BALADA PEJABAT MALAS MIKIR
TAK
ada rotan, akar pun jadi. Tak ada sirkuit, jalan raya pun jadi. Itulah
yang terjadi di daerah dan sekitarnya. Para pecinta otomotif, terpaksa
harus berkoordinasi sana sini, lapor sana sini, untuk bisa meminjam
salah satu ruas jalan raya demi menyalurkan kreativitasnya. Akhirnya,
kegiatan slalom test, drifting, gokart dan jenis lainya,
digelar di jalanan. Beruntung didaerah lain, bisa pinjam lapangan
multuiguna. Lha kalau di daerah yang sudah padat bangunan ? Ya terpaksa
di jalan raya.
Jangankan otomotif, anak-anak main bola, ya di jalan raya. Itu masihdi daerah lho ya. Tanah lapang saja susah dicari, apa lagi lapangan. Yang ada, lapangan bola resmi, terkelola, macam stadion. Namun alangkah kasihan kalau bocah-bocah di seputaran lainnya, harus pergi ke stadion untuk sekedar main bola. Lalu, kreativitas warga yang mana lagi yang juga dilakukan di jalan raya ? lainya, freesryle` untuk jenis kendaraan roda dua dan sepeda angin. Bahkan, acara tujuhbelasan pun di jalan raya.
Itu semua baru tahun 2011, entah 2020 sebenarnya, Pemerintah daerah perlu memikirkan juga tentang hal ini. Kalau di daerah yang ada fasilitasnya, di daerah yang ga ada diharapkan bisa pula ada lapangan multi guna seperti itu. Bagus lagi kalau tiap kecamatan di daerah, ada satu lapangan multigunanya.
Kalau pejabatnya sampai malas memikirkan, apalagi kalau sampai mengatakan urusan itu 'biar' menjadi pekerjaan rumah pejabat yang akan datang, alangkah tidak eloknya. "Ah, itu urusan pejabat di masa yang akan datang." Hal yang dikawatirkan. pola pikir 'pembiaran' seperti itu bakal terpelihara terus. Akibatnya, memikirkan tentang lapangan multiguna pun tidak ada, memikirkan sistem transportasi umum pun tidak ada, memikirkan tempat-tempat membuang sampah pun tidak ada, dan mungkin banyak lagi.
Namun, kita semua tentu berharap, pemerintah daerah tetap bersedia memikirkan hal-hal yang perlu di masa datang untuk rakyatnya. Sehingga, kekahawatiran tentang 'pola pikit pembiaran' tidak sampai terjadi. Mudah-mudahan.
Baksos di kaliurang
Jangankan otomotif, anak-anak main bola, ya di jalan raya. Itu masihdi daerah lho ya. Tanah lapang saja susah dicari, apa lagi lapangan. Yang ada, lapangan bola resmi, terkelola, macam stadion. Namun alangkah kasihan kalau bocah-bocah di seputaran lainnya, harus pergi ke stadion untuk sekedar main bola. Lalu, kreativitas warga yang mana lagi yang juga dilakukan di jalan raya ? lainya, freesryle` untuk jenis kendaraan roda dua dan sepeda angin. Bahkan, acara tujuhbelasan pun di jalan raya.
Itu semua baru tahun 2011, entah 2020 sebenarnya, Pemerintah daerah perlu memikirkan juga tentang hal ini. Kalau di daerah yang ada fasilitasnya, di daerah yang ga ada diharapkan bisa pula ada lapangan multi guna seperti itu. Bagus lagi kalau tiap kecamatan di daerah, ada satu lapangan multigunanya.
Kalau pejabatnya sampai malas memikirkan, apalagi kalau sampai mengatakan urusan itu 'biar' menjadi pekerjaan rumah pejabat yang akan datang, alangkah tidak eloknya. "Ah, itu urusan pejabat di masa yang akan datang." Hal yang dikawatirkan. pola pikir 'pembiaran' seperti itu bakal terpelihara terus. Akibatnya, memikirkan tentang lapangan multiguna pun tidak ada, memikirkan sistem transportasi umum pun tidak ada, memikirkan tempat-tempat membuang sampah pun tidak ada, dan mungkin banyak lagi.
Namun, kita semua tentu berharap, pemerintah daerah tetap bersedia memikirkan hal-hal yang perlu di masa datang untuk rakyatnya. Sehingga, kekahawatiran tentang 'pola pikit pembiaran' tidak sampai terjadi. Mudah-mudahan.
Baksos di kaliurang
No comments:
Post a Comment