BAKMI MBAH MO
BIASANYA
orang mencari warung makan yang memberikan pelayanan cepat, tempat
strategis, harga murah dan sebagianya. Kira-kira seperti 3M (Murah
Meriah Megah dan jgn sampai Murah Meriah Muntah) teori saya hahahah.
Namun keanehan terjadi saat kita membicarakan warung makan yang satu
ini. Mungkin warung ini menjadi salah satu pengecualian dari teori itu.
Betapa tidak, untuk mendapatkan satu porsi bakmi godog atau goreng kita
harus menempuh perjalanan yang sangat jauh (untuk ukuran sekedar mencari
makan, apa lagi soerang anak kost mahasiswa peranto seperti saya
...haahhaa) dan kalau pun sudah sampai lokasi kita harus menunggu lama
untuk dilayani.
Ya, Bakmi Mbah Mo. Nama yang sangat populer dikalangan pecinta kuliner. waktu mudik tak lupa saya menyempatkan diri untuk sekedar menikmati lezatnya bakmi jawa yang tidak pernah saya dapatkan saat di kotabaru kalimantan selatan (Borneo), tempat domisili saya sekarang.Bakmi Mbah Mo lokasinya cukup jauh, yakni sekitar 13 km dari pusat Kota Jogja. Lokasi tepatnya di Desa Code, Bantul. Rute yang saya sarankan jika anda ingin menuju lokasi adalah melawati jalan Parangtritis. Setelah menemui perempatan (traffic light) Manding ambil jalan ke arah barat (kanan) kemudian bertemu dengan perempatan jalan lingkar luar bantul, ambil arah ke utara (kanan) sampai menemui Desa Code.
Setelah ketemu plang Warung Bakmi Mbah Mo, anda harus belok kekanan masuk Desa Code sekitar 100 m. Menurut pengamatan saya, cukup mudah mengikuti arah sesuai petunjuk plang. Namun apabila masih kesulitan,anda bisa bertanya ke penduduk setempat. Menurut informasi, warung bakmi ini memulai aktivitasnya pukul 5 sore. Tepat pukul 5 lewat 20 menit sore itu saya sampai lokasi. Saya sengaja memilih waktu lebih awal dengan harapan warung masih belum ramai sehingga saya tidak perlu antri lama. Sesampai di lokasi, sudah ada 5 mobil dengan plat nomor luar jogja terparkir rapi di tempat parkir, ditambah beberapa sepeda motor.
Yang empunya warung sudah mulai sibuk denganaktivitasnya melayani pembeli. Kita dipersilahkan menulis makanan dan minuman yang ingin kita pesan dalam secarik kertas yang sudah disiapkan, lalu diserahkan kepelayan. Tak perlu bertanya menu apa saja yang tersedia, kita bisa membacanya di spanduk besar yang menempel di dinding ruangan. Sayapun menyerahkan catatan pesanan sambil bertanya, "antri pinten Pak ?, (antri berapa pak ?). "tigo welas (tiga belas), mas ". Hmmmmm....bakalan satu jam menunggu, pikir saya.
Meskipun lokasinya sangat jauh, bahkan boleh dibilang masuk desa, bahkan konon tempatnya dulu dekat kandang sapi (pengamatan saya sekarang kandang sapi sudah tidak ada lagi hehehehe), namun, Warung Bakmi Mbah Mo tak pernah sepi pengunjung, dan itu hampir tiap hari. Pengunjung kebanyakan berasal luar kota, seperti sore itu waktu saya lihat plat mobil yang parkir. Ada plat B, H, AD, namun ada juga yang berasal dari Jogja (mungkin saya yang paling jauh, deket orang sendiri tapi perantau borneo....hahahahah).
Disamping tempatnya yang jauh, untuk menikmati sepiring bakmi di warung ini, anda juga harus siap antri. Kenapa demikian ? Karena bakmi di warung ini dimasak satu persatu dengan menggunakan api dari arang dengan tungku yang disebut anglo, jadi pasti memakan waktu lama. Tapi itulah seninya. Sore itu saya harus menunggu 45 menit untuk mendapatkan seporsi bakmi godog atau kuah/rebus. (menunggu antrian 23 porsi). Makin malam warung ini semakin ramai dan antrian semakin panjang. saya menyaksikan sendiri saat satu rombongan pengunjung datang akhirnya memilih membatalkan pesanan karena melihat nomor antrian dimana harus menunggu hingga 30 porsi lagi. Untuk seporsi dan teh tawar panas, saya cukup membayar Rp. 14.000,- Harga yang menurut saya cukup terjangkau apa lagi saya mantan nasib anak kost apa lagi dibandingkan di borneo bisa 2x lipatnya harga tersebut.
Saat saya keluar dari warung, masih banyak mobil luar kota yang berdatangan. Begitulah, di sebuah sudut desa Bantul, sebuah harmoni tercipta. Warung klangenan yang menyimpan beberapa keunikan yang tak akan anda temukan di tempat lain. Dan saya yakin jika anda sudah pernah merasakannya pasti akan ketagihan, meski harus menunggu 2 jam sekalipun hehehehe. Selamat mencoba.

Ya, Bakmi Mbah Mo. Nama yang sangat populer dikalangan pecinta kuliner. waktu mudik tak lupa saya menyempatkan diri untuk sekedar menikmati lezatnya bakmi jawa yang tidak pernah saya dapatkan saat di kotabaru kalimantan selatan (Borneo), tempat domisili saya sekarang.Bakmi Mbah Mo lokasinya cukup jauh, yakni sekitar 13 km dari pusat Kota Jogja. Lokasi tepatnya di Desa Code, Bantul. Rute yang saya sarankan jika anda ingin menuju lokasi adalah melawati jalan Parangtritis. Setelah menemui perempatan (traffic light) Manding ambil jalan ke arah barat (kanan) kemudian bertemu dengan perempatan jalan lingkar luar bantul, ambil arah ke utara (kanan) sampai menemui Desa Code.
Setelah ketemu plang Warung Bakmi Mbah Mo, anda harus belok kekanan masuk Desa Code sekitar 100 m. Menurut pengamatan saya, cukup mudah mengikuti arah sesuai petunjuk plang. Namun apabila masih kesulitan,anda bisa bertanya ke penduduk setempat. Menurut informasi, warung bakmi ini memulai aktivitasnya pukul 5 sore. Tepat pukul 5 lewat 20 menit sore itu saya sampai lokasi. Saya sengaja memilih waktu lebih awal dengan harapan warung masih belum ramai sehingga saya tidak perlu antri lama. Sesampai di lokasi, sudah ada 5 mobil dengan plat nomor luar jogja terparkir rapi di tempat parkir, ditambah beberapa sepeda motor.
Yang empunya warung sudah mulai sibuk denganaktivitasnya melayani pembeli. Kita dipersilahkan menulis makanan dan minuman yang ingin kita pesan dalam secarik kertas yang sudah disiapkan, lalu diserahkan kepelayan. Tak perlu bertanya menu apa saja yang tersedia, kita bisa membacanya di spanduk besar yang menempel di dinding ruangan. Sayapun menyerahkan catatan pesanan sambil bertanya, "antri pinten Pak ?, (antri berapa pak ?). "tigo welas (tiga belas), mas ". Hmmmmm....bakalan satu jam menunggu, pikir saya.
Meskipun lokasinya sangat jauh, bahkan boleh dibilang masuk desa, bahkan konon tempatnya dulu dekat kandang sapi (pengamatan saya sekarang kandang sapi sudah tidak ada lagi hehehehe), namun, Warung Bakmi Mbah Mo tak pernah sepi pengunjung, dan itu hampir tiap hari. Pengunjung kebanyakan berasal luar kota, seperti sore itu waktu saya lihat plat mobil yang parkir. Ada plat B, H, AD, namun ada juga yang berasal dari Jogja (mungkin saya yang paling jauh, deket orang sendiri tapi perantau borneo....hahahahah).
Disamping tempatnya yang jauh, untuk menikmati sepiring bakmi di warung ini, anda juga harus siap antri. Kenapa demikian ? Karena bakmi di warung ini dimasak satu persatu dengan menggunakan api dari arang dengan tungku yang disebut anglo, jadi pasti memakan waktu lama. Tapi itulah seninya. Sore itu saya harus menunggu 45 menit untuk mendapatkan seporsi bakmi godog atau kuah/rebus. (menunggu antrian 23 porsi). Makin malam warung ini semakin ramai dan antrian semakin panjang. saya menyaksikan sendiri saat satu rombongan pengunjung datang akhirnya memilih membatalkan pesanan karena melihat nomor antrian dimana harus menunggu hingga 30 porsi lagi. Untuk seporsi dan teh tawar panas, saya cukup membayar Rp. 14.000,- Harga yang menurut saya cukup terjangkau apa lagi saya mantan nasib anak kost apa lagi dibandingkan di borneo bisa 2x lipatnya harga tersebut.
Saat saya keluar dari warung, masih banyak mobil luar kota yang berdatangan. Begitulah, di sebuah sudut desa Bantul, sebuah harmoni tercipta. Warung klangenan yang menyimpan beberapa keunikan yang tak akan anda temukan di tempat lain. Dan saya yakin jika anda sudah pernah merasakannya pasti akan ketagihan, meski harus menunggu 2 jam sekalipun hehehehe. Selamat mencoba.

No comments:
Post a Comment