PENGAMEN JALANAN
"APA
maksud Anda menulis seperti itu ? Apakah Anda sekedar menulis, aktivis
atau asal bunyi (bhs Banjarnegara,asal jeplak) ?" tanya temen-temen FB,
BBM atau Twitter. "Saya bukan penulis sekelas pujangga, bukan pula
aktivis yang terlibat langsung dalam perjuangan sosial, kalau asal bunyi
atau jeplak mungkin iya. saya hanyalah seorang pengamen jalanan, Selain
'Penulis' dan 'aktivis' ada lagi sebutan 'Cendekiawan'. Sebutan ini
biasanya diberikan kepada kaum terpelajar. Padahal, kalau kita dalami
lebih jauh, arti sejati kecendekiawan bukanlah sekedar terpelajar,
melainkan kesetiaan pada kebenaran dan keberanian dalam
memperjuangkannya.Karena itu, saya juga tidak berani menyebut diri
sebagai seorang cendikiawan.
Sejak awal 1990-an, beredar pula sebutan 'cendekiawan muslim'. Sebutan ini tampaknya dilekatkan untuk kaum terpelajar muslim yang bukan ulama. Mereka berlatar belakang pendidikan umum, tetapi punya perhatian pada masalah-masalah agama. Kalau kita buat karikaturnya, cendekiawan muslim adalah para aktivis Islam yang berdasi, sedangkan ulama adalah juru dakwah 'sarungan'. Meski tidak memakai peci apalagi sorban, saya juga merasa kurang pas disebut cendekiawan apalagi cendekiawan Muslim.
Kalau dilihat latar belakang pendidikan, saya mungkin jauh lebih pas masuk golongan kaum tukang mencangkul atau pengamen jalanan. walaupun saya ngambil studi pertanian di UMY Yogyakarta petengahan tahun 1992, 4 tahun lebih saya belajar di Faperta UMY dengan kostum praktikum keseharian dan tak lepas celana sobek di lutut, kadang dengan sandel jepit butut. Semua ini menyadarkan saya, bahwa sebutan, gelar, label atau titel, sesungguhnya lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan diri seseorang. Tetapi ini tidak berarti semua sebutan itu tak berguna. Ia berguna sebagai identifikasi awal. Lebih penting lagi, ia berguna sebagai tanda kehormatan yang mengandung beban amanah, tanggung jawab bagi pribadi yang bersangkutan.
Tanggung jawab yang berat itu, lebih terasa lagi ketika orang sudah menyandang gelar sebagai ulama, atau yang dalam tradisi Banjar (sebutan Banjarmasin dan sekitar kalsel) disebut Tuan Guru dan di perkotaan disebut ustadz. Di kalangan Islam Sunni, sebutan sebagai ulama biasanya diberikan langsung oleh masyarakat, bukan oleh lembaga tertentu. Setahu saya, di dunia Sunni, tidak ada "sertifikat' ulama. Namun ada beberapa organisasi yang secara jelas menyebut diri sebagai organisasi ulama. Mislanya, di negeri kita ada Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau dilihat dari namanya, kedua organisasi ini jelas merupakan wadah perjuangan bagi para ulama. Para pengurusnya sudah selayaknya adalah tokoh-tokoh agama Islam yang disebut ulama. semakin sadar, betapa banyak masalah yang harus dihadapi ulama dan betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. karena itu, saya semakin takut kalau disebut sebagai cendekiawan, cendekiawan Muslim, tuan guru, ustadz atau ulama. Lebih enteng rasanya kalau menjadi pengamen jalanan saja.!

Sejak awal 1990-an, beredar pula sebutan 'cendekiawan muslim'. Sebutan ini tampaknya dilekatkan untuk kaum terpelajar muslim yang bukan ulama. Mereka berlatar belakang pendidikan umum, tetapi punya perhatian pada masalah-masalah agama. Kalau kita buat karikaturnya, cendekiawan muslim adalah para aktivis Islam yang berdasi, sedangkan ulama adalah juru dakwah 'sarungan'. Meski tidak memakai peci apalagi sorban, saya juga merasa kurang pas disebut cendekiawan apalagi cendekiawan Muslim.
Kalau dilihat latar belakang pendidikan, saya mungkin jauh lebih pas masuk golongan kaum tukang mencangkul atau pengamen jalanan. walaupun saya ngambil studi pertanian di UMY Yogyakarta petengahan tahun 1992, 4 tahun lebih saya belajar di Faperta UMY dengan kostum praktikum keseharian dan tak lepas celana sobek di lutut, kadang dengan sandel jepit butut. Semua ini menyadarkan saya, bahwa sebutan, gelar, label atau titel, sesungguhnya lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan diri seseorang. Tetapi ini tidak berarti semua sebutan itu tak berguna. Ia berguna sebagai identifikasi awal. Lebih penting lagi, ia berguna sebagai tanda kehormatan yang mengandung beban amanah, tanggung jawab bagi pribadi yang bersangkutan.
Tanggung jawab yang berat itu, lebih terasa lagi ketika orang sudah menyandang gelar sebagai ulama, atau yang dalam tradisi Banjar (sebutan Banjarmasin dan sekitar kalsel) disebut Tuan Guru dan di perkotaan disebut ustadz. Di kalangan Islam Sunni, sebutan sebagai ulama biasanya diberikan langsung oleh masyarakat, bukan oleh lembaga tertentu. Setahu saya, di dunia Sunni, tidak ada "sertifikat' ulama. Namun ada beberapa organisasi yang secara jelas menyebut diri sebagai organisasi ulama. Mislanya, di negeri kita ada Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau dilihat dari namanya, kedua organisasi ini jelas merupakan wadah perjuangan bagi para ulama. Para pengurusnya sudah selayaknya adalah tokoh-tokoh agama Islam yang disebut ulama. semakin sadar, betapa banyak masalah yang harus dihadapi ulama dan betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. karena itu, saya semakin takut kalau disebut sebagai cendekiawan, cendekiawan Muslim, tuan guru, ustadz atau ulama. Lebih enteng rasanya kalau menjadi pengamen jalanan saja.!

No comments:
Post a Comment