MANUSIA SETENGAH DEWA
'WAHAI
presiden kami yang baru. Kamu harus dengar suara ini. Suara yang keluar
dari dalam goa. Goa yang penuh lumut kebosanan. Turunkan harga
secepatnya. Berikan kami pekerjaan. Tegakkan hukum setegak-tegaknya.
Pasti kuangkat engkau, menjadi manusia setengah dewa." Itulah cuplikan
lirik lagu Iwan Fals, Manusia Setengah Dewa, yang dirilis 2004 silam. Mungkin karena saya generasi yang kuliah di era 1992-an, saya termasuk penggemar Iwan.
Saya suka kritik-kritik msosialnya. Lagu-lagu cintanya juga menyentuh, walau terkesan terlalu macho. Misalnya, kala mengetahui dirinya diduakan sang kekasih, ia masih bernyanyi; " Aku lelaki, bukan untuk dipilih ". Karya seni seperti lagu, musik, puisi, novel, lukisan, film, drama, komedi dan sebagianya, hanya akan menyentuh khalayak jika ia berhasil mewadahi pengalaman manusia.
Karya seni yang menganggumkan biasanya adalah perpaduan antara fakta dan fiksi, antara kenyataan dan harapan. Karena itu, lagu Iwan Fals diatas, adalah cermin dari kenyataan sekaligus angan-angan sosial di negeri ini. Lagu itu memberi gambaran tentang harapan besar akan tampilnya seorang pemimpin, yang dapat mengubah kenyataan pahit menjadi manis, seorang pahlawan sejati, yang membebaskan rakyat dari genggaman kemiskinan, kebodohan dan penindasan. Inilah impian tentang kedatangan 'Ratu Adil' atau 'Imam Mahdi', sang penyelamat umat manusia dari segala angkara murka.
Biasanya, impian indah semacam itu muncul dalam masyarakat yang tengah mengalami krisis hebat. Padahal, sejarah telah menunjukkan, seringkali seorang pemimpin yang semula diimpikan rakyat sebagai pahlawan pujaan, setelah berkuasa, ia ternyata tidak berbeda jauh dari para pemimpin sebelumnya. Ia gagal menciptakan kemakmuran, bahkan jatuh menjadi koruptor dan diktator.
Karena itu, kita perlu merenung ulang tentang impian berlebihan kepada seorang pemimpin. Sudah saatnya kita berpikir terbalik; setiap pemimpin adalah cermin dari rakyatnya. Dalam masyarakat yang disiplin, jujur dan suka kerja keras, tentu akan lahir pemimpin dengan sifat-sifat tersebut. Sebaliknya, dalam suatu kelompok pencuri, pemimpinnya tentu orang yang paling ahli mencuri.
Perhatikanlah pemilukada yang berlangsung dimana-mana di tanah air. Kita dapat menyaksikan bagaimana para calon itu bertanding. Di permukaan, mereka tampak bersaing dalam menawarkan aneka program untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi di balik layar, para penyangdang dana berkeliaran, dan tim sukses membagi rupa-rupa hadiah kepada tokoh-tokoh masyarakat hingga rakyat jelata.
Semua permainan ini sudah kita maklumi bersama. Lalu, jika kita memilih seseorang menjadi pemimpin karena dia telah memberi kita tiket umrah gratis, membantu pembangunan masjid, menghadiahi kaus, sarung dan jilbab, serta membagi uang tunai, patutkah kita berharap, kelak setelah terpilih, ia akan melayani dan mengabdi pada kepentingan rakyat ? Tentu saja tidak !.
Nyatanya, setelah dia berkuasa, kita seolah lupa dengan segala macam pemberiannya yang dulu kita terima itu. Kita masih saja menuntutnya agar berlaku jujur, adil dan peduli pada kepentingan rakyat. Kita menggerutu ketika mengetahui dia korupsi. Kita jengkel karena dia ingkar pada janji-janji pemilu yang dulu dia ucapkan. Padahal, kita sendilah yang tururt serta membuatnya menjadi demikian.
Orang bilang, suara rakyat bisa dibeli karena mereka masih miskin. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Kalau kita amati, kebanyakan orang yang terlibat permainan kotor dalam pemilu bukanlah rakyat miskin yang bodoh, melainkan orang-orang berduit, tokoh masyarakat dan kaum terpelajar. Merekalah sebenarnya orang-orang yang sangat menentukan hitam-putihnya suatu pemilu.
Alhasil, kita jangan hanya pandai menyalahkan pemimpin, tetapi lupa mengkritik diri sendiri. Kita bukan hanya perlu pemimpin yang baik, tetapi juga rakyat yang baik. Jika rakyat baik, maka kita tidak perlu lagi mencari manusia setengah dewa untuk memimpin kita sebaliknya, dalam kondisi sekarang, mungkin yang kita perlukan justru menjadi rakyat setengah dewa !.

Saya suka kritik-kritik msosialnya. Lagu-lagu cintanya juga menyentuh, walau terkesan terlalu macho. Misalnya, kala mengetahui dirinya diduakan sang kekasih, ia masih bernyanyi; " Aku lelaki, bukan untuk dipilih ". Karya seni seperti lagu, musik, puisi, novel, lukisan, film, drama, komedi dan sebagianya, hanya akan menyentuh khalayak jika ia berhasil mewadahi pengalaman manusia.
Karya seni yang menganggumkan biasanya adalah perpaduan antara fakta dan fiksi, antara kenyataan dan harapan. Karena itu, lagu Iwan Fals diatas, adalah cermin dari kenyataan sekaligus angan-angan sosial di negeri ini. Lagu itu memberi gambaran tentang harapan besar akan tampilnya seorang pemimpin, yang dapat mengubah kenyataan pahit menjadi manis, seorang pahlawan sejati, yang membebaskan rakyat dari genggaman kemiskinan, kebodohan dan penindasan. Inilah impian tentang kedatangan 'Ratu Adil' atau 'Imam Mahdi', sang penyelamat umat manusia dari segala angkara murka.
Biasanya, impian indah semacam itu muncul dalam masyarakat yang tengah mengalami krisis hebat. Padahal, sejarah telah menunjukkan, seringkali seorang pemimpin yang semula diimpikan rakyat sebagai pahlawan pujaan, setelah berkuasa, ia ternyata tidak berbeda jauh dari para pemimpin sebelumnya. Ia gagal menciptakan kemakmuran, bahkan jatuh menjadi koruptor dan diktator.
Karena itu, kita perlu merenung ulang tentang impian berlebihan kepada seorang pemimpin. Sudah saatnya kita berpikir terbalik; setiap pemimpin adalah cermin dari rakyatnya. Dalam masyarakat yang disiplin, jujur dan suka kerja keras, tentu akan lahir pemimpin dengan sifat-sifat tersebut. Sebaliknya, dalam suatu kelompok pencuri, pemimpinnya tentu orang yang paling ahli mencuri.
Perhatikanlah pemilukada yang berlangsung dimana-mana di tanah air. Kita dapat menyaksikan bagaimana para calon itu bertanding. Di permukaan, mereka tampak bersaing dalam menawarkan aneka program untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi di balik layar, para penyangdang dana berkeliaran, dan tim sukses membagi rupa-rupa hadiah kepada tokoh-tokoh masyarakat hingga rakyat jelata.
Semua permainan ini sudah kita maklumi bersama. Lalu, jika kita memilih seseorang menjadi pemimpin karena dia telah memberi kita tiket umrah gratis, membantu pembangunan masjid, menghadiahi kaus, sarung dan jilbab, serta membagi uang tunai, patutkah kita berharap, kelak setelah terpilih, ia akan melayani dan mengabdi pada kepentingan rakyat ? Tentu saja tidak !.
Nyatanya, setelah dia berkuasa, kita seolah lupa dengan segala macam pemberiannya yang dulu kita terima itu. Kita masih saja menuntutnya agar berlaku jujur, adil dan peduli pada kepentingan rakyat. Kita menggerutu ketika mengetahui dia korupsi. Kita jengkel karena dia ingkar pada janji-janji pemilu yang dulu dia ucapkan. Padahal, kita sendilah yang tururt serta membuatnya menjadi demikian.
Orang bilang, suara rakyat bisa dibeli karena mereka masih miskin. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Kalau kita amati, kebanyakan orang yang terlibat permainan kotor dalam pemilu bukanlah rakyat miskin yang bodoh, melainkan orang-orang berduit, tokoh masyarakat dan kaum terpelajar. Merekalah sebenarnya orang-orang yang sangat menentukan hitam-putihnya suatu pemilu.
Alhasil, kita jangan hanya pandai menyalahkan pemimpin, tetapi lupa mengkritik diri sendiri. Kita bukan hanya perlu pemimpin yang baik, tetapi juga rakyat yang baik. Jika rakyat baik, maka kita tidak perlu lagi mencari manusia setengah dewa untuk memimpin kita sebaliknya, dalam kondisi sekarang, mungkin yang kita perlukan justru menjadi rakyat setengah dewa !.

No comments:
Post a Comment