Sunday, 15 February 2015

DUNIA BELUM KIAMAT

DUNIA BELUM KIAMAT

     HARI  ini, kita telah memasuki hari ketiga tahun 2012. masih ingatlah Anda pada suatu ramalan bahwa kiamat akan terjadi pada 2012 ini ? Ramalan itu terdapat dalam prasasti suku Maya di situs Tortuguero dan situs Conalcaco, yang keduanya berada di Teluk Tabasco, Meksiko. Konon kiamat akan terjadi pada 21-12-2012. Di indonesia, pada Februari 2009, peramal Ki Gendeng Pamungkas, dan mendiang Mama Laurent pernah bicara di televisi dengan nada yang cenderung menyetujui ramalan tersebut. Masalah ini makin hangat ketika komentar para ustadz dan artis juga diliput media.
     Seperti biasa, komentar itu beraneka macam, hingga makin ramailah belantara berita di negeri ini. Setahun sebelumnya (20-08), Roland Emmerich dan Harald Kloser menyiapkan sebuah film berjudul 2012. Syuting film dimulai Juli 2008, dan film diedarkan pada November 2009. Entah karena ramalan kiamat sudah tersebar, film ini berhasil menyedot jutaan penonton di seluruh dunia, dengan keuntungan mencapai 769 juta dolar lebih !
     Film ini sebenarnya bukan tentang kiamat dalam arti akhir semua kehidupan di muka bumi. Ia lebih tepat disebut film tentang bencana alam yang amat dasyat. Ceritanya merupakan gabungan antara fiksi ilmiah, mitos suku Maya, kepercayaan agama, dan drama keluarga. Jujur, saya sendiri terpukau menonton dan hanyut oleh efek visual dan suaranya. Diceritakan, bencana dahsyat itu, berawal dari temuan seorang ahli astrofisika asal India, Saratnam Tsunami, dan sahabatnya, Adrian Helmsley, seorang ahli geologi dan penasihat presiden Amerika.
     Mereka menemukan, netron-netron yang tersebar dari panas matahari yang massif meningkatkan panas inti bumi hingga memuci gempa dan tsunami besar-besaran. Di sisi lain, ada seorang penyiar radio yang berperilaku ganjil, Charlie Frost, yang percaya ramalan suku Maya. Ia juga berhasil mengumpulkan bukti-bukti bahwa para ilmuwan yang ingin membuka rahasia ini ke publik, tiba-tiba mati secara misterius. Ia juga tahu bahwa para pemimpin negara di dunia tengah menyiapkan armada penyelamat di Cho Ming, Tibet.
      Alur cerita bergerak bersama kisah keluarga seorang penulis miskin, Jackson Curtis, yang terpakasa menjadi sopir limosin seorang hartawan Rusia. Curtis bercerai dari istrinya, kate, dan memiliki dua anak. namun bencana mempertemukan mereka. Setelah berjuang mati-matian, mereka pun selamat, dan keluarga ini bersatu kembali. Selain itu, film ini cenderung pada gambaran banjir besar era Nabi Nuh, seperti yang dikenal dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam. Karena itu, armada penyelamat yang disiapkan bukan pesawat antariksa, melainkan kapal-kapal besar. Selain manusia dan karya-karya seni terkenal, seperti dalam kisah Nabi Nuh, aneka bintang di bumi juga turut diangkat.
     Ada ketegangan penting di film ini. Di satu sisi, ada pandangan pragmatis (dari pada mati semua, lebih baik sebagian selamat). Yang sebagian itu adalah para pejabat dan mereka yang sanggup membayar tiket kapal yang amat mahal. Di sisi lain, ada nilai persamaan derajad manusia. Ketegangan ini  akhirnya dimenangankan oleh kedua : kemanusiaan universal.
     Demikianlah, seperti cerita film 2012 yang berakhir bahagia, kehidupan di bumi kiranya tidak punah pada tahun ini. Apalagi, badan antariksa Amerika, NASA, menegaskan bahwa tidak akan ada bencana dahsyat seperti kiamat di tahun ini. Meski demikian, suatu saat nanti, kiamat pasti akan terjadi. Paling tidak, kita semua pasti akan menghadapi kiamat kecil : kematian.
Setelah off air ke bberapa kota (extra jos & XL).....nyantai dulu setelah birokrasi angpauSetelah off air ke bberapa kota (extra jos & XL).....nyantai dulu setelah birokrasi angpau

No comments:

Post a Comment