Friday, 13 February 2015

JIWA YANG TERKURUNG

JIWA YANG TERKURUNG

Dulu selalu dia raskan
Kehangatan sang mentari
Meraba, merasuk, menyentuh tubuhnya
Diantara dinding-dinding rumah mungilnya

Kini
Tiada lagi kehangatan sang mentari itu dia rasakan
Tiada lagi embusan semilir angin itu dia rasakan
Dan
Tiada lagi suara kicauan burung itu dia dengarkan

Kini
Hanya tampak olehnya tubuh renta
Yang tampak mulai tua mengeriput
Kini hari, kian bulat, kian tahun dan kian waktu
Hanya tampak olehnya ruang-ruang kecil
Yang tampak sesak, sempit, kotor bercahayakan remang-remang
Ditemani oleh hewan-hewan kecil di pojok-pojok ruangnya
Hanya tampak olehnya jeruji-jeruji besi
Yang tampak kuat, kokoh dan mulai berkarat
Mengurung, memenjarakan dan mengekang tubuhnya

Inilah hukuman yang terpaksa harus dia terima
Inilah imbalan yang terpaksa harus dia tanggung
Inilah akibat yang terpaksa harus dia rasakan
Dan
Inilah ganjaran yang terpaksa harus dia pikul
Sendiri......sendiri.....dan sendiri.....
Karena kesalahan, dosa dan kekhilafannya
Dan atas perbuatan tak berperikemanusiannya itu
Di masa dua puluh tahun yang lalu
SaijaanSaijaan

No comments:

Post a Comment