Monday, 16 February 2015

LATAH STADIUM 10

LATAH STADIUM 10

     ERA tahun 90 an kita masih banyak yang serba manual, contohnya mesin tik pada jaman kuliah akan mengerjakan laporan praktikum harus antri dan bersabar bergantian dengan teman, pada hal dalam pengerjaan laporan perlu pemikiran maka dengan keterbatasan fasilitas perlu putar otak untuk memberi kesempatan dengan teman yang sudah antri panjang, itu jaman nasib anak kos. tapi di era mesin tik sudah lama lewat, diganti era komputer dan ponsel. Kini bangsa kita bahkan menempati urutan atas sebagai pengguna jasa komunikasi maya.
     Di tingkat dunia, kita tercatat sebagai pengguna facebook terbesar kedua, dan pengguna twitter terbesar ketiga ! Tetapi tahukah Anda, para ahli komputer dan jaringan komunikasi maya yang bekerja di Yahoo, Google, Apple, Microsoft dan Hawlett Packard, justru lebih hati-hati terhadap teknologi yang mereka ciptakan. Mereka enggan menyekolahkan anak-anak mereka disekolah dasar yang menggunakan media komputer ! Itulah salah satu berita utama koran international Herald Tribune, 24 Oktober 2011 silam.
     Sejumlah pegawai perusahaan-perusahaan teknologi canggih itu justru memasukkan anak mereka di sekolah dasar swasta bernama Waldorf School. Ada 160 buah Waldorf School di Amerika Serikat. Sekolah ini tidak mau memakai komputer sebagai media pembelajaran. Mengapa ? Seorang pakar pendidikan, Paul L Thomas mengatakan, teknologi dapat menjadi penghambat, ketika kita mau menumbuhkan kemampuan baca-tulis, menghitung dan berpikir kritis anak. Bahkan, Pierre Laurent yang pernah bekerja di Intel dan Microsoft, mengatakan, teknologi dapat mengganggu hubungan akrab antara guru, siswa dan sesama temannya.
     Apakah mereka mengharamkan komputer dan posel pinter terhadap anak-anak mereka ? Ya, hingga usia sekolah dasar. Penggunaan teknologi itu hanya baik kalau mereka sudah dewasa. Tapi, bukankah cara menggunakan teknologi itu perlu diajarkan ? "Tidak perlu," kata mereka. Teknologi komputer dan ponsel akan semakin gampang digunakan, tanpa harus berguru.
      Di Wordoft School, semua media pembelajaran bersifat tradisional. Papan tulis dengan kapur warna-warni. Para siswa dikenalkan dengan alam lingkungan secara langsung, tidak dengan gambar. Anak-anak juga dilatih menulis indah dengan tangan. Ini untuk menghindari gejala umum sekarang, ketika tulisan tangan siswa makin jelek akibat penggunaan komputer. Sekarang, bandingkan dengan kecerdasan kita. Kita umumnya bangga, kalau anak-anak yang masih belia, sudah pandai mengutak-atik komputer.
     Bahkan sebagian kita memberikan posel canggih kepada anak-anak. Makin canggih ponselnya, makin bangga orangtuanya. Bagi orang seperti ini, ponsel bukan sekedar alat komunikasi, melainkan gaya dan gengsi. Belum hilang dari ingatan, 25 November 2011 silam, ribuan orang antri di Pacific Palace, Jakarta, hanya untuk mendapatkan diskon ponsel pintar, Blackberry Bellagio. Ponsel itu dijual dengan harga Rp 2,3 juta, setelah didiskon 50 persen. Jelas, harga inipun masih mahal, tapi ternyata banyak sekali yang mau beli. Akibatnya, puluhan orang pingsan dan terluka.
     Rupanya beginilah tingkat polah bangsa pengguna teknologi seperti kita. Pandainya hanya membeli hasil-hasil teknologi ciptaan bangsa lain. KIta tidak bisa  menciptakan lalu menjual teknologi baru kepada orang lain. Parahnya lagi, kita menjadi pemakai yang latah dan mabuk. Kita kurang kritis terhadap dampak-dampaknya.
     Kasus ini serupa dengan dokter yang paham akan kandungan kimiawi obat, sehingga mereka lebih berhati-hati dalam menggunakannya. Sebaliknya, orang awam justru sangat berani menelan obat. Jadi, kapan kita berhenti menjadi bangsa pengguna belaka.

No comments:

Post a Comment