RUMPUT TETANGGA LEBIH CANTIK
TAK disangka tak dinyata Indonesia ketiban apes. Pesawat komersial Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) buatan Rusia yang sukses melakukan joy flight
atau semacam penerbangan perkenalan di beberapa negara, giliran tidak
enaknya terjadi di Indonesia. Pesawat ini nabarakpuncak Gunung Salak,
Bogor, pada ketinggian lebih 2.200 meter diatas permukaan laut, rabu,
Mei 2012. Jumlah penumpangnya masih simpang siur, tapi kurang lebih 40
orang terdiri atas undangan, pejabat maskapai penerbangan Indonesia,
staf Kedubes Rusia, tokoh masyarakat dan wartawan. Gegerlah Indonesia,
kita yang ketiban sial pun lintang pukang.
Tidak hanya di Indonesia, Sukhoi juga melakukan joy flight di beberapa negara sebagai promosi untuk pesawat komersialnya. Selama ini Sukhoi hanya membuat pesawat tempur dan Indonesia juga sudah memilikinya. Pesawat komersial pertama terbang 8 Mei 2008 dan kini sudah 170 an yang terjual. Dua maskapai Indonesia juga memesan, Sky Aviation 12 unit dan Kartika Airlines 30 unit. Indonesia, seperti negara lain, kini tengah mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi dan hubungan internasional ditambah booming tiket murah menyebabkan pergerakan manusia semakin cepat, tak bisa lagi alon-alon seperti dulu. Ini ditandai dengan pertumbuhan penumpang yang melonjak tajam. Tak bisa lain maskapai penerbangan harus menambah pesawat. Sukhoi melihat peluang ini.
Tapi sebenarnya bukan hanya industri pesawat terbang yang kini melirik Indonesia. Semua negara di dunia berkepentingan dengan Indonesia, karena dengan jumlah penduduk lebih 220 juta jiwa Indonesia adalah pasar potensial mereka. Semua memuji Indonesia. Menteri Luar Negeri Cina menganggap Indonesia sebagai sahabat yang baik lahir maupun batin. Bukan itu saja negara besar yang lain juga memuji Indonesia sebagai negara yang aman, teduh, rakyatnya ramah tamah dll. Perdana Menteri Inggeris Cameron bilang dalam hal pemberantasan korupsi, Indonesia menjadi pemimpin dunia.
Maklum mereka punya kepentingan. Produk Cina tak terbilang lagi disini, Congkel gigi saja mungkin berlogo Cina. Jepang menguasai industri otomotif dan menghancurkan impian Wali Kota Solo Joko Widodo untuk membangun sebuah mobil nasional yang dimulai dari produk SMK. Barang-barang elektronik semua label luar negeri. Wakil Presiden Budiono sendiri bilang, ekspor kita naik bukan dari inovasi, tapi dari sumber daya alam (sawir, minyak dll) yang tidak diolah dengan teknologi untuk meningkatkan nilai jual. Jadi hanya pemberian yang Mahakuasa tok, bukan hasil olah pikir.
Kemajuan mereka sudah jauh di awang-awang, kita terima 'bersihnya' saja, sebagai pasar barang dagangan mereka. Thailand melempar buah-buahan dalam jumlah besar ke Indonesia sampai-sampai petani buah kita mengeluh. Wortel yang di Indonesia bisa tumbuh subur pun sekarang kalah dengan wortel impor. Apel Amerika yang dipoles dengan lilin dan diawetkan dengan formalin pun tetep kita terima meski tidak segar lagi, bahkan tersa kapes-kapes. India mengirim daging kadaluwarsa, Belanda mengirim besi-besi bekas (baca=sampah) yang mengandung bahan berbahaya juga boleh. Singapura ? Dia numpang membuang sampahnya di perairan Indonesia dan kita senang berhubungan dengan Singapura.
Ini belum termasuk masuknya modal asing yang merambah keberbagai sektor ekonomi. Singapura membeli saham-saham di sini, Malaysia mengambil alih bank, membuka kebul kelapa sawit, membangun pompa-pompa bensin disini tapi menolak kita membangun pompa bensin yang sama disana. Amerika serikat ibarat pemilik tambang emas Freeport Papua, bule-bule jadi pengusaha mebel di Jepara, Jateng, dll. Bagaimana kita tidak disukai oleh negara asing, semua bebas masuk. Harus diakui, mereka memiliki etos kerja yang tinggi. Di Singapura misalnya, tidak terlihat orang berleha-leha, mereka berjalan begitu cepat. Eskalator (tangga berjalan) yang ada disini terlalu pelan untuk mereka sehingga kita disana harus setengah berlari.
Itu semua karena mereka tak mau kehilangan waktu. India dan China yang dulu miskin kini menjadi raksasa ekonomi, Jepang yang pernah di bom atom bangkit dalam waktu tidak terlalu lama, Malaysia yang dulu bergutu pada kita kini ganti kita minta tolong mereka. Korsel, Vietnam bahkan Kamboja juga bangkit. Bagaiman dengan kita ? Etos kerja yang rendah membuat banyak rencana tidak kesampaian. Kita takut defisit pun kita tidak bisa menggunakan sesuai rencana sehingga uangnya tak terpakai. Tidak ada proyek yang aman dari korupsi. Negiri yang kaya tapi rakyatnya miskin, penuh ketidakpastian. Indonesia di mata asing ibarat perempuan cantiki, sampai-sampai Rusia pun mengirim Sukhoi kesini. Itulah Indonesia, negeri impian para tetangga.
Tidak hanya di Indonesia, Sukhoi juga melakukan joy flight di beberapa negara sebagai promosi untuk pesawat komersialnya. Selama ini Sukhoi hanya membuat pesawat tempur dan Indonesia juga sudah memilikinya. Pesawat komersial pertama terbang 8 Mei 2008 dan kini sudah 170 an yang terjual. Dua maskapai Indonesia juga memesan, Sky Aviation 12 unit dan Kartika Airlines 30 unit. Indonesia, seperti negara lain, kini tengah mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi dan hubungan internasional ditambah booming tiket murah menyebabkan pergerakan manusia semakin cepat, tak bisa lagi alon-alon seperti dulu. Ini ditandai dengan pertumbuhan penumpang yang melonjak tajam. Tak bisa lain maskapai penerbangan harus menambah pesawat. Sukhoi melihat peluang ini.
Tapi sebenarnya bukan hanya industri pesawat terbang yang kini melirik Indonesia. Semua negara di dunia berkepentingan dengan Indonesia, karena dengan jumlah penduduk lebih 220 juta jiwa Indonesia adalah pasar potensial mereka. Semua memuji Indonesia. Menteri Luar Negeri Cina menganggap Indonesia sebagai sahabat yang baik lahir maupun batin. Bukan itu saja negara besar yang lain juga memuji Indonesia sebagai negara yang aman, teduh, rakyatnya ramah tamah dll. Perdana Menteri Inggeris Cameron bilang dalam hal pemberantasan korupsi, Indonesia menjadi pemimpin dunia.
Maklum mereka punya kepentingan. Produk Cina tak terbilang lagi disini, Congkel gigi saja mungkin berlogo Cina. Jepang menguasai industri otomotif dan menghancurkan impian Wali Kota Solo Joko Widodo untuk membangun sebuah mobil nasional yang dimulai dari produk SMK. Barang-barang elektronik semua label luar negeri. Wakil Presiden Budiono sendiri bilang, ekspor kita naik bukan dari inovasi, tapi dari sumber daya alam (sawir, minyak dll) yang tidak diolah dengan teknologi untuk meningkatkan nilai jual. Jadi hanya pemberian yang Mahakuasa tok, bukan hasil olah pikir.
Kemajuan mereka sudah jauh di awang-awang, kita terima 'bersihnya' saja, sebagai pasar barang dagangan mereka. Thailand melempar buah-buahan dalam jumlah besar ke Indonesia sampai-sampai petani buah kita mengeluh. Wortel yang di Indonesia bisa tumbuh subur pun sekarang kalah dengan wortel impor. Apel Amerika yang dipoles dengan lilin dan diawetkan dengan formalin pun tetep kita terima meski tidak segar lagi, bahkan tersa kapes-kapes. India mengirim daging kadaluwarsa, Belanda mengirim besi-besi bekas (baca=sampah) yang mengandung bahan berbahaya juga boleh. Singapura ? Dia numpang membuang sampahnya di perairan Indonesia dan kita senang berhubungan dengan Singapura.
Ini belum termasuk masuknya modal asing yang merambah keberbagai sektor ekonomi. Singapura membeli saham-saham di sini, Malaysia mengambil alih bank, membuka kebul kelapa sawit, membangun pompa-pompa bensin disini tapi menolak kita membangun pompa bensin yang sama disana. Amerika serikat ibarat pemilik tambang emas Freeport Papua, bule-bule jadi pengusaha mebel di Jepara, Jateng, dll. Bagaimana kita tidak disukai oleh negara asing, semua bebas masuk. Harus diakui, mereka memiliki etos kerja yang tinggi. Di Singapura misalnya, tidak terlihat orang berleha-leha, mereka berjalan begitu cepat. Eskalator (tangga berjalan) yang ada disini terlalu pelan untuk mereka sehingga kita disana harus setengah berlari.
Itu semua karena mereka tak mau kehilangan waktu. India dan China yang dulu miskin kini menjadi raksasa ekonomi, Jepang yang pernah di bom atom bangkit dalam waktu tidak terlalu lama, Malaysia yang dulu bergutu pada kita kini ganti kita minta tolong mereka. Korsel, Vietnam bahkan Kamboja juga bangkit. Bagaiman dengan kita ? Etos kerja yang rendah membuat banyak rencana tidak kesampaian. Kita takut defisit pun kita tidak bisa menggunakan sesuai rencana sehingga uangnya tak terpakai. Tidak ada proyek yang aman dari korupsi. Negiri yang kaya tapi rakyatnya miskin, penuh ketidakpastian. Indonesia di mata asing ibarat perempuan cantiki, sampai-sampai Rusia pun mengirim Sukhoi kesini. Itulah Indonesia, negeri impian para tetangga.
No comments:
Post a Comment