Joko Widodo sudah ke ranah nasional. Rencana untuk membawa Kiat Esemka uji emisi di Jakarta juga dibatalkan entah kenapa.
      Kesimpulanya tamatlah mobnas. Itulah Indonesia, negera yang kaya, makmur dan banyak memiliki bakat terpendam, tetapi tak pernah bisa bangkit karena terpendam oleh egoisme elite pemerintah. Terima kasih kepada siswa-siswi SMK yang telah menunjukkan pada kita seperti apa sebenarnya Indonesia. Selamat tinggal mobnas, selamat datang mobil impor,
MencobaMencoba

No comments:

Post a Comment